Hilirisasi selalu menciptakan mata rantai baru: dari produksi, distribusi, hingga pengolahan akhir. Ruang-ruang ini terbuka bagi alumni Unhas—baik secara personal maupun kelembagaan—untuk terlibat dalam skema bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Dahlan Usman, Ketua IKA Unhas Wilayah Gorontalo
PELAKITA.ID – Pembangunan daerah hari ini tidak lagi bisa bergantung semata pada pola lama penganggaran rutin.
Di tengah kebijakan efisiensi fiskal nasional, daerah dituntut lebih kreatif membaca peluang, membangun jejaring, dan mengorkestrasi kolaborasi lintas aktor.
Itulah konteks besar yang mengemuka dalam perbincangan Founder Pelakita.ID Kamaruddin Azis dengan Dahlan Usman, Ketua Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Wilayah Gorontalo.
Dalam obrolan santai namun padat gagasan itu, Dahlan Usman menegaskan bahwa Gorontalo—sebagai daerah dengan basis ekonomi pertanian dan perikanan—menghadapi tantangan yang sama dengan banyak daerah lain di Indonesia: ruang fiskal yang kian sempit, sementara kebutuhan pembangunan terus meningkat.
Efisiensi Anggaran dan Tantangan Daerah
Menurut Dahlan, kebijakan efisiensi APBN berdampak langsung pada daerah. Setelah kepala daerah dilantik, ruang anggaran untuk program prioritas non-rutin menjadi sangat terbatas.
Anggaran daerah nyaris habis untuk belanja rutin birokrasi—gaji dan operasional—sementara sektor strategis seperti pertanian hanya mendapat porsi minimal.
“Gorontalo mayoritas pertanian. Tapi justru di situ kita kena dampaknya. Program prioritas tidak mendapat ruang yang cukup,” ujarnya.
Situasi ini, lanjut Dahlan, memaksa daerah “mengetuk pintu pusat”. Namun bukan lagi dengan pola lama sekadar mengusulkan bantuan, melainkan dengan pendekatan baru: investasi, hilirisasi, dan ekosistem bisnis.
Hilirisasi sebagai Jalan Keluar
Dahlan memaparkan sejumlah terobosan yang kini mulai dijalankan, terutama melalui dukungan Kementerian Pertanian dan skema pendanaan Danantara. Beberapa di antaranya adalah:
-
Hilirisasi kelapa dan kakao, diawali dengan replanting besar-besaran yang disokong pemerintah pusat.
-
Pengembangan industri ayam terintegrasi dengan nilai investasi mencapai Rp1,4 triliun, yang dirancang sebagai ekosistem bisnis baru—bukan sekadar proyek bantuan.
Dalam skema ini, pemerintah daerah tidak menanggung beban keuangan besar. Peran daerah lebih pada penyediaan lahan, dukungan regulasi, dan memastikan iklim usaha kondusif.
Dana dikelola oleh swasta yang ditunjuk, sementara manfaat ekonomi diharapkan mengalir ke masyarakat.
“Ini rezim baru. Uang negara tidak dihabiskan, tapi dikelola agar berkembang dan memberi dampak ekonomi,” tegas Dahlan.
Peran Strategis IKA Unhas
Di titik inilah Dahlan melihat IKA Unhas memiliki posisi strategis. Bukan hanya sebagai jaringan alumni, tetapi sebagai simpul informasi, pengetahuan, dan peluang.
Menurutnya, hilirisasi selalu menciptakan mata rantai baru: dari produksi, distribusi, hingga pengolahan akhir. Ruang-ruang ini terbuka bagi alumni Unhas—baik secara personal maupun kelembagaan—untuk terlibat dalam skema bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
“Yang mahal hari ini itu informasi. Dan alumni Unhas berada di posisi sebagai pemilik informasi awal,” katanya.
Ia mencontohkan industri ayam terintegrasi yang akan membangun jaringan distribusi baru. Di sana terbuka peluang bagi alumni yang bergerak di bidang pakan, logistik, distribusi telur, hingga pengolahan produk turunan.
Dari Bantuan ke Ekosistem Bisnis
Dahlan menekankan pentingnya perubahan cara berpikir. Pola lama—mengharap jatah, bantuan, atau pembagian proyek—sudah tidak relevan. Yang dibutuhkan adalah kesiapan masuk ke ekosistem bisnis, mengikuti alur distribusi dan nilai tambah.
“Kita tidak bisa lagi berpikir ‘berapa jatah saya’. Ini bisnis. Masuk di hilirnya, masuk di distribusinya,” ujarnya lugas.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan akses ke pusat, melainkan kesiapan SDM dan kelembagaan alumni sendiri. Namun ia memilih pendekatan pragmatis: tangkap peluang dulu, tata kelembagaan sambil jalan.
Menjual Gorontalo sebagai Market Area
Menariknya, Dahlan mengungkap bahwa Gorontalo awalnya tidak masuk perhitungan lokasi proyek industri ayam nasional. Alasannya sederhana: jumlah penduduk relatif kecil. Namun ia memilih strategi berbeda—menjual Gorontalo sebagai hub market area Indonesia bagian utara.
“Kalau hanya jual Gorontalo, kecil. Saya jual Indonesia bagian utara,” katanya.
Dengan posisi geografis strategis dan kedekatan dengan jalur regional, Gorontalo ditawarkan sebagai pusat produksi yang melayani Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, hingga pasar luar negeri.
Pendekatan inilah yang akhirnya membuat Gorontalo masuk dalam skema proyek besar tersebut.
Eksistensi Dulu, Skema Menyusul
Sebagai Ketua IKA Unhas Wilayah Gorontalo, Dahlan menegaskan fokus utamanya saat ini adalah mengangkat eksistensi kelembagaan. Menunjukkan bahwa IKA Unhas hadir, terlibat, dan relevan dalam agenda pembangunan daerah.
“Kalau eksistensi sudah kelihatan, peluang usaha, kerja, dan ikhtiar baru akan terbuka dengan sendirinya,” ujarnya.
Ia mengakui, dirinya bukan tipe yang gemar menjual rencana. Baginya, bukti lapangan—groundbreaking, aktivitas fisik, keterlibatan nyata—jauh lebih penting daripada sekadar wacana.
Menatap Kolaborasi ke Depan
Dengan sekitar 3.000-an alumni Unhas di Gorontalo, Dahlan optimistis jejaring ini dapat menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang signifikan. Apalagi semangat alumni dan birokrasi muda Gorontalo yang menempuh studi lanjut di Unhas terus meningkat.
Wawancara ini menegaskan satu hal penting: masa depan pembangunan Gorontalo tidak hanya ditentukan oleh APBD, tetapi oleh kemampuan membangun kolaborasi, membaca peluang nasional, dan menggerakkan jejaring alumni sebagai kekuatan strategis.
Dan di titik itulah, IKA Unhas menemukan relevansinya—bukan sekadar sebagai organisasi nostalgia, melainkan sebagai aktor pembangunan.
