PELAKITA.ID – Di sebuah rumah panggung di Pulau Kaledupa, warga kini lebih sering berkumpul di bawah kolong rumah daripada di serambi depan. Bukan karena perubahan kebiasaan semata, melainkan karena panas yang semakin menyengat.
Dahulu, galampa—serambi depan rumah—menjadi ruang sosial yang hidup. Tempat keluarga berbincang, anak-anak bermain, dan tetangga saling menyapa.
Dalam beberapa tahun terakhir, suhu udara yang semakin tinggi membuat ruang itu terasa tidak nyaman. Warga memilih berlindung di bawah rumah panggung, di area yang mereka sebut goje-goje.
Perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari itu sesungguhnya mencerminkan persoalan yang jauh lebih besar.
Di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, perubahan iklim bukan lagi isu masa depan. Ia sudah hadir dalam bentuk gelombang pasang yang semakin tinggi, sumber air tawar yang mengering, hingga perubahan perilaku ikan dan satwa yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pulau.
Sebagai kawasan yang berada di jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle), Wakatobi dikenal sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di planet ini. Namun justru karena posisinya sebagai gugusan pulau kecil, wilayah ini menjadi salah satu daerah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Ketika Air Laut Mendekati Rumah
Bagi masyarakat pesisir Wakatobi, ancaman paling nyata datang dari laut yang perlahan naik.
Data dan pengamatan lapangan menunjukkan kenaikan muka air laut di sejumlah kawasan pesisir mencapai sekitar 20 hingga 80 sentimeter. Angka tersebut mungkin terdengar kecil, tetapi dampaknya sangat besar bagi kehidupan warga yang tinggal hanya beberapa meter dari garis pantai.
Di sejumlah desa pesisir, warga harus berkali-kali meninggikan tiang rumah mereka agar tetap aman saat air pasang datang.
Menurut mantan Kepala Bappeda Wakatobi, Abdul Manan, perubahan tersebut telah memaksa masyarakat melakukan berbagai bentuk adaptasi fisik yang tidak ringan.
“Rumah-rumah yang dulunya aman dari genangan kini harus dimodifikasi secara berkala untuk menghadapi pasang laut yang semakin tinggi,” kata Manan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa bagi pulau-pulau kecil, kenaikan muka air laut bukan sekadar statistik ilmiah. Ia adalah persoalan ruang hidup.
Krisis Air Tawar di Tengah Lautan
Ironisnya, di tengah hamparan laut yang luas, warga Wakatobi justru menghadapi kesulitan memperoleh air bersih.
Intrusi air laut ke dalam lapisan air tanah membuat banyak sumur menjadi payau. Air yang dulunya layak dikonsumsi kini terasa asin dan tidak dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Akibatnya, banyak keluarga harus membeli air bersih dalam jeriken atau galon. Biaya hidup pun meningkat, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang bergantung pada sektor perikanan dan pertanian skala kecil.
Bagi pulau-pulau kecil yang sumber daya air tawarnya terbatas, perubahan iklim memperparah tantangan yang sebenarnya sudah lama ada. Ketika musim kemarau datang lebih panjang dan curah hujan menjadi tidak menentu, tekanan terhadap ketersediaan air bersih semakin besar.
Perubahan iklim juga terlihat dari fenomena-fenomena yang sulit dijelaskan oleh pengalaman generasi sebelumnya.
Para nelayan melaporkan bahwa beberapa jenis ikan yang dahulu mudah ditemukan di perairan dangkal kini semakin jarang terlihat. Ikan baronang hijau dan ikan napoleon, misalnya, disebut mulai bergeser ke perairan yang lebih dalam.
Sebaliknya, muncul spesies yang sebelumnya tidak umum dijumpai dalam jumlah besar. Salah satunya adalah ikan pogo yang dilaporkan hadir secara massal di beberapa lokasi.
Fenomena serupa juga terjadi di kawasan mangrove Sombano. Warga mengaku melihat kelompok burung yang tidak pernah mereka temui sebelumnya, termasuk burung-burung yang menyerupai bebek liar serta kelompok burung gereja dalam jumlah cukup banyak.
Bagi ilmuwan, perubahan distribusi spesies merupakan salah satu indikator yang sering dikaitkan dengan perubahan kondisi lingkungan, termasuk suhu dan pola cuaca. Bagi masyarakat lokal, fenomena tersebut dipahami sebagai tanda bahwa alam sedang berubah.
Pertanian yang Semakin Rentan
Kerentanan tidak hanya terjadi di laut.
Di Pulau Tomia, petani menghadapi serangan penyakit tanaman yang dikenal dengan nama lokal lakadea. Penyakit ini menyerang tanaman bawang dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi warga.
