PELAKITA.ID – Bantaeng, 30 Agustus 2025 — Masyarakat, perwakilan insitusi, hingga laut Desa Pajjukukang menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan baru.
BRAVE Diving Club resmi dikukuhkan, bersamaan dengan aksi nyata transplantasi karang yang menurunkan 100 spider berisi fragmen Acropora.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan perwujudan gotong royong antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat. BRAVE Diving Club sendiri terbentuk dari gabungan berbagai unsur: Dinas Perikanan Bantaeng, Basarnas, Tagana, TRC, BPBD, Damkar, hingga PSC 119. Semua bersatu demi satu tujuan: menjaga laut, menjaga kehidupan.
“Meski diinisiasi secara swadaya, acara ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Bantaeng dan sejumlah sponsor swasta,” ucap Arif Kusdiat, salah satu satu pilar BRAVE Diving Club.


“Kegiatan ini merupakan inisiatif swadaya BRAVE Diving Club yang mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Bantaeng, serta melibatkan sponsor dari pihak swasta. Acara dihadiri Bupati Bupati Bantaeng termasuk unsur Forkopimda lainnya, para kepala OPD Bantaeng, tokoh masyarakat, dan sejumlah mitra strategis,” jelasnya.
Sekitar 300 orang hadir, mulai dari Forkopimda, OPD, akademisi, hingga tokoh masyarakat. Kehadiran Kepala Puslitbang Unhas, Kepala BPSPL, Basarnas, JARI, MSDC, serta pejabat kementerian menambah bobot kegiatan ini,” Arif Kusdiat, penggiat konservasi laut di Bantaeng kepada Pelakita.ID, Ahad, 30 Agustus 2025.
BRAVE Diving Club beranggotakan unsur dari Dinas Perikanan Bantaeng, Basarnas, Tagana Bantaeng, Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinsos Bantaeng, TRC Jeneponto, BPBD Bantaeng, Damkar Bantaeng, dan PSC 119.
Menurut pria yang juga salah satu pilar BRAVE ini, lokasi transplantasi dipilih di perairan Pajjukukang, hanya 0,4 mil laut dari pantai, dengan kedalaman 5 meter.

“Visibilitas memang terbatas, tetapi kekayaan ekosistemnya luar biasa: terumbu karang tumbuh, ikan endemik berenang bebas, dan kini ditambah rumah baru dari ratusan spider karang,” ujarnya.
“Spider yang ada merupakan bentuk dukungan dari PT Huady Nickel Alloy, selain itu sudah disediakan juga modul rumah ikan yang rencana akan juga diturunkan di lokasi yang sama,” jelas Arif.
Menurut alumni Ilmu Kelautan Unhas itu, lahirnya BRAVE Diving Club menandai langkah baru bagi Bantaeng. “Bahwa konservasi laut bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata. Dan dari Pajjukukang, obor itu dinyalakan,” pungkasnya
Ekologi lokasi penempatan spider web
Sebagai tambahah, Pelakita.ID, Arif Kusdiat berbagi informasi bahwa berdasarkan hasil pencatatan BRAVE, ditemukan sedikitnya 33 jenis ikan karang yang mendiami perairan lokasi pengamatan atau lokasi penempatan spider.
Jenis-jenis tersebut didominasi oleh keluarga Pomacentridae seperti Chromis viridis, Chrysiptera springeri, Neopomacentrus nemurus, Pomacentrus moluccensis, hingga Pomacentrus philippinus yang memang dikenal sebagai kelompok ikan karang kecil penetap (resident reef fish) dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu.

Beberapa jenis tercatat dalam jumlah cukup tinggi, misalnya Neopomacentrus nemurus (45 individu) dan Chromis viridis (18 individu), menunjukkan tingginya potensi keanekaragaman ikan karang di kawasan ini.
Selain itu, turut ditemukan ikan-ikan dari kelompok predator maupun pemakan invertebrata seperti Cephalopholis boenack, Epibulus insidiator, dan Balistapus undulatus yang menandakan adanya struktur rantai makanan yang masih terbentuk dengan baik.
Kehadiran jenis-jenis herbivora seperti Ctenochaetus striatus dan Acanthurus nigrofuscus juga menunjukkan fungsi penting ekosistem dalam mengendalikan pertumbuhan alga.
“Secara keseluruhan, data ini menegaskan bahwa meski kondisi perairan memiliki keterbatasan visibilitas, kawasan ini masih menyimpan potensi keanekaragaman ikan karang yang cukup kaya dan patut dijaga kelestariannya,” sebut Arif.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tutupan karang hidup (live coral) mencapai 38 persen, menandakan kondisi terumbu karang di lokasi ini masih cukup sehat dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Sementara itu, persentase karang mati (dead coral) relatif kecil yakni hanya 4%, sehingga memberikan indikasi bahwa degradasi terumbu karang belum terlalu mengkhawatirkan. Selain itu, keberadaan komponen biotik lain sebesar 12% juga memperlihatkan adanya keanekaragaman hayati yang turut mendukung produktivitas ekosistem perairan.
Di sisi lain, komponen abiotik justru mendominasi dengan angka 46%, menunjukkan sebagian besar area masih berupa pasir, puing, atau substrat keras yang berpotensi menjadi tempat tumbuh karang baru.
Kategori lainnya tidak tercatat (0%). Secara keseluruhan, kondisi perairan di lokasi ini dapat dikatakan cukup baik, namun tingginya proporsi abiotik membuka peluang besar bagi upaya rehabilitasi melalui kegiatan transplantasi karang agar tutupan karang hidup dapat terus meningkat di masa mendatang.
Sebagai tambahan, kondisi substrat dasar perairan di Stasiun 1, Desa Pa’jukukang. Substrat dasar perairan didominasi oleh lumpur halus yang menutupi sebagian area dasar laut.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi pertumbuhan karang karena endapan lumpur dapat menutup permukaan substrat yang seharusnya menjadi tempat menempel larva karang baru.
Selain itu, terlihat pula keberadaan biota karang dengan tipe pertumbuhan berbeda. Ada karang masif dari jenis Platygyra sp. yang memiliki bentuk menyerupai otak dengan pola berlekuk-lekuk. Karang jenis ini dikenal cukup tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang stabil.
Lalu ada karang lunak, yang memiliki tekstur lebih fleksibel dengan polip berbentuk menyerupai bunga atau tentakel kecil. Kehadiran kedua jenis karang ini menunjukkan adanya variasi struktur ekosistem yang berperan penting dalam mendukung keanekaragaman hayati perairan.
Redaksi