Mudasir Zainuddin Terpilih sebagai Ketua Jaringan Adopsi Karang (JARI) Indonesia

  • Whatsapp
Mudasir Zainuddin (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Mudasir Zainuddin didapuk sebagai Ketua Jaringan Adopsi Karang Indonesia (JARI). Alumni Biologi Universitas Hasanuddin dan lulusan Magister Ilmu Kelautan ini dikenal aktif dalam upaya restorasi dan konservasi karang di berbagai wilayah pesisir Indonesia.

Pengangkatan Mudasir disambut hangat oleh sejumlah pihak yang tergabung dalam JARI. Ucapan selamat mengalir dari berbagai daerah, antara lain Arif ‘Eyang Muda’ Kusdiat dari Brave Bantaeng, Herdiyanto dari Gorontalo, Regar dari Kupang, hingga Dina dari Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Timur.

Hadir juga perwakilan dari Fakfak dan Ahyuni dari Kabupaten Bone. Kehadiran mereka menunjukkan semangat kolaborasi lintas daerah dalam menjaga ekosistem terumbu karang.

Tentang JARI?

Jaringan Adopsi Karang Indonesia (JARI) merupakan wadah kolaborasi yang menghubungkan komunitas, akademisi, pegiat lingkungan, pelaku usaha, hingga masyarakat pesisir dalam upaya restorasi terumbu karang berbasis adopsi.

Melalui mekanisme adopsi, individu maupun institusi dapat berkontribusi langsung dalam penyelamatan karang dengan mendukung penanaman dan pemeliharaan fragmen karang di laut.

Untuk memperkuat gaungnya, JARI memiliki figur publik sebagai Duta Adopsi Karang Indonesia, yakni Fadly PADI, vokalis grup band legendaris Padi Reborn. Kehadiran Fadly diharapkan menjadi jembatan antara dunia musik, generasi muda, dan gerakan lingkungan, sekaligus mengajak lebih banyak masyarakat luas untuk ikut terlibat dalam menjaga ekosistem laut.

Menurut Muhammad Syakir, salah satu sosok di balik pendirian JARI, ada peluang bagi 59 anggota jejaring JARI untuk memanfaatkan sosok seperti Fadly PADI sebagai brand ambassador bagi promosi dan perintisan kerjasama dengan sponsor atau pendonor anakan karang.

Membincang masa depan JARI (dok: Pelakita.ID/Istimewa)

Mengapa JARI Hadir?

Muhammad Syakir menyebut, JARI lahir dari kebutuhan akan gerakan bersama dalam menghadapi kerusakan terumbu karang yang kian mengkhawatirkan akibat penangkapan ikan destruktif, pencemaran, perubahan iklim, dan aktivitas manusia lainnya.

Dengan pendekatan adopsi, JARI membuka ruang partisipasi luas bagi masyarakat, sehingga konservasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau peneliti, melainkan gerakan kolektif nasional.

Konservasi karang memiliki manfaat yang sangat vital bagi Indonesia, negara dengan luas terumbu karang terbesar di dunia. Ekologi – Terumbu karang adalah rumah bagi lebih dari 25% spesies laut dunia. Restorasi berarti menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati.

Dampak Ekonomi – Karang sehat mendukung perikanan tangkap dan pariwisata bahari yang menjadi sumber penghidupan jutaan masyarakat pesisir.

Perlindungan Pesisir – Karang berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang besar. Edukasi dan Kesadaran Publik – Program adopsi karang mendorong masyarakat luas untuk lebih dekat dan peduli pada laut, menjadikannya bagian dari solusi.

Dengan terpilihnya Mudasir Zainuddin sebagai Ketua JARI, didukung oleh kehadiran Fadly PADI sebagai Duta Adopsi Karang Indonesia, diharapkan gerakan adopsi dan konservasi karang semakin meluas, terorganisir, dan memberi dampak nyata.

Muhammad Syakir menganggap sosok Mudasir sangat pantas untuk membantu mengkoordinasikan peluang, kerjasama dan pertukaran informasi antara anggota yang kini mencapai 59  orang dan lembaga.

Lebih Dekat Mudasir

Mudasir Zainuddin, S.Si., M.Si., lahir di Pangkajene, 2 Juni 1986, merupakan akademisi sekaligus pegiat konservasi laut yang kini dipercaya sebagai Ketua Jaringan Adopsi Karang Indonesia (JARI). Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Pangkep sebelum melanjutkan studi S-1 Biologi di Universitas Hasanuddin (2006–2012).

Gelar magister pertama diraih pada program Pengelolaan Lingkungan Hidup (2016), disusul gelar S-2 kedua pada bidang Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Terpadu (2017–2021). Latar belakang akademik ini menegaskan dedikasinya pada kajian lingkungan dan ekosistem pesisir.

Dalam kiprah profesionalnya, Mudasir mengabdikan diri sebagai dosen Perikanan di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Wira Bhakti. Selain dunia akademik, ia juga dikenal sebagai instruktur selam berlisensi internasional dari Association of Diving School (ADS) International. Kombinasi keilmuan dan keterampilan menyelam ini menjadi fondasi penting bagi aktivitas lapangan, khususnya dalam riset dan restorasi terumbu karang.

Pengalaman Mudasir semakin kaya melalui berbagai pelatihan krusial di dalam dan luar negeri. Sejak 2009, ia mengikuti Training Course of Scuba Diving, International Tropical Marine Ecology Special Training (MEST), hingga program Reef Check EcoDiver.

Ia juga pernah mengikuti Master’s Class in Marine Biology bersama AIPI dan KNAW Belanda, serta pelatihan marine biotechnology yang memperdalam pemahamannya tentang biologi kelautan.

Sertifikasi sebagai dive master, rescue diver, hingga scuba inspection diver turut memperlengkap keahliannya di bidang riset bawah laut.

Dari sisi riset, Mudasir terlibat dalam berbagai kajian penting. Skripsinya menyoroti penutupan karang di Pulau Lae-lae dan Bone Batang, sementara tesisnya meneliti aspek eko-fisiologi karang Porites lutea pada habitat marginal.

Ia juga berperan dalam penelitian biodiversitas di sejumlah Terminal BBM Pertamina di Sulawesi, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara. Keterlibatannya sebagai penulis dan kontributor menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal nasional, internasional, serta buku bertema ekologi laut dan biodiversitas pesisir.

Penulis Denun