Mahatma dan Harapan Baru FIKP Unhas

  • Whatsapp
Mahatma Lanuru dan kolega di ITK Unhas (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Apa yang membedakan pemimpin sejati dari sekadar orang yang menjabat? Jawabannya tidak pada gelar, pangkat, atau posisi. Dia tumbuh dari kesungguhan, fokus dan berani untuk kembali—kembali ke akar, ke nilai-nilai awal, dan ke tempat di mana perjalanan intelektual dan moralnya bermula.

Saya kira itu yang mendasari bagaimana seorang Prof. Dr. Ir. Mahatma Lanuru, M.Sc bertekad maju ke gelanggang pemilihan Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin.

Berhasil unggul empat suara dari 38 suara dari kandidat lain pada pemilihan Dekan 8 Juli 2025 di FIKP Unhas, menjadi tapak untuk menuju pelantikannya sebagai Dekan teranyar FIKP dari rumpun murni alumni Kelautan Unhas.

Dia terpilih dan Insha Allah jika dilantik nanti akan menjadi tonggak sejarah bagi alumni Kelautan Unhas yang sejak awal pendirian ITK Unhas pada 1988 sarat dengan dinamika kemahasiswaan dan pertarungan orientasi dan kiprah maupun conflict of interest tentang ’qua vadis ITK Unhas kala itu’.

Apa indikator baik untuk FIKP Unhas ke depan?

FIKP akan sukses ditandai fondasi kuat dalam keunggulan akademik, riset yang relevan, dan keterlibatan aktif pada pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Apa lagi? Luaran riset yang berkualitas tinggi, perolehan hibah dan kompetitif, serta kolaborasi lintas disiplin menjadi indikator utama dari lingkungan akademik yang dinamis.

Lalu perlu me-refresh kurikulum, jangaan sampai pendidikan di FIKP tak relevan ke dunia luar, mesti lebih modern dan berbasis lapangan yang mengintegrasikan tren global ilmu kelautan dengan kearifan lokal. Memastikan mahasiswa siap menghadapi tantangan nyata di dunia kerja.

Perlu hadir dosen-dosen yang berkualitas dan terhubung secara internasional, didukung oleh laboratorium serta stasiun lapang yang memadai, turut memperkuat ekosistem pengajaran dan penelitian. Tak lamban mesti sudah bergelar Guru Besar. Bukan sekadar mengajar, isi daftar hadir dan tidur tanpa memikirkan efektivitas proses belajar mengajarnya.

Pada tingkatan alumni, ada keterserapan lulusan yang tinggi di dunia kerja. Berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya maritim, perumusan kebijakan, dan pembangunan ekonomi biru juga merupakan penanda keberhasilan yang krusial.

Yang tak kalah penting adalah kemampuan fakultas untuk tetap relevan secara sosial dan terhubung secara global. Keterlibatan aktif dengan komunitas pesisir, partisipasi dalam inisiatif kelautan internasional, serta kolaborasi dengan pemerintah, LSM, dan mitra global menunjukkan komitmen

Prof Mahatma (tengah, ketiga dari kiri) bersama kolega dari rumpun Ilmu Kelautan Unhas (dok: Ahmad Bahar)

FIKP Unhas sebagai pembeda

Harapan penulis, terpilihnya Mahatma itu—sebuah momen penting sekaligus titik balik tentang bagaimana Kelautan betul-betul menjadi Pola Ilmuah Pokok Universitas Hasanuddin. Ini sudah lama digariskan dalam dokumen road map Unhas dan mestinya bisa revitalisasi dan digalakkan kembali di tengah semakin jauhnya negara ini meninggalkan maritim.

Unhas mestinya jadi pembeda di Indonesia karena basis akademikinya berorientasi maritim, bukan semata maritim dalam akronim atau pemanis mulut belaka.

Mahatma pasti tahu bagaimana Bremen sebagai Kota Pelabuhan di Jerman.

Dia pasti paham bahwa University of Bremen, Jerman, tempat dia kuliah mestinya bisa menjadi inspirasi bagi Unhas sebagai salah satu pusat unggulan riset kelautan di dunia.

Sebagai teman seangkatan, penulis cukup mengenal kapasitasnya saat mahasiswa dan setelah jadi staf pengajar di Unhas. Meski demikian, kita sebut saja beberapa kepemimpinan Prof. Mahatma menyatu erat dengan nilai-nilai mendasar yang membentuk sosok pemimpin sejati.

Saat kuliah, dia paling tidak mau disebut menyontek. Itu kesaksian penulis. Ia tidak hanya mengajarkan prinsip-prinsip ilmiah, tapi juga menjalaninya. Etika akademik dan keteguhan sikap menjadikannya teladan bagi banyak kolega dan mahasiswa. Itu adalah pilihan penting untuk selalu punya integritas.

Penulis membayangkan bagaimana Ia melihat jauh ke depan. Ia memahami betapa strategisnya peran FIKP dalam menjawab tantangan besar kelautan Indonesia, dari krisis pesisir hingga perubahan iklim.

Semoga dia bisa hadir di tengah dinamika kampus—dekat dengan mahasiswa, terbuka terhadap ide-ide muda, dan selalu hadir dalam ruang-ruang diskusi, bukan hanya di ruang sidang.

Semoga kepemimpinannya bukan hanya tentang memimpin hari ini, tapi tentang merancang masa depan. Semoga dari kepemimpinannya, solusi sejati lahir dari riset, pendidikan, dan keberanian untuk memulai dari kampus sendiri.

Tiada lagi pledoi bahwa anggaran kurang atau sarana prasara riset kelautan langka atau sedang mangkrak.

Kita perlu memberi semangat, baik sebagai kawan, maupun mitra staregis. Mahatma bisa jadi bukan sosok yang selalu ngotot bersuara nyaring dan lantang tapi yang mendasar adalah dia pasti paham apa yang mesti dilakukan di tengah semakin tergerusnya kecintaan generasi muda pada isu-isu maritim.

Sementara di sisi lain FIKP sebagai organisasi sedang mengalami kecenderungan defisit riset, kualitas pengabdian sosial dan lingkungan masih perlu digaungkan dan dijalankan dengan serius.

Bahwa menakhodai FIKP Unhas tak sekadar business as usual, sekadar proses akademik tetap mengelola kapasitas tersedia dan menawarkan kebaruan pelayanan akademik, riset, pengabdian sosial dan perbaikan nasib bangsa.

Tamarunang, 9 Juli 2025