Baharuddin Solongi | Perguruan Tinggi Tanpa Inovasi Riset

  • Whatsapp
Baharuddin Solongi

Kita masih terlalu sering memandang perguruan tinggi sebagai “pabrik ijazah”, bukan pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Ukuran keberhasilan kampus lebih banyak dilihat dari jumlah mahasiswa baru, megahnya gedung, atau pencapaian administratif akreditasi, sementara kultur akademik belum menjadi perhatian utama.

Oleh: Baharuddin Solongi

PELAKITA.ID – Di banyak perguruan tinggi Indonesia, dosen sering dipuji sebagai “agen perubahan”, “intelektual publik”, bahkan “penjaga peradaban”.

Di sisi lain, dalam kenyataan sehari-hari, banyak dosen justru hidup dalam situasi yang menjauhkan mereka dari inti utama dunia akademik: riset dan penciptaan ilmu pengetahuan.

Hal yang amat ironi adalah ketika negara berbicara tentang hilirisasi, inovasi, transformasi digital, hingga kemandirian teknologi, ekosistem yang menopang riset, terutama riset terapan, masih rapuh.

Kita ingin melahirkan inovasi kelas dunia, tetapi para penelitinya masih sibuk mengurus administrasi yang melelahkan.

Masalah utama riset di Indonesia sesungguhnya bukan terletak pada rendahnya kecerdasan dosen. Indonesia memiliki banyak akademisi berbakat, kreatif, dan memiliki kapasitas intelektual yang baik.

Persoalannya adalah negara dan institusi pendidikan tinggi belum sepenuhnya membangun ekosistem yang memungkinkan ilmu pengetahuan tumbuh secara sehat.

Di banyak kampus, terutama perguruan tinggi swasta, dosen mengajar terlalu banyak kelas demi memenuhi kebutuhan operasional institusi. Di saat yang sama, mereka dibebani laporan administrasi, akreditasi, pengisian dokumen kinerja, hingga pekerjaan struktural yang menguras energi.

Waktu untuk membaca jurnal, melakukan eksperimen, turun lapangan, atau membangun kolaborasi riset akhirnya tersisa sangat sedikit.

Kampus perlahan berubah menjadi ruang birokrasi, bukan ruang intelektual.

Padahal riset, terlebih riset terapan, membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dibangun secara instan: waktu berpikir.

Penelitian yang serius memerlukan konsentrasi panjang, keberanian mencoba, kemungkinan gagal berulang kali, dan dukungan institusi yang stabil. Sayangnya, banyak sistem riset kita justru bekerja dalam logika proyek tahunan yang administratif dan serba formalistik.

Akibatnya, banyak penelitian lahir bukan karena kebutuhan menyelesaikan masalah bangsa, melainkan karena kebutuhan memenuhi angka kredit dan tuntutan publikasi. Dosen dipaksa mengejar kuantitas artikel ilmiah, sementara dampak nyata penelitian sering menjadi urusan kedua.

Paradoks Akademik

Kita kemudian menyaksikan paradoks akademik: publikasi meningkat, tetapi inovasi nasional berjalan lambat.

Di sisi lain, hubungan antara kampus dan dunia industri juga belum tumbuh secara matang.

Sangat banyak industri yang lebih memilih membeli teknologi dari luar negeri dibanding mempercayai hasil riset kampus dalam negeri. Sebaliknya, tidak sedikit penelitian kampus yang terlalu teoritis dan jauh dari kebutuhan riil masyarakat maupun pasar.

Akhirnya, riset terapan kehilangan ruang hidupnya dan jauh dari harapan publik.

Padahal di negara-negara maju, universitas menjadi pusat lahirnya teknologi dan solusi sosial. Kampus bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang produksi gagasan dan inovasi. Hubungan antara pemerintah, industri, dan universitas dibangun dalam ekosistem yang saling menopang.

Negara mereka hadir memberi dana besar untuk penelitian jangka panjang. Industri hadir sebagai pengguna dan mitra inovasi. Kampus diberi kebebasan untuk berpikir dan bereksperimen.

Sayangnya, kita di Indonesia belum sampai pada titik itu.

Kita masih terlalu sering memandang perguruan tinggi sebagai “pabrik ijazah”, bukan pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

Ukuran keberhasilan kampus lebih banyak dilihat dari jumlah mahasiswa baru, megahnya gedung, atau pencapaian administratif akreditasi, sementara kultur akademik belum menjadi perhatian utama.

Akibatnya, dosen yang serius meneliti sering “berjalan sendirian”.

Lemahnya ekosistem riset sebenarnya memiliki dampak strategis terhadap masa depan bangsa. Negara yang lemah dalam riset akan terus bergantung pada teknologi asing, menjadi pasar inovasi negara lain, dan sulit keluar dari jebakan negara berkembang.

Kita bisa saja memiliki sumber daya alam melimpah, dari sumber daya pesisir, laut, pedalaman, pegunungan tetapi tanpa riset dan inovasi, nilai tambah ekonomi akan selalu dinikmati pihak luar.

Oleh sebab itu, menangani atau memperbaiki riset nasional tidak cukup hanya dengan memperbesar tuntutan kepada dosen.

Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang memungkinkan dosen dapat berpikir, meneliti, dan berinovasi secara manusiawi.

Negara kita perlu dan sangat mendesak untuk segera mengurangi beban administratif akademisi, memperbesar pendanaan riset jangka panjang, memperkuat laboratorium, membangun koneksi serius dengan industri, dan menciptakan budaya akademik yang sehat.

Kampus juga harus berani mengubah orientasi: dari sekadar mengejar jumlah mahasiswa menuju pembangunan tradisi ilmu pengetahuan.

Pembaca sekalian, sejarah menunjukkan, bangsa besar tidak dibangun hanya dengan pidato pembangunan atau slogan inovasi. Ia dibangun melalui penghormatan yang serius terhadap ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan hanya bisa tumbuh di ekosistem yang sehat.

Wallahualam Bissawab!