KKP – FAO Perkuat Program SFV untuk Budi Daya Perikanan Kecil Modern

  • Whatsapp
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Food and Agriculture Organization (FAO) terus mendorong transformasi sistem budi daya perikanan skala kecil melalui pendekatan Smart Fisheries Village (SFV) atau desa perikanan cerdas yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

PELAKITA.ID – JAKARTA (3/3) — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Food and Agriculture Organization (FAO) terus mendorong transformasi sistem budi daya perikanan skala kecil melalui pendekatan Smart Fisheries Village (SFV) atau desa perikanan cerdas yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Upaya ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Inception Workshop dalam kerangka FAO’s Technical Cooperation Programme (TCP) bertema Strengthening Smart Fisheries Village (SFV) Programme through Promoting Modern Tilapia Production and Extension Service Capacity Building. Kegiatan tersebut berlangsung di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan pelaksanaan program TCP sekaligus menghimpun masukan, pandangan, serta harapan para pemangku kepentingan terkait pengembangan program SFV ke depan, khususnya yang berkaitan dengan prioritas nasional dan agenda pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

Menurutnya, pendekatan SFV tidak sekadar menjadi proyek jangka pendek, tetapi berperan sebagai pemicu transformasi jangka panjang bagi sistem budi daya perikanan rakyat.

Oleh karena itu, keberlanjutan program dirancang agar selaras dengan berbagai program pemerintah yang telah berjalan, serta didukung oleh berbagai perangkat praktis dan pengetahuan yang tetap dapat dimanfaatkan bahkan setelah proyek berakhir.

Sebagai pihak yang menjadi lead counterpart, BPPSDM KP berkomitmen mendorong replikasi serta perluasan penerapan model SFV secara nasional. Strategi keberlanjutan program antara lain dilakukan melalui pelembagaan pedoman SFV, integrasi dengan program prioritas pemerintah seperti Kampung Nelayan Modern Merah Putih, budidaya tematik,  Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga Program Makan Bergizi Gratis.

Selain itu, program juga menekankan penguatan kapasitas dan kepemilikan lokal, transfer teknologi, keberlanjutan operasional, pendekatan inklusif berbasis gender dan generasi muda, serta membuka peluang investasi lanjutan.

Nyoman berharap, workshop tersebut dapat menghasilkan konsep pengembangan model SFV baik yang berbasis desa maupun Unit Pelaksana Teknis (UPT), sehingga dapat diadopsi dan disinergikan dengan berbagai program pembangunan perikanan di tingkat nasional maupun daerah.

Dengan demikian, manfaat program TCP tidak berhenti pada capaian jangka pendek, tetapi terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, ketahanan pangan berbasis ikan, serta keberlanjutan lingkungan.

Sementara itu, Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Pusluh KP), Yayan Hikmayani, dalam laporannya menyampaikan bahwa Inception Workshop merupakan tahap awal yang penting untuk menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi, dan membangun komitmen bersama di antara para pemangku kepentingan.

Sebelum workshop digelar, rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi budi daya ikan nila di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor, termasuk Instalasi Cibalagung yang berada di bawah Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor.

Kunjungan ini bertujuan melihat secara langsung kondisi budi daya yang ada, penerapan teknologi, peran penyuluhan, serta implementasi awal program SFV di lapangan.

Workshop tersebut diikuti oleh 55 peserta yang berasal dari FAO, berbagai unit kerja di lingkup KKP, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah daerah Kota Bogor dan Kabupaten Ciamis, Pemerintah Desa Kawali, kelompok pembudidaya ikan, serta mitra swasta. Sebagian peserta dari FAO dan unit pelaksana teknis KKP juga mengikuti kegiatan secara daring.

Yayan berharap kegiatan ini dapat memperkuat pemahaman bersama dalam mendukung pengembangan program SFV, meningkatkan produksi budi daya ikan nila modern, memperkuat kapasitas layanan penyuluhan, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat perikanan secara berkelanjutan.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan bahwa program Smart Fisheries Village (SFV) dikembangkan untuk memperkuat kemandirian desa berbasis usaha perikanan. Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah diterapkan pada 15 SFV berbasis desa dan 17 SFV berbasis Unit Pelaksana Teknis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.