Dalam doa, manusia kembali menjadi makhluk yang sadar akan keterbatasannya. Kita menyadari betapa luasnya semesta dan betapa kecilnya kita di hadapan-Nya.
PELAKITA.ID – Kini doa bisa diketik dan dikirim lewat pesan instan. Kalimat “semoga sehat dan sukses, lekas sembuh” muncul di kolom komentar lebih cepat dari suara hati yang benar-benar bergetar. Masihkah doa memiliki kedalaman makna, ataukah ia telah menjadi sekadar simbol komunikasi sosial?
Manusia abad digital hidup dalam kecepatan. Berpindah dari notifikasi ke notifikasi, dari satu layar ke layar lain, seakan kehidupan adalah deretan pop-up yang tak sempat direnungkan. Dalam hiruk-pikuk ini, doa sering kehilangan keheningannya. Padahal, doa sejatinya adalah jeda — ruang sunyi tempat manusia berbicara dengan Tuhan sekaligus dengan dirinya sendiri.
Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 186)
Ayat ini seolah berbisik lembut: jarak antara manusia dan Tuhannya tidak diukur oleh sinyal atau jaringan, melainkan oleh kehadiran hati.
Dalam riuhnya dunia maya, keheningan menjadi barang langka. Kita sulit duduk diam tanpa gawai. Padahal, para sufi mengajarkan bahwa keheningan adalah bahasa pertama antara hamba dan Sang Pencipta. Jalaluddin Rumi menulis:
“Bicaralah dalam diam, sebab diam adalah bahasa Tuhan; segala yang lain hanyalah terjemahan yang tak sempurna.”
Keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang bagi makna untuk berbicara. Di situlah doa menemukan nadinya — bukan sekadar bunyi, tetapi resonansi batin.
Namun kini manusia seolah kehilangan arah spiritual di tengah banjir informasi. Mengetahui banyak hal, tetapi jarang memahami sesuatu secara mendalam.
Membaca ribuan kata setiap hari, tetapi jarang menyelam ke dalam makna. Doa, yang dahulu lahir dari kedalaman rasa, kini sering bergeser menjadi teks instan — “amin” yang dikirim cepat tanpa renung lewat sticker. Doa kolektif yang menenangkan, jarang menumbuhkan kesadaran.
Era digital memang menciptakan paradoks. Ia memperluas koneksi, namun menyempitkan kehadiran. Ia mempercepat komunikasi, tapi menunda perjumpaan sejati. Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim).
Maka dalam setiap doa, yang dinilai bukanlah kata-katanya, melainkan getar hatinya. Teknologi hanyalah alat; makna doa tetap bergantung pada ikhlas dan hadirnya jiwa. Jika hati hadir, maka setiap klik bisa menjadi dzikir; setiap unggahan bisa menjadi syiar; setiap jeda mengetik bisa menjadi ruang tafakur.
Para pemikir modern menyebut era ini sebagai the age of distraction — zaman keteralihan. Dalam kondisi seperti ini, doa menjadi bentuk perlawanan halus terhadap banjir distraksi. Ketika kita menutup layar dan menengadahkan tangan, itu adalah deklarasi kecil: bahwa kita masih manusia yang memerlukan makna, bukan mesin yang memproses data. Bahwa kita masih ingin berbicara dengan Yang Tak Terlihat, bukan hanya yang terlihat di layar.
Dalam doa, manusia kembali menjadi makhluk yang sadar akan keterbatasannya. Kita menyadari betapa luasnya semesta dan betapa kecilnya kita di hadapan-Nya.
Doa meneguhkan kembali relasi eksistensial antara manusia dan Tuhan, yang sering terkaburkan oleh kesibukan digital. Ia menjadi “rem spiritual” yang mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tanpa kedalaman makna hanyalah percepatan menuju kehampaan.
Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam al-Hikam berkata:
“Tidak ada yang menghalangimu untuk berdoa kecuali karena kau tidak mengenal Tuhanmu. Jika kau mengenal-Nya, maka kau akan tahu bahwa doa bukan untuk memberitahu, tapi untuk mendekatkan.”
Kata-kata ini seakan menyentuh hati manusia modern yang serba terburu-buru. Kita sering berdoa untuk mendapatkan sesuatu, bukan untuk mengenal-Nya. Padahal doa adalah perjalanan pulang menuju kesadaran — dari layar menuju nurani, dari dunia maya menuju dunia nyata di dalam jiwa.
Dalam konteks sosial, doa di era digital juga menghadirkan dimensi baru dari kebersamaan spiritual. Di antara gemuruh komentar, doa bisa menjadi bentuk solidaritas yang lembut. Ketika ribuan orang menulis “pray for…”, itu bukti bahwa manusia masih memiliki ruang empati. Namun empati digital perlu dilanjutkan dengan tindakan nyata: tangan yang menolong, langkah yang bergerak, hati yang menyala.
Spiritualitas digital menuntut keseimbangan antara koneksi horizontal dan vertikal. Kita terhubung dengan jutaan manusia, tetapi jangan sampai kehilangan hubungan dengan Yang Maha Esa. Di sinilah makna doa menjadi penting: ia bukan pelarian dari dunia digital, melainkan penyaringnya. Ia menjaga agar arus informasi tidak mencabut akar kesadaran, agar teknologi tetap menjadi alat kemanusiaan, bukan tuannya.
Doa di era ini harus dihidupkan kembali sebagai kesadaran kritis. Ia tidak cukup diucapkan, tetapi perlu dihayati; tidak sekadar ditulis, tetapi dipraktikkan dalam etika digital: dalam cara kita berbagi, menanggapi, dan menulis di ruang maya. Doa sejati adalah refleksi dari kebersihan hati, dan dunia digital sangat membutuhkan hati yang bersih — di tengah kebisingan opini, hoaks, dan hasrat untuk selalu benar.
Sebagaimana Al-Qur’an mengingatkan:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 28)
Akhirnya, doa adalah upaya manusia untuk memaknai hidup yang terus bergerak cepat. Ia adalah cara untuk melambat di tengah percepatan. Dalam setiap desahan doa, ada jeda bagi jiwa untuk bernafas. Dan mungkin, justru di situlah letak kemajuan spiritual sesungguhnya: bukan ketika manusia mampu menciptakan mesin yang meniru pikirannya, tetapi ketika ia masih mampu menemukan ketenangan di antara ribuan notifikasi yang memanggilnya setiap detik.
Karena pada akhirnya, di atas segala algoritma, ada sesuatu yang tak bisa diprogram: kesadaran hamba dan rindu kepada-Nya.
Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan
