PELAKITA.ID – Kate Raworth, ekonom asal Inggris yang lahir pada 1970, telah mengubah cara dunia memandang ekonomi dan pembangunan.
Ia dikenal luas berkat konsep Doughnut Economics atau Ekonomi Donat yang revolusioner, yang menantang ketergantungan pada pertumbuhan PDB semata dan menawarkan model yang menyeimbangkan kesejahteraan manusia dengan batas-batas ekologi planet bumi.
Latar belakang akademiknya di bidang Politik, Filsafat, Ekonomi, dan Ekonomi Pembangunan di Universitas Oxford membentuk cara pandangnya tentang ketimpangan global dan krisis lingkungan.
Pengalaman kerjanya di UNDP dan Oxfam membuatnya melihat langsung persoalan kemiskinan dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Pada 2012, Raworth memperkenalkan gagasan tentang “ruang aman dan adil bagi umat manusia,” yang kemudian ia tuangkan lebih lengkap dalam buku Doughnut Economics: Seven Ways to Think Like a 21st-Century Economist (2017).
Inti dari Ekonomi Donat digambarkan melalui visual sederhana berbentuk donat.
Lingkaran dalam mewakili fondasi sosial—standar minimum yang harus dipenuhi agar semua orang hidup layak, seperti akses pangan, pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan.
Lingkaran luar mewakili batas ekologi—batas planet yang tidak boleh dilampaui manusia, seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.
Di antara kedua batas ini terdapat “ruang aman dan adil bagi manusia,” tempat masyarakat dapat hidup sejahtera tanpa merusak bumi.
Raworth juga merumuskan tujuh cara berpikir sebagai ekonom abad ke‑21, seperti mengubah tujuan ekonomi dari sekadar pertumbuhan menjadi kesejahteraan bersama, memahami ekonomi sebagai bagian dari sistem sosial dan lingkungan, serta merancang ekonomi yang bersifat distributif dan regeneratif, bukan eksploitatif.
Pengaruh Ekonomi Donat meluas hingga ke dunia nyata. Beberapa kota, seperti Amsterdam, Kopenhagen, dan Brussel, telah mengadopsinya sebagai pedoman perencanaan kota berkelanjutan.
Bahkan kota kecil Tomelilla di Swedia menjadikannya panduan tata kelola dan pendidikan lokal, membuktikan bahwa konsep ini dapat diterapkan di mana saja.
Bagi Indonesia, kerangka pikir ini sangat relevan. Sebagai negara kaya sumber daya alam tetapi menghadapi degradasi lingkungan, ketimpangan sosial, dan praktik pembangunan yang sering tidak berkelanjutan, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana membangun ekonomi tanpa menguras sumber daya bumi. Lingkaran dalam dari “donat” sejalan dengan agenda
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Indonesia, mulai dari pengentasan kemiskinan, peningkatan kesehatan dan pendidikan, hingga pemerataan sosial.
Sementara itu, lingkaran luarnya berkaitan erat dengan kebutuhan mendesak untuk melindungi hutan, memulihkan mangrove, serta mengatasi polusi laut dan perubahan iklim.
Berbagai inisiatif, seperti budidaya udang berkelanjutan di Kepulauan Riau, restorasi mangrove berbasis masyarakat, hingga pengembangan usaha sosial di desa-desa, mencerminkan prinsip yang diusung Raworth—yakni menciptakan peluang ekonomi yang sekaligus memulihkan alam dan memberdayakan masyarakat lokal.
Namun, penerapan Ekonomi Donat di Indonesia memerlukan perubahan mendasar.
Bukan sekadar menyesuaikan kebijakan, tetapi menjadikan keberlanjutan dan keadilan sebagai inti dari tata kelola negara, model bisnis, hingga gerakan masyarakat.
Raworth menegaskan bahwa ekonomi regeneratif dan distributif harus ditanamkan dalam “DNA” organisasi—dari tujuan, tata kelola, kepemilikan, hingga pembiayaan.
Jika mampu mengintegrasikan ide-ide ini dalam strategi nasional maupun lokal, Indonesia berpotensi menjadi teladan global dalam pembangunan yang menyeimbangkan kesejahteraan manusia dengan kelestarian alam.
Alih-alih mengejar pertumbuhan tanpa batas, Indonesia bisa berfokus pada kemakmuran yang berkelanjutan—memastikan semua warga hidup layak tanpa melampaui daya dukung bumi.
Warisan terbesar Kate Raworth adalah visi tentang ekonomi yang melayani manusia sekaligus menghormati alam. Bagi Indonesia, Ekonomi Donat bukan hanya teori, tetapi panduan praktis menuju masa depan yang lebih adil, hijau, dan tangguh.
Sumber Internet (dari berbagai sumber)
