Pesan Terbuka dari Seorang Alumni
Supriadi Syarif, Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin IKAFE 84 Unhas
PELAKITA.ID – Terpilihnya kembali Prof. Dr. Jamaluddin Jompa sebagai Rektor Universitas Hasanuddin untuk periode kedua bukanlah sekadar keberlanjutan jabatan.
Ia adalah penegasan mandat kepemimpinan akademik di tengah fase paling menentukan dalam perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Periode kedua selalu membawa makna berbeda: bukan lagi soal pembuktian kapasitas, melainkan tentang warisan pemikiran, keberanian arah, dan dampak jangka panjang.
Sebagai alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, kami memandang momen ini dengan harapan sekaligus kewaspadaan intelektual.
Bangsa ini sedang menghadapi tantangan berlapis—transformasi ekonomi, tekanan geopolitik global, krisis lingkungan, ketimpangan sosial, hingga kualitas demokrasi.
Dalam situasi demikian, universitas tidak cukup hanya menjadi institusi penghasil ijazah dan peringkat, tetapi harus tampil sebagai penjaga nalar publik dan penuntun arah kebijakan.
Periode Kedua: Dari Stabilitas ke Kepemimpinan Visioner
Dukungan kuat Majelis Wali Amanat dalam pemilihan rektor menunjukkan kepercayaan terhadap stabilitas dan capaian kepemimpinan sebelumnya. Namun periode kedua justru menuntut lompatan kualitas.
Tantangannya bukan lagi menjaga ritme organisasi, melainkan memastikan Universitas Hasanuddin hadir secara relevan dalam menjawab persoalan bangsa.
Di titik ini, kepemimpinan rektor diuji pada kemampuannya membangun ekosistem akademik yang berani: berani berbeda, berani kritis, dan berani mengambil posisi etik ketika kebijakan publik menjauh dari kepentingan rakyat. Kampus tidak boleh sekadar aman secara administratif, tetapi harus resah secara intelektual.

Tantangan Bangsa dan Tanggung Jawab Kampus
Indonesia dianugerahi sumber daya alam besar, tetapi masih bergulat dengan kemiskinan, kerentanan ekonomi rumah tangga, dan ketimpangan antarwilayah.
Hilirisasi, transisi energi, swasembada pangan, dan perlindungan sosial kerap dipromosikan sebagai jawaban. Namun realitas menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan ini belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan yang adil.
Di sinilah peran universitas menjadi krusial. Kampus harus menjadi ruang lahirnya analisis kebijakan yang jujur dan berbasis data, bukan sekadar penguatan narasi kekuasaan.
Riset tidak boleh berhenti di jurnal, tetapi harus menjelma menjadi rekomendasi kebijakan yang berpihak pada peningkatan kualitas hidup rakyat.
Sebagai kampus besar di Indonesia Timur, Unhas memikul tanggung jawab ganda: membangun keunggulan akademik global sekaligus menjawab kebutuhan lokal dan regional.
Ini menuntut keberanian untuk menjadikan isu kemaritiman, pertanian, energi, ekonomi rakyat, dan keadilan sosial sebagai arus utama pemikiran kampus, bukan sekadar pelengkap.
Indonesia Emas bukan sekadar bonus demografi, melainkan bonus kualitas manusia. Tantangan terbesar pendidikan tinggi hari ini adalah memastikan lulusan tidak hanya adaptif terhadap pasar kerja, tetapi juga memiliki integritas, daya kritis, dan kesadaran kebangsaan.
Kampus harus mencetak ekonom, teknokrat, birokrat, dan pemimpin masa depan yang memahami bahwa pertumbuhan tanpa keadilan akan melahirkan instabilitas.
Di sinilah Fakultas Ekonomi dan Bisnis, bersama disiplin ilmu lainnya, memegang peran strategis: mengajarkan bahwa kebijakan ekonomi selalu memiliki dimensi moral dan sosial.
Catatan Alumni- IKAFE 84 Unhas
Sebagai alumni, kami tidak berdiri di luar pagar. Pesan ini lahir dari rasa memiliki terhadap Kampus Merah.
Terpilihnya kembali rektor adalah momentum untuk memastikan bahwa Unhas tidak terjebak dalam kenyamanan institusional, tetapi terus menajamkan fungsi intelektualnya sebagai sentral pemikiran nasional.
Kami berharap kepemimpinan periode kedua ini mampu membuka ruang dialog yang luas, merawat kebebasan akademik, dan menempatkan kampus sebagai mitra kritis negara—bukan sekadar pelaksana agenda.
Indonesia Emas 2045 adalah proyek peradaban, bukan proyek jangka pendek. Universitas memegang peran strategis dalam menentukan apakah bonus demografi akan menjadi berkah atau bencana.
Kepemimpinan rektor periode kedua di Universitas Hasanuddin adalah amanah sejarah: memastikan Kampus Merah tidak hanya mengikuti zaman, tetapi membentuk arah zaman—melahirkan insan akademik yang unggul, berkarakter, dan berpihak pada masa depan bangsa.
____
*) Artikel ini adalah hak kreasi dan sepenuhnya merupakan tanggung jawab Penulis