Sementara itu, di sejumlah pulau lain, pohon pisang dan ubi kayu mengalami kematian mendadak akibat kekeringan yang berkepanjangan. Padahal kedua komoditas tersebut merupakan sumber pangan penting bagi masyarakat setempat.
Perubahan pola musim membuat petani semakin sulit menentukan waktu tanam yang tepat. Curah hujan yang tidak menentu meningkatkan risiko gagal panen dan mengancam ketahanan pangan rumah tangga.
Dampak perubahan iklim di Wakatobi tidak berdiri sendiri. Ia bertemu dengan berbagai persoalan lingkungan yang sudah lebih dulu ada.
Kajian yang dilakukan COMMIT Foundation mencatat sejumlah faktor yang memperbesar kerentanan wilayah pesisir, antara lain abrasi pantai, kerusakan hutan mangrove, penambangan pasir dan batu karang, serta praktik penangkapan ikan yang merusak.
Mangrove yang seharusnya berfungsi sebagai benteng alami dari gelombang dan badai terus mengalami tekanan akibat penebangan untuk kebutuhan kayu bakar maupun bahan bangunan.
Padahal, ketika mangrove hilang, masyarakat kehilangan perlindungan alami yang sangat penting dalam menghadapi kenaikan muka air laut dan cuaca ekstrem.
Direktur COMMIT Foundation, Ashar Karateng, menilai bahwa tantangan terbesar bukan hanya menjalankan program adaptasi, melainkan memastikan program tersebut benar-benar berhasil.
“Urusan kita bukan semata-mata banyak pohon yang kita tanam, tetapi seberapa banyak pohon yang tumbuh dan bermanfaat,” ujarnya dalam sebuah lokakarya adaptasi perubahan iklim di Wangi-Wangi.
Pernyataan itu menegaskan bahwa keberhasilan adaptasi harus diukur dari dampaknya, bukan sekadar jumlah kegiatan yang dilaksanakan.
Bertahan dengan Kearifan Lokal
Meski menghadapi berbagai ancaman, masyarakat Wakatobi tidak tinggal diam.
Di banyak desa, warga mulai mengembangkan berbagai strategi adaptasi berbasis pengetahuan lokal. Salah satunya adalah menghidupkan kembali tradisi bercocok tanam Heresoi dan memperkuat konsumsi pangan lokal seperti ubi-ubian.
Langkah ini bukan hanya bertujuan menjaga ketahanan pangan, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap komoditas yang rentan terhadap perubahan iklim.
Di sektor perikanan, para nelayan melakukan penyesuaian dengan menggunakan perahu yang lebih besar dan mesin yang lebih kuat. Perubahan arus laut serta bergesernya lokasi tangkapan membuat mereka harus melaut lebih jauh, bahkan hingga 12 mil ke laut lepas.
Sementara itu, konsep ADS (Atur Diri Sendiri) mulai diperkenalkan sebagai pendekatan perubahan perilaku yang menekankan tanggung jawab individu dalam mengurangi emisi dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Wakatobi sendiri telah memasukkan isu perubahan iklim ke dalam agenda pembangunan jangka panjang. Salah satu visinya adalah menjadikan Wakatobi sebagai “Pusat Biodiversitas Bumi”.
Berbagai program penghijauan, rehabilitasi mangrove, hingga pembangunan infrastruktur perlindungan pesisir terus dikembangkan. Bersama berbagai lembaga mitra, pemerintah juga mulai membangun sistem Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan (MEP) agar setiap aksi adaptasi dapat diukur efektivitasnya.
Pendekatan ini penting karena perubahan iklim merupakan persoalan jangka panjang yang membutuhkan pembelajaran berkelanjutan.
Bagi banyak pihak, Wakatobi kini menjadi laboratorium hidup tentang bagaimana pulau-pulau kecil menghadapi krisis iklim.
Di sini, perubahan iklim tidak dibahas dalam ruang konferensi atau laporan ilmiah semata. Ia hadir dalam sumur yang mulai asin, rumah yang harus ditinggikan, ikan yang berpindah habitat, dan petani yang menunggu hujan yang tak kunjung datang.
Namun di tengah berbagai keterbatasan itu, masyarakat Wakatobi terus menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi. Mereka sedang menulis kisah tentang ketahanan, tentang bagaimana komunitas pulau kecil berusaha menjaga ruang hidupnya di tengah perubahan yang tak lagi bisa dihindari.
Jika berhasil, pelajaran dari Wakatobi bukan hanya penting bagi Sulawesi Tenggara, tetapi juga bagi ratusan pulau kecil lainnya di Indonesia yang menghadapi ancaman serupa di masa depan.
___
Penulis Kamaruddin Azis









