Renungan dari Desa, Tentang Kemerdekaan tanpa Solusi

  • Whatsapp
Renungan dari Desa, Tentang Kemerdekaan tanpa Solusi (dok: Sakkir Satu Pena)

PELAKITA.ID – Bulukumba, 31 Agustus 2025 — Di tanah ini, kemerdekaan terlalu sering hanya menjadi pesta para elit. Desa diposisikan sekadar penonton, dibungkam dengan amplop, dijanjikan pembangunan yang tak kunjung tiba.

Kesejahteraan tinggal mimpi, serta demokrasi yang hanyalah topeng. Janji-janji itu bukan untuk ditepati, melainkan untuk menghisap dan mengikat rakyat kecil agar tetap tunduk di bawah bayang-bayang Republik Mafia.

Ketua Umum SSB Batugarumbing, Muh. Alif Dermawan, menegaskan bahwa desa tanpa solusi adalah potret pengkhianatan.

Bontonyeleng menjadi saksi: petani dan buruh hanya kebagian remah dari meja kemerdekaan.
Parade bendera dan musik hanyalah gincu di wajah luka. Hak mereka dirampas, akses dijual, dana desa belum terkelola dengan efektif.

Kemerdekaan ini, kata mereka, seharusnya milik rakyat. Namun kenyataannya, rakyat dipaksa diam, dipaksa patuh, sementara penguasa tidur di atas agendanya sendiri. Tangan rakyat diikat hutang, keadilan dirampas, janji dikhianati. Praktik fasisme merayap, berusaha membunuh suara mereka.

Dari narasi kepahitan di perdesaan itu lahirlah tekad: kemerdekaan sejati tidak datang dari atas, melainkan tumbuh dari bawah. Dari hutan, tanah, ari, dari akar, dari keberanian pemuda desa yang tak lagi rela dibungkam.

Aedil dari komunitas Siring Bambu menyatakan bahwa kemerdekaan bukan hadiah negara. Ia bukan barang obral untuk kekuasaan. Kemerdekaan sejati adalah perlawanan, penolakan terhadap simbol kosong, pembebasan dari penindasan.

”Kami menolak tunduk. Kami menolak diam. Kami menolak mengikuti pemerintah yang tak peduli nasib warganya.”

Dan ketika pesta kemerdekaan usai, ketika bunyi-bunyian berhenti, yang tersisa hanyalah suara rakyat: Sadda Maradeka!

Bukan janji pemerintah, melainkan nyanyian dari perut bumi desa—alunan gambus yang lahir dari penderitaan, keberanian, serta darah dan tekad untuk benar-benar bebas.

Terima kasih untuk semua yang terlibat dalam Merespon Agustus: Sebab Seni Juga Merdeka. Sampai jumpa di Maradeka berikutnya.

Penulis Musakkir Satu Pena