Mustamin Raga | Ikan yang Tak Pernah Busuk

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

Kejujuran itu seperti ikan segar. Disimpan di tempat yang salah, ia akan busuk. Tapi kalau dijaga dengan ikhlas, baunya akan jadi doa.

PELAKITA.ID – Pagi itu udara masih menyimpan sisa embun. Jalan di kompleks perumahan tampak lengang, hanya sesekali terdengar siulan burung dari rumah di sudut jalan.

Suara sepeda motor Dg Rala memecah kesunyian kompleks kecil yang tak lebih dari dua puluh rumah.

Di sisi kiri dan kanan motornya, dua peti ikan terikat rapi berisi kembung segar yang berbaris seperti pasukan laut di atas bongkahan es yang mulai mencair. Aroma asin yang khas menyebar, jujur dan apa adanya.

Beberapa menit sebelumnya, Dg Rala baru saja melepas napas panjang. Ia baru keluar dari “pertandingan sengit” yang tak seimbang—drama tawar-menawar dengan seorang ibu muda yang wajahnya cantik tapi lidahnya tajam, seolah tiap kata lahir dari kalkulator hidup.

Ibu itu menatap ikan-ikan dengan penuh curiga. Jari telunjuknya menyentuh insang seakan memeriksa barang antik, lalu berucap lirih tapi menusuk: “Ah, matanya kurang jernih, Pak. Tiga puluh ribu saja ya sepuluh ekor.”

Dg Rala tersenyum sopan, menahan sabar yang mulai bergetar.

“Maaf, Bu, itu harga dari pelelangan sudah tiga puluh lima. Saya ambilnya pun pagi buta,” katanya pelan.

Tapi ibu muda itu hanya mengibaskan tangan, seolah menepis angin.

“Ya, tapi di pasar lebih murah. Kalau tiga puluh saja masih saya pikir-pikir, deh.”

Nada suaranya tajam seperti duri di tangan nelayan. Tawarnya bukan sekadar hemat, tapi seperti ingin menaklukkan. Setiap kalimatnya terdengar seperti keyakinan bahwa dunia harus selalu berpihak pada pembeli—tak peduli sekecil apa napas pedagang di depannya.

Negosiasi itu berlangsung seperti pertarungan harga diri.

Akhirnya, Dg Rala menyerah. Ikan kembung yang ia dapat dengan harga Rp35 ribu per sepuluh ekor akhirnya dijual dengan harga yang sama—tanpa untung, bahkan sedikit merugi. Ibu muda itu tersenyum puas, membayar dengan gaya seseorang yang merasa telah menegakkan keadilan ekonomi.

Dg Rala hanya menunduk. Ia kalah, tapi tidak kehilangan dirinya.

Ia jalankan motornya perlahan menuju blok lain. Dalam hati, ia berjanji: lain kali harus lebih siap.
Ia memutuskan untuk menaikkan sedikit harga jual, bukan untuk menipu, tapi berjaga-jaga.

“Lima puluh ribu sepuluh ekor, Bu,” ujarnya mantap, ketika seorang perempuan berkerudung lembut menghampiri gerobaknya.

Namanya Ibu Yati, perempuan berusia sekitar lima puluhan, geraknya tenang, matanya teduh namun jeli. Tangannya memeriksa insang dan mata ikan dengan cekatan—seperti seorang ibu yang tahu kapan ikan harus disyukuri, bukan dicurigai.

“Masih segar, ya,” ucapnya pendek.

“Masih baru dari pelelangan pagi tadi, Bu,” jawab Dg Rala cepat, separuh bersiap menghadapi tawar-menawar seperti sebelumnya.

Tapi yang ditunggu tak kunjung datang.

Tak ada suara “tiga puluh lima saja ya, Pak,” tak ada nada menekan. Yang datang justru senyum kecil dan kalimat ringan: “Bungkus dua puluh ekor, ya.”

