PELAKITA.ID – Bulukumba, 31 Agustus 2025 — Di tengah hamparan sawah Siring Bambu, para pemuda SSB Batugarumbing mengibarkan Sang Merah Putih. Upacara sederhana ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah ikrar: Upacara Maradeka.
Ketika di banyak tempat bangsa diuji oleh gelombang amarah dan kekecewaan, desa kecil ini memilih menyalakan obor harapan dengan cara yang jujur—melalui duka, tekad, dan gotong royong.
Minggu pagi itu, bendera dikibarkan setengah tiang. Bukan karena aturan protokol, melainkan sebagai tanda duka dan penghormatan. Duka bagi mereka yang menjadi korban dalam hiruk pikuk bangsa, sekaligus doa agar jalan persatuan kembali terbuka.
“Seharusnya pemimpin hadir untuk rakyat, duduk bersama rakyat. Bukan hanya memberi janji, melainkan solusi yang nyata,” ungkap Muh. Alif Dermawan, Ketua Umum SSB Batugarumbing, dengan nada penuh harapan meski bercampur getir.
Namun dari rasa kehilangan itu, para pemuda belajar arti kemerdekaan yang sejati. Bagi mereka, merdeka bukan sekadar kata-kata indah dalam pidato, melainkan keberanian menegakkan persatuan di tengah keterbatasan.
Di sawah yang berlumpur, di bawah terik matahari, kibaran Merah Putih menjadi saksi bahwa rakyat masih teguh, masih punya daya juang, dan selalu menemukan kekuatan dalam kebersamaan.
Pertanyaan besar tetap menggantung: untuk apa ada pemerintah bila rakyat masih merasa berjalan sendiri? Tapi pemuda Siring Bambu memilih menjawabnya dengan sikap positif: rakyat tidak pernah berhenti berdiri, rakyat tidak pernah kehilangan semangat.
Mereka sadar, sejarah bangsa ini tidak hanya ditulis oleh pemerintah, melainkan juga oleh keteguhan rakyat di desa-desa.
Upacara Maradeka di Siring Bambu meninggalkan pesan yang kuat: meski bangsa ini tengah menghadapi luka, selalu ada generasi muda yang menjaga asa.
Selalu ada gotong royong yang menyatukan. Dan selalu ada Merah Putih yang berkibar, mengingatkan bahwa harapan untuk Indonesia yang lebih baik tidak pernah padam.
Penulis Musakkir Satu Pena
