Menikmati Senja, Si’e, dan Hamparan Sawah di Desa Nikkel

  • Whatsapp
Penulis di depan si'e Desa Nikkel

PELAKITA.ID – Sore ini, bersama Mardi, Darsam, dan Enda, kami memulai perjalanan singkat dari posko kami di Jalan Sumatera menuju jantung Desa Nikel. Bro Mardi, yang dikenal gesit dan penuh energi, menjadi pemandu sekaligus teman healing sore ini.

Tujuan kami menikmati suasana pedesaan dan berjalan menyusuri jalan setapak menuju hamparan sawah sambil mencari mangga yang banyak tumbuh di sekitar desa.

Hamparan Sawah yang Menguning di Desa Nikel

Kami melewasi kali kecil di timur Pontada. Mencari mangga jatuh yang oleh warga setempat disebut cakara lalu menuju hamparan sawah melalui jalan setapak. Hamparan sawah menguning, siap panen, menjadi pemandangan yang menenangkan mata.

Lanskap Sorowako sebagai Kota Tambang terasa menyejukkan mata.

Inilah suasana Desa Nikel, terutama di sisi baratnya. Padi-padi yang menguning menunjukkan bahwa sebagian lahan baru saja atau sedang memasuki masa panen.

Melintasi kali di antara Pontada dan Nikkel
Menyapa warga yang berburu sayur mayur liar (dok: Istimewa)

Kami juga beruntung bertemu beberapa warga yang sedang mengumpulkan sayur-sayuran liar — tanaman yang tumbuh alami namun dapat diolah menjadi sayur segar. Bro Mardi sempat berbincang dengan mereka untuk mengetahui nama dan kegunaan tanaman tersebut.

Di salah satu titik, kami melihat aktivitas panen menggunakan mesin combine — atau yang oleh petani disebut “doser”. Menariknya, mesin combine yang beroperasi di Desa Nikel ini berasal dari Kabupaten Bone, tepatnya dari daerah Cina.

Menurut penjelasan Enda, ada mekanisme transaksi khusus: operator combine dibayar berdasarkan satuan panen, sekitar Rp25.000 per karung atau satuan tertentu. Empat orang operator dari Bone mengoperasikan mesin ini, bekerja berdasarkan permintaan petani atau pengusaha pertanian setempat.

Dari hasil percakapan dengan salah satu operator, kami mengetahui bahwa mereka telah menempuh rute panjang selama hampir dua bulan: mulai dari Kecamatan Lamasi di selatan, menyusuri jazirah utara Luwu, Luwu Utara, bahkan sampai Mangkutana sebelum akhirnya tiba dan bekerja di Desa Nikel, Kecamatan Nuha. Mobilitas ini menunjukkan betapa besarnya kapasitas produksi pertanian di wilayah Luwu Timur.

Meskipun pemerintah dan PT Vale telah menyediakan beberapa unit combine untuk kecamatan seperti Wasuponda, Towuti, dan Nuha, rupanya kebutuhan panen masih lebih besar daripada kemampuan alat yang tersedia. Karena itu, kehadiran combine dari Bone menjadi solusi sekaligus peluang ekonomi bagi petani dan operator alat.

Melihat Combine bekerja
Jogging menuju si’e Nikkel
Hamparan sawah menguning di Desa Nikkel
Kompleks si’e yang dibangun atas dukungan PKPM Terfokus PT Vale

 Mangga, Cabe, dan Nikmatnya Sore di Desa Nikel

Sore itu, empat petani yang mendampingi operator asal Bone membagikan mangga yang mereka petik di sekitar area panen padi.

Memang, di sekitar Desa Nikel — khususnya wilayah Nuha — banyak pohon mangga yang tumbuh subur dan berbuah lebat. Buahnya kerap jatuh secara alamiah dan bisa dipungut bebas oleh warga.

Perjalanan pulang kami juga disuguhi pemandangan padi menguning sepanjang jalan menuju lumbung wisata Desa Nikel yang terkenal eksotik. Paduan warna hijau, kuning, dan cahaya matahari sore benar-benar menjadi suguhan visual yang memanjakan mata.

Kami sempat singgah di area lumbung wisata. Lumbung dalam bahasa Padoe disebut si’e, di sana terpajang papan informasi kegiatan, dan suasana tempat itu benar-benar indah — cocok untuk sekadar duduk menikmati angin sore sambil berbincang.

Saat meninggalkan Desa Nikel, kami disambut pemandangan sebuah lomba kasti yang sedang berlangsung. Anak-anak dan warga tampak antusias, menambah suasana hidup dan menyenangkan sore itu.

Dengan hati gembira, kami melanjutkan perjalanan kembali ke posko di Jalan Sumatera. Pemandangan sepanjang jalan menuju posko sungguh memanjakan mata — suguhan gratis dari kawasan lingkar tambang Nuha, Towuti, Malili, hingga Wasuponda.

___
Denun, Nikkel 28 November 2025