Membelenggu Setan-Setan Pangan, Mengoplos itu Keji dan Munkar

  • Whatsapp
Ilustrasi seorang aparat penegak hukum menghentikan aksi monster pengoplos. Hajar pak!

Oleh Muliadi Saleh

PELAKITA.ID Di negeri yang dikenal sebagai lumbung padi, aroma nasi seharusnya menjadi doa yang naik ke langit. Namun belakangan, doa itu ternoda oleh kabar yang menusuk nurani: praktik pengoplosan beras yang terbongkar dari balik karung-karung putih.

Di sebuah pasar tradisional di Jawa Barat, seorang pedagang kecil mengeluh lirih. “Saya sendiri kaget, Pak… beras yang saya beli dari distributor ternyata dioplos dengan beras entah dari mana,” ujarnya. Suaranya bergetar—antara malu dan marah. Di tangan pedagang seperti inilah beras itu sampai ke tangan ibu-ibu yang percaya penuh pada label “premium” yang tertera rapi di kemasan.

Modus Gelap di Balik Label Cantik

Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, modus operandi para pelaku adalah mengemas ulang beras curah dengan label premium. Tak hanya itu, isi kemasan pun dikurangi. “Yang seharusnya 5 kilogram, ternyata hanya 4,5 kilogram,” ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (16/7/2025).

Amran menggambarkan penipuan itu dengan perumpamaan tajam: “Ibaratnya emas 24 karat, sebenarnya ini 18 karat tapi dijual 24 karat. Jadi, harga yang naik, bukan kualitas.” Dari 212 merek yang diperiksa, 26 di antaranya mengakui kecurangan. Beberapa produsen mulai menarik produknya dan menyesuaikan harga. Tapi luka di kepercayaan publik tak mudah sembuh.

Angka yang Membuat Ngeri

Kerugian masyarakat akibat pengoplosan ini ditaksir mencapai Rp99 triliun per tahun. Jika praktik ini berlangsung bertahun-tahun, bisa dibayangkan betapa besar kejahatan yang menggerogoti lumbung pangan kita.

Lebih menyakitkan lagi, beras program SPHP—beras bersubsidi untuk rakyat kecil—ikut dioplos dan dijual ulang sebagai beras premium.

Kecurigaan menguat saat harga gabah di tingkat petani turun, namun harga beras di pasaran justru melambung. Padahal, data BPS menunjukkan produksi beras naik 14 persen dengan surplus 3 juta ton.

Sesuatu jelas tak beres. Investigasi di 10 provinsi terhadap 268 merek di 13 laboratorium mengungkap fakta pahit: sekitar 85 persen beras curah yang beredar tidak memenuhi standar mutu.

Di sebuah gudang di pinggiran Karawang, petugas mendapati karung-karung beras curah yang dicampur kualitas rendah dan dikemas ulang dengan merek terkenal.

Truk-truk keluar masuk di malam hari, menyebarkan “beras premium” palsu ke pasar-pasar besar. Para buruh harian, tanpa sadar, menjadi bagian dari rantai kejahatan. “Kami hanya mengemas, Bang…,” bisik seorang buruh, takut.

Mengoplos Itu Perbuatan Setan

Ini bukan sekadar pelanggaran dagang. Ini adalah pengkhianatan terhadap butiran suci yang tumbuh dari peluh petani. Al-Qur’an telah memberi peringatan keras:

“Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”
(QS. Al-Muthaffifin: 1–3)

“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka…”
(QS. Al-A‘raf: 85)

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golongan kami.”
(HR. Muslim)

Dan lagi:

“Siapa yang menipu kaum Muslimin dalam urusan makanan atau minuman, maka Allah akan memberinya minum dari nanah penghuni neraka pada hari kiamat.”
(HR. Ibn Majah – hasan menurut Al-Albani)

Tidakkah hati kita bergetar mendengar peringatan itu?

Mengoplos adalah perbuatan setan: memakan hak orang lain, merusak niat suci, mengotori rezeki. Ketika petani bekerja di bawah terik matahari, mereka tak membayangkan padi mereka dicampur demi laba gelap.

Ketika ibu-ibu menanak nasi, mereka tak menyangka bahwa doa yang mereka ucapkan berubah menjadi butir-butir kebohongan.

Bangun Kesadaran, Jangan Diam

Kita harus bersuara. Negara wajib bertindak tegas—bukan hanya menyebut merek-merek curang, tapi menutup semua celah. Penegak hukum tak boleh lunak. Hukuman berat harus dijatuhkan. Kita sebagai konsumen juga mesti waspada: timbang sendiri, cek label, cermati tekstur beras.

Beras bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol kesucian rezeki, inti kehidupan di negeri hijau ini. Jangan biarkan ia ternoda oleh kerakusan. Jangan biarkan setan meracuni lumbung padi kita.

Mengoplos adalah perbuatan setan. Dan kita, sebagai bangsa, tak boleh ikut tertidur.

Kita mendukung penuh langkah pemerintah dan semua pihak yang bersungguh-sungguh memberantas kecurangan dan culas dalam tata niaga pangan.

Editor Denun