Semua Karena Cinta, Kita Bukan Pewaris Amarah

  • Whatsapp

PELAKITA.ID – Seperti tubuh yang terluka, bangsa ini berulang kali dipukul nasib. Luka itu datang bukan hanya dari musuh di luar, tetapi dari penguasa yang abai di dalam.

Mereka duduk di kursi kekuasaan, tetapi lupa bahwa kursi itu terbuat dari kayu penderitaan rakyat. Rakyat pun menjerit. Kadang jerit itu berubah menjadi amarah, kadang meledak menjadi api di jalanan, ban terbakar, kaca pecah, dan gas air mata yang menyesakkan dada.

Namun, apakah bangsa ini hanya akan terus bicara dalam bahasa amarah? Haruskah kita saling membakar ketika yang kita rindukan sebenarnya adalah pelukan?

Rumi pernah menulis: “Amarah adalah angin yang memadamkan pelita akal. Cinta adalah cahaya yang membuat segala sesuatu tampak.”

Kita melihat betapa amarah rakyat, bila tanpa cinta, hanya akan memadamkan cahaya yang seharusnya menuntun. Kita pun jadi buta arah.

Padahal asal-usul manusia bukanlah api, melainkan tanah yang lembut, yang dihidupkan oleh tiupan ruh. Dari tanah kita lahir, dalam pelukan cinta Tuhan.

Maka sesungguhnya kita bukan pewaris amarah, melainkan pewaris kasih. Kekhalifahan manusia di bumi bukanlah untuk menindas, melainkan menjaga.

Tetapi betapa sering penguasa lupa. Mereka menukar cinta dengan kuasa, menukar kasih dengan angka-angka. Maka rakyat pun terpaksa berteriak.

Marah memang wajar. Tetapi Rumi berbisik lagi: “Di balik setiap amarah, ada luka. Dan di balik setiap luka, ada kerinduan akan cinta.” Maka barangkali amarah rakyat hanyalah bahasa lain dari cinta yang diabaikan. Mereka marah karena mereka mencintai tanah air ini. Mereka berteriak karena mereka ingin bangsa ini tidak hancur.

Seandainya cinta hadir, marah tak harus membakar. Cinta adalah air yang menyejukkan, yang bisa meluruhkan api sebelum ia menjalar. Cinta adalah angin lembut yang mengeringkan air mata, bukan gas air mata yang memaksa rakyat menangis.

Dialog adalah jalan menuju cinta. Tetapi kita sering memilih jalan pintas: saling menghardik. Padahal yang kita butuhkan hanyalah duduk bersama, saling mendengar, saling mengakui.

Seperti pesan Nabi Muhammad SAW: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” Pemimpin adalah pelayan, bukan penguasa yang berdiri jauh di menara.

Rakyat adalah suara, bukan sekadar angka. Jika keduanya bertemu dalam cinta, bangsa akan teguh. Jika keduanya dipisahkan oleh amarah, bangsa hanya akan rapuh.

Kita pernah merdeka karena cinta. Cinta para pejuang kepada tanah air, cinta para ibu kepada anak-anaknya yang dikorbankan di medan perang, cinta yang lebih besar daripada ketakutan. Tanpa cinta, proklamasi hanyalah kata-kata kosong.

Kini, di tengah zaman yang gaduh, kita diminta kembali pada cinta itu. Bukan cinta yang lemah, tetapi cinta yang berani. Cinta yang sanggup menegur penguasa, tetapi tetap mengingat bahwa mereka pun manusia. Cinta yang berani turun ke jalan, tetapi tahu bahwa api sejati bukanlah api ban terbakar, melainkan api kesadaran.

Rumi berkata: “Biarkan diri ini lembut, karena dunia telah terlalu keras. Biarkan diri ini penuh cinta, karena dunia telah terlalu penuh amarah.”

Bangsa ini akan bertahan bukan karena kita paling keras berteriak, tetapi karena kita paling dalam mencintai. Bukan karena kita pandai membakar, tetapi karena kita sanggup menyalakan cahaya.

Maka penguasa, belajarlah mencintai rakyatmu. Dan rakyat, marahlah dengan cinta, bukan dengan benci. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya seberapa keras kita berteriak, melainkan seberapa jauh kita mencintai.

Dan ketika cinta menjadi bahasa bersama, api akan reda, air mata akan kering, angin akan membawa kesejukan. Sebab cinta Tuhan, yang sejak awal melahirkan kita, adalah sumber segalanya. Termasuk mencintai dan merawat negeri ini.

Penulis: Muliadi Saleh, motivator, penggerak literasi kebudayaan