Sebagai contoh bentuk tekanan Trump pada tarif 32 persen untuk komoditas ekspor Indonesia dan bisa saja menekan Indonesia dan akan direspon berbeda oleh anggota lain, tapi Indonesia pasti akan kena getahnya, karena dia bagian dari BRICS
PELAKITA.ID – Keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS—sebuah kelompok kerja sama negara berkembang yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, dan kini tengah berkembang dengan masuknya negara-negara seperti Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab—menandai arah baru dalam kebijakan luar negeri Indonesia.
Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Poppy Sulistyaning Winanti, memandang langkah ini sebagai upaya untuk meningkatkan daya tawar Indonesia, khususnya terhadap negara-negara Barat.
Disebutkan Poppy, dengan bergabung ke dalam blok yang menawarkan jalur alternatif dalam pembangunan dan kerja sama internasional, Indonesia berupaya memperluas jejaring kemitraan global di tengah ketidakpastian dalam institusi-institusi internasional yang didominasi Barat.
Hal senada disampaikan ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, yang menekankan pentingnya kejelasan posisi Indonesia pasca-bergabung.
Menurutnya, pemerintah perlu menyampaikan sikap dan arah kebijakan luar negerinya secara terbuka agar tidak menimbulkan salah persepsi di kalangan mitra tradisional dan tetap menjaga kredibilitas di level internasional.
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno melihat keanggotaan Indonesia dalam BRICS sebagai peluang strategis untuk meningkatkan pengaruh Indonesia di tingkat global. Ia menilai bahwa bergabungnya Indonesia ke dalam blok ini menunjukkan makin diakuinya peran Indonesia dan sekaligus memperkuat prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dianut.
Demi keseimbangan diplomatik?
BRICS menjadi wadah bagi Indonesia untuk mengambil peran kepemimpinan di antara negara-negara berkembang, mendorong tata kelola global yang lebih inklusif, dan mengakses jalur keuangan serta perdagangan alternatif.
Namun demikian, semua potensi keuntungan ini hanya dapat terwujud jika Indonesia mampu menjaga keseimbangan diplomatik secara cermat antara komitmen dalam BRICS dan kemitraan yang telah lama terjalin dengan negara-negara Barat.
Dalam konteks perubahan tatanan global yang semakin memberi ruang bagi kekuatan-kekuatan dari belahan selatan dunia, langkah ini memang menunjukkan kombinasi antara keberanian, kepentingan nasional, dan penyesuaian terhadap realitas baru.
Salah satu keuntungan utama dari keikutsertaan Indonesia dalam BRICS adalah terbukanya ruang untuk memperluas hubungan internasional secara lebih seimbang.
Dengan tidak hanya menggantungkan diri pada institusi-institusi keuangan dan politik yang didominasi negara-negara Barat seperti IMF, Bank Dunia, atau G7, Indonesia berupaya memperkuat kemandirian dan kebebasan dalam menentukan arah pembangunan dan kebijakan luar negerinya.
Secara ekonomi, keanggotaan ini membuka peluang akses pembiayaan dari lembaga keuangan seperti New Development Bank (NDB), yang selama ini dikenal memberikan pinjaman dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan ramah terhadap kebutuhan negara berkembang.
Hubungan perdagangan dan investasi dengan negara-negara seperti Tiongkok, India, dan Brasil juga berpotensi meningkat, baik dari segi volume maupun ragam komoditas dan sektor yang dijajaki.
Selain itu, wacana penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bisa menjadi langkah menuju stabilitas ekonomi yang lebih tahan terhadap guncangan global.
Namun, manfaat keanggotaan BRICS tak hanya berhenti pada aspek ekonomi. Bagi Indonesia, ini adalah peluang untuk mempererat kerja sama Selatan-Selatan—kerja sama antarnegara berkembang—dalam bidang teknologi, pertanian, dan pembangunan infrastruktur.
