Mahasiswa Unhas Latih Penyandang Disabilitas SLB-A Yapti Makassar dalam Program Inclusive Communication

  • Whatsapp
Mahasiswa Unhas Latih Penyandang Disabilitas Netra SLB-A Yapti Makassar dalam Program Inclusive Communication

PELAKITA.ID – Makassar, 29 Agustus 2025 – Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian kepada Masyarakat melaksanakan program PEDULI (Pengembangan Dukungan dan Resiliensi Diri) melalui Inclusive Communication di SLB-A Yapti, Makassar.

Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan komunikasi asertif dan keberanian berbicara di depan umum bagi penyandang disabilitas netra.

Kegiatan berlangsung dalam dua sesi, pada 23 dan 28 Agustus 2025, pukul 13.00–15.30 WITA, dengan pendekatan berbasis praktik komunikasi dan public speaking.

“Kami ingin siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa berlatih secara aktif dan interaktif, sehingga mereka mampu mengekspresikan diri dengan lebih percaya diri,” jelas Andi Magfirah Ramadhani Asfar, Ketua Tim PKM dari Departemen Epidemiologi FKM Unhas.

Tim Pelaksana

Program ini dibimbing oleh Dr. Indra Fajarwati Ibnu, SKM., MA., dan dilaksanakan oleh lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas.

Selain Andi Magfirah (Epidemiologi) selaku ketua tim, anggota lainnya adalah Nasywa Salsabila Nasaruddin (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), Desinta Rahmawati (Epidemiologi), SQA Dinda Chairunnisa (Epidemiologi), dan Indri Sri Handayani (Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku).

Program ini juga mendukung upaya pencegahan kekerasan seksual bagi penyandang disabilitas netra dengan menekankan keterampilan komunikasi yang sehat, asertif, dan melindungi diri.

Jalannya Kegiatan

Pada pertemuan pertama, kegiatan diawali dengan ice breaking untuk mencairkan suasana. Fasilitator kemudian memperkenalkan konsep dasar komunikasi asertif melalui penjelasan verbal dan media audio.

Peserta diminta menirukan kalimat sederhana, seperti cara menolak dengan sopan, meminta bantuan, dan menyampaikan pendapat. Diskusi kelompok membantu mereka membedakan antara kalimat asertif, pasif, dan agresif.

Indikator keberhasilan pada tahap ini adalah kemampuan peserta menirukan minimal dua kalimat asertif dan mampu membedakan bentuk kalimat asertif dari pasif atau agresif. Keberhasilan diukur melalui observasi fasilitator dan refleksi siswa.

Pada pertemuan kedua, peserta diajak bermain sambil belajar untuk memperdalam pemahaman, lalu mengikuti simulasi debat mengenai perlindungan diri dan pencegahan pelecehan seksual.

Debat ini melatih keberanian berbicara, kemampuan menyampaikan argumen, sekaligus memperkuat rasa percaya diri.

Fasilitator memberikan umpan balik di akhir sesi untuk menegaskan poin penting komunikasi efektif. Keberhasilan diukur dari keberanian peserta berbicara minimal sekali di depan kelompok, kejelasan penyampaian pendapat, dan partisipasi aktif dalam diskusi.

Hasil yang Dicapai

Dari hasil evaluasi, sekitar 80% peserta menunjukkan keberanian berbicara di depan kelompok kecil, sementara 20% lainnya masih membutuhkan dorongan.

Temuan ini memperlihatkan adanya peningkatan nyata keterampilan komunikasi asertif, khususnya dalam hal keberanian tampil dan menyampaikan pendapat.

Dengan capaian tersebut, kegiatan tahap keempat program PEDULI ini dinilai berhasil mencapai indikator utama, yakni meningkatnya pemahaman dan keterampilan komunikasi penyandang disabilitas netra melalui latihan interaktif, partisipasi aktif, serta tumbuhnya rasa percaya diri dalam berbicara di depan orang lain.

Penulis: Indri Sri Handayani, mahasiswa PKP FKM Unhas