SARABA dan ‘Lantebung Effects’

  • Whatsapp
Saraba (dokL istimewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Fenomena Lantebung, mangrove dan Saraba mengajarkan pada kita setidaknya lima hal mendasar tentang dimensi dan hakikat perubahan. Mungkin penggambaran berikut tak utuh tapi bisa jadi bahan renungan.

Pertama, gagasan perubahan tak selalu besar atau melibatkan banyak orang.

Read More

Saraba contohnya. Dia meraih Kalpataru – penghargaan tertinggi dalam penyelamatan lingkungan di Indonesia – saat yang lain sibuk bertengkar dan menggagahi mangrove atas nama pembangunan.

Saraba adalah pemenangnya, saat yang lain sibuk menunggu bantuan, tanpa mau berinisiatif, sibuk menggerutu, dan hanya sibuk mematut diri di depan cermin sebagai manusia terdidik dan punya kelas. Saraba benam di lumpur mangrove.

Saraba adalah contoh bagaimana seorang guru membaca tanda-tanda. Dia membaca bagaimana pesisir Lantebung yang diobrak-abrik oleh anak manusia, yang menebang pohon tanpa takut arus balik, abrasi, gelombang hebat dan sendimentasi.

Saraba dalam diamnya, menyusun rencana: tanam pohon, satu persatu, bibit pohon yang jatuh dari ketiak bakau atau mangrove dirawat dan besarkannya.

Dua, di Lantebung, kita menbaca ambisi manusia yang tak tuntas, yang menggunakan mesin-mesin pembangunan. Yang tanpa sungkan menerabas kawasan yang ada atas nama pembangunan, atas nama properti diri dan angan-angan.  

Saraba pun tak tinggal diam, dia berkoalisi dengan sekelompok orang yang ingin melihat mangrove Lantebung tetap terjaga, tetap beranak pinak dan bisa menjadi harapan di masa depan.

Tahun 2017, Lantebung mulai menampakkan hasil setelah merias gagasan dengan membuka pintu kolaborasi dan merawat semangat segelintir orang.

Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Makassar ikut andil dengan membangun Lantebung sebagai kawasan konservasi mangrove, sebuah ikhtiar yang bermuara pada munculnya ide pariwisata, pengembangan ekonomi warga.

Ekonomi? Iya, jika mangrove terjaga, asri, jadi destinasi wisata, orang-orang pasti butuh makan atau sesuatu sebagai tanda mata. Inilah saatnya warga mengembangkan kapasitas diri untuk berproduksi.

Satu proyek bernama CCDP-IFAD waktu jadi pintu masuk yang ngefek hingga kini. Kapasitas masyarakat diperkuat dalam urusan pengolahan produk perikanan, pengelolaan bisnis dibenahi, perintisan Lantebung sebagai destinasi wisata mangrove dimulai, kini kita sudah lihat hasilnya.

Destinasi ekowisata Laantebung jadi alternatif wisata lingkungan di tengah suasana Makassar yang paceklik pilihan bersahabat dengan alam melalui kegiatan wisata.

Tiga, jika sudah merintis kebaikan, percayalah, sekutu akan datang.

Benar saja, setelah Saraba dan tidak kurang sepuluh orang anggota kelompok pelestari getol menanam mangrove, dari tahun ke tahun, warga, organisasi baik swasta, Pemerintah, LSM ikut turun tangan menanam mangrove.

Informasi terbaru adalah keluarga besar IKA Smansa Makassar angkatan 89 atas dukungan BPDASHL Jeneberang-Saddang menanam 1500 batang di tepi dermaga wisata Lantebung. Di beberapa bagian patok-patok penanda partisipasi penyayang lingkungan berdiri gagah, tanda cinta.

Keempat, percayalah, jika ekosistem mangrove terjaga, hasil laut juga akan meningkat.

Daeng Sangkala (46), pria yang mengaku bisa bikin sampan dengan fiber ini tetap menyungging senyum, ikan-ikan bete-bete yang ditangkapnya di tepian Lantebung adalah umpan untuk perangkap rajungan miliknya. Dia tak harus memasang jaring jauh-jauh, di sekitar Lantebung pun dia masih bisa dapat bete-bete.

Kawasan mangrove adalah ekosistem tempat ikan-ikan beranak pinak, tempat kepiting bertelur dan merangkai kehidupan yang paripurna, Tanpa mangrove, mereka pasti akan nelangsa seperti manusia.

Pelajaran kelima adalah tentang kerelaan untuk menjalankan agenda perubahan meski tantangan tak sedikit.

Transformasi perubahan harus mengalir dari diri, ke organisasi dan sistem-sistemnya. Untuk menjalarkan ini bisa jadi tantangannya banyak, dalam diri dan luar diri. Saat kita menanam pohon sebatang, bisa jadi di sebelah ada yang menerabas sehamparan dengan excavator.

Maksudnya, jika Saraba, dengan modal semangat dan kerelaan untuk merawat pohon demi pohon, bisa menciptakan perubahan yang membanggakan untuk Lantebung, tentu pemimpin-pemimpin yang punya segudang modal, uang dan jjejaring harusnya bisa meghadirkan perubahan yang lebih banyak.

“Iya, tentu saja bisa, bisa asal benih ego diri, mau menang sendiri, mau kaya sendiri, sikap pro-KKK, bisa ditekuk dan dibinasakan sejak awal.”

Mari, saatnya bekerja bersama-sama, merawat mimpi perubahan dan mengecek kemampuan diri, tak harus selalu besar, atau bombastis supaya saat gagal, sakitnya tak seberapa. Saraba dan mangrove adalah pendaran dari apa yang bisa disebut Lantebung Effects untuk Makassar yang lebih baik.

 

Tamarunang, 31 Desember 2020

Related posts