Bagi Muliadi Saleh, menulis bukan sekadar keterampilan merangkai kata, apalagi sekadar mengejar popularitas, klik, atau viralitas. Menulis adalah jalan hidup—sebuah ikhtiar batin yang lahir dari pengalaman, perjumpaan, dan kesediaan hadir sepenuhnya di dalam kehidupan.
PELAKITA.ID – Ia tidak memulai hidupnya sebagai dosen atau penulis yang langsung mapan. Justru, perjalanan panjang di dunia aktivisme, pengabdian sosial, birokrasi, hingga kerja-kerja kemanusiaanlah yang membentuk kepekaan dan kedalaman tulisannya hari ini.
Dalam ritme hidup yang serba cepat, Muliadi justru mengajak untuk sesekali melambat—berendah diri, bercermin, dan bertafakur.”sAT
“Saya baru benar-benar aktif menulis di Pelakita.ID secara intensif pada 25 Maret 2025. Sejak hari itu, ratusan tulisan lahir, bahkan dalam sehari bisa tiga hingga empat esai. Bukan karena ambisi produktivitas, melainkan karena ide-ide itu hadir dengan sendirinya,” kata dia.
“Pertanyaannya bukan kenapa bisa menulis banyak, tapi dari mana ide-ide itu muncul,” ujar jebolan Kampus IMMIM Tamalanrea ini.
Jawabannya sederhana sekaligus mendalam: ide tidak dicari, tetapi dialami.
Pengalaman sebagai Mata Air Tulisan
Muliadi pernah bekerja lama di Jakarta, berkeliling hampir ke seluruh Indonesia, menjumpai komunitas-komunitas paling pinggiran, menyaksikan kemiskinan, ketimpangan, sekaligus keteguhan hidup manusia-manusia sederhana.
Ia menjadi khatib di desa-desa, imam musala di kawasan padat, bahkan berkhotbah di tengah para korban tsunami Aceh. Pada saat yang sama, ia juga berada di ruang-ruang elite, membantu penulisan buku tokoh nasional, menyaksikan kemewahan yang kontras dengan realitas kaum kecil.
Pengalaman-pengalaman itulah yang mengkristal menjadi tulisan bernuansa kebatinan yang disebut sebagai sufisme.
“Dari kemacetan di jalan, obrolan dengan sopir taksi, bunga agave di depan rumah yang hanya berbunga sekali seumur hidup, hingga tangan ibunya yang renta—semua bisa menjadi pintu masuk refleksi,” ucapnya.
Salah satu tulisan pertamanya bahkan berangkat dari sesuatu yang nyaris tak berarti: sebuah kerikil. Dari yang kecil, ia menarik nilai-nilai besar. Baginya, menulis tidak harus dimulai dari teori, tetapi dari kehidupan yang sungguh-sungguh dijalani.
Menulis sebagai Sikap Moral
Dalam pandangan Tenaga Ahli DPR RI dan Direktur Lembaga Spasial ini, menulis bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi sikap moral.
Setiap kalimat membawa konsekuensi: berpihak atau abai, menyembuhkan atau melukai, menerangi atau mengaburkan. Karena itu, tulisannya cenderung panjang—rata-rata 3.500 hingga 5.000 karakter—karena ia ingin memberi ruang pada makna, bukan sekadar kesan.
Ia menulis tentang tokoh-tokoh, kepergian sahabat, kritik kebijakan publik, kepemimpinan spiritual, hingga isu pangan dan lingkungan. Semua ditulis dengan satu benang merah: keberpihakan pada nilai, keadilan sosial, kesadaran ekologis, dan kedalaman spiritual.
Sebagai penulis yang berakar pada tradisi sufisme, tulisannya nyaris selalu menyisipkan nilai-nilai batin. Ia tidak menulis untuk terkenal, melainkan untuk meninggalkan jejak.
“Jika tulisan itu dibaca anak cucu kita kelak, nilai apa yang mereka temukan di dalamnya?” katanya.
Alunni Sosek Pertanian Unhas angkatan 88 ini juga menekankan pentingnya kejujuran dalam menulis.
“Tulisan yang lahir dari pengalaman langsung—ikut macet, ikut merasakan susahnya petani memasarkan hasil panen, ikut menyaksikan bagaimana pasar bekerja—akan memiliki daya hidup yang berbeda,” sebutnya.
Ia mengkritik kecenderungan sebagian orang yang hanya datang memotret kebakaran tanpa ikut memadamkan api.
Bagi Muliadi, menulis seharusnya tidak berhenti pada deskripsi peristiwa, tetapi menyentuh akar persoalan dan mendorong kesadaran.
Dalam konteks jurnalisme warga, ia mengajak siapa pun untuk menulis dari hal-hal paling dekat: ruang tempat kita duduk, jalan yang kita lalui, hujan yang kita rasakan. Dunia, baginya, adalah “gua”—tempat menerima cahaya kesadaran yang harus disebarkan kembali. Dan para penulis warga adalah pembawa cahaya itu.
Menulis sebagai Jejak Kehidupan
Menjelang usia 58 tahun, Muliadi menulis tapak-tapak hidupnya sendiri—sebuah refleksi perjalanan panjang yang belum sepenuhnya diterbitkan.
Ia juga menulis puisi-puisi tentang pangan, esai-esai pasca-Ramadan, serta narasi reflektif dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacanya setiap magrib, satu ayat setiap hari.
Sebagai anak pesantren dan alumni IMMIM Tamalanrea, spiritualitas menjadi kompas yang menjaga arah tulisannya. Topik boleh berubah, konteks boleh bergeser, tetapi nilai harus tetap: jujur, berpihak pada umat, bertanggung jawab secara sosial, sadar ekologi, dan dalam secara spiritual.
“Menulislah bukan karena sedang tren,” pesannya, “tetapi karena isu itu harus ditulis.”
Pada akhirnya, bagi Muliadi Saleh, tulisan adalah jejak. Ide yang tidak ditulis akan hilang, tetapi yang ditulis akan tinggal—menjadi saksi bahwa kita pernah hadir, peduli, dan mencoba memaknai hidup dengan jujur.
Redaksi