Tak kalah penting, terbuka pula peluang kolaborasi di bidang budaya dan pendidikan yang memperkaya hubungan antarbangsa di luar kerangka ekonomi semata.
Secara simbolis, keterlibatan Indonesia dalam BRICS memperkuat citra positif sebagai negara berkembang yang berpengaruh dan disegani.
Sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia bisa memainkan peran sebagai penghubung antara kawasan ASEAN dengan dunia yang lebih luas, khususnya dalam upaya mendorong tatanan global yang lebih adil dan setara.
Risiko pun ada
Namun, langkah ini juga mengandung risiko yang perlu diwaspadai. Secara diplomatik, Indonesia bisa saja dipersepsikan condong ke salah satu kutub kekuatan global, terutama jika kerja sama dengan negara-negara seperti Tiongkok atau Rusia dinilai terlalu erat.
Hal ini bisa memengaruhi hubungan strategis yang selama ini telah terjalin baik dengan Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Uni Eropa. Selain itu, di dalam ASEAN sendiri, munculnya persepsi bahwa Indonesia sedang mengambil jalur berbeda bisa mengganggu solidaritas kawasan.
Dalam negeri, tantangan lainnya adalah menjaga posisi politik luar negeri Indonesia yang selama ini dikenal netral dan tidak berpihak.
BRICS bukanlah kelompok yang selalu sejalan secara politik, terutama dalam isu-isu global seperti konflik di Eropa Timur atau ketegangan di Indo-Pasifik.
Ke depan Indonesia harus tetap lincah dengan menjaga prinsip independensi sambil tetap terlibat aktif di dalam forum ini.
Dari sisi ekonomi, Indonesia juga perlu berhati-hati agar tidak terlalu bergantung pada salah satu negara anggota BRICS, terutama Tiongkok.
Ketergantungan ekonomi bisa berdampak pada kedaulatan pengambilan keputusan nasional, apalagi jika dikaitkan dengan pengaruh politik atau keamanan regional. Sejumlah tekanan mulai terasa di Natuna, atau di sekitar border dengan Vietnam dan Malaysia.
Di sisi lain, rencana untuk mengurangi penggunaan dolar dalam perdagangan juga harus dilakukan dengan penuh perhitungan agar tidak menimbulkan instabilitas nilai tukar atau kepercayaan pasar.
Selain itu, karakter BRICS sebagai kelompok yang sangat beragam—baik secara politik, ekonomi, maupun ideologis—dapat menjadi tantangan tersendiri dan membutuhkan kepiawaian Indonesia untuk berselancar dengan baik.
Tidak adanya sistem pengambilan keputusan yang mengikat atau struktur kelembagaan yang kuat membuat koordinasi dan implementasi keputusan menjadi tidak selalu efektif. Ini gambaran pahitnya.
Sebagai contoh bentuk tekanan Trump pada tarif 32 persen untuk komoditas ekspor Indonesia dan bisa saja menekan Indonesia dan akan direspon berbeda oleh anggota lain, tapi Indonesia pasti akan kena getahnya, karena dia bagian dari BRICS.
“Bisa lebih tinggi lagi karena Indonesia ikut BRICS,” kata seorang analis kepada penulis.
Meski demikian, keputusan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS mencerminkan upaya jangka panjang untuk memperkuat posisi di dunia internasional.
Ini adalah bagian dari strategi untuk menjadi kekuatan menengah yang mampu bersuara dalam isu-isu global sekaligus mengutamakan pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Keanggotaan Indonesia dalam BRICS pada akhirnya akan bermakna sejauh mana negara ini mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan luar negeri dan kebutuhan dalam negeri, serta antara kemitraan global dan kemandirian nasional.
BRICS memberikan panggung, tetapi bagaimana Indonesia memainkan perannya—itulah yang akan menentukan hasilnya.
___
Penulis Kamaruddin Azis
Alumni Manajemen Strageis MM-FEB Unhas Baraya