Dg Rala sempat bengong. Seluruh strateginya seolah tak berguna. Ia membungkus ikan dengan canggung, merasa bersalah tanpa tahu sebabnya. Ketika uang seratus ribu berpindah tangan, dadanya seperti diguncang sesuatu yang lembut tapi dalam.

Ia tahu dengan harga itu, ia mendapat untung lumayan. Tapi entah kenapa, hatinya tidak tenang.

Ia menatap uang itu sejenak, lalu membuka dompet kulitnya yang mulai aus. Dengan gerak ragu namun tegas, ia mengambil selembar uang hijau dan mengulurkannya kembali.

“Bu, harganya sebenarnya empat puluh ribu per sepuluh ekor. Itu saya sudah untung. Tadi saya pasang lima puluh untuk jaga-jaga kalau ditawar. Maafkan saya, Bu. Ini kembaliannya.”

Ibu Yati menatapnya lama. Pandangannya dalam, bukan marah, tapi seolah menembus ke dasar hati.

“Oh, Dg Rala… ikannya bagus dan masih segar. Cocok mi itu harganya. Untuk penjual seperti kita, saya memang tidak akan menawar.”

Kalimat itu menetes pelan, tapi maknanya tajam seperti pisau bersih yang membelah kejujuran.

Ibu Yati memang dikenal di kompleks itu sebagai perempuan yang selalu berpihak pada pedagang kecil. Ia sering berkata,

“Kalau kita menawar terlalu rendah, yang hilang bukan cuma harga—tapi juga rasa syukur orang yang menjualnya.”

Dg Rala menunduk, suaranya lembut tapi mantap, “Biar saya ambil yang halal saja, Bu.”

Angin berembus pelan, menggerakkan ujung kerudung Ibu Yati. Keduanya diam beberapa detik, seolah laut jauh di sana ikut menatap mereka.

Ada sesuatu yang sukar dijelaskan dalam perasaan itu. Bukan soal uang dua puluh ribu, bukan pula soal harga ikan. Tapi tentang sebuah garis tipis yang sering dilanggar: antara cukup dan tamak, jujur dan pura-pura, ikhlas dan licik.

Ibu Yati tersenyum, menepuk ringan lengan Dg Rala. “Kalau semua orang berpikir seperti itu, Dg Rala, mungkin dunia akan lebih teduh. Ikan-ikan pun tidak akan cepat busuk.”

Kalimat itu menancap dalam dada Dg Rala. Ia menatap ikan-ikannya, dan tiba-tiba merasa bahwa kejujuran pun punya aroma: tak amis, tak menyengat, tapi menyegarkan—seperti angin laut yang bersih.

Sepanjang perjalanan pulang, roda motornya berputar lembut. Ia merasa lebih ringan, meski uang di sakunya tak bertambah banyak. Ada kebahagiaan yang tak bisa dihitung dengan rupiah—rasa damai yang muncul ketika seseorang menolak keuntungan dari kebohongan.

Dalam hati, ia berbisik, “Kejujuran itu seperti ikan segar. Disimpan di tempat yang salah, ia akan busuk. Tapi kalau dijaga dengan ikhlas, baunya akan jadi doa.”

Matahari perlahan naik. Di sela cahaya yang menembus pepohonan, tampak wajah Dg Rala yang tenang. Ia tahu hidup tidak selalu adil; kadang orang baik harus kalah dalam hitung-hitungan. Tapi ia juga tahu, tidak semua kekalahan berarti rugi.
Sebab di ujung setiap keikhlasan selalu ada keuntungan yang tak terlihat—keuntungan yang entah bagaimana caranya, kelak akan dikembalikan oleh Tuhan.

Dan mungkin, pikirnya sambil tersenyum,
ikan-ikan yang dijual dengan kejujuran…
tidak hanya mengenyangkan perut, tapi juga menyehatkan hati.

Gerhana Alauddin, 14 Oktober 2025