Arturo Escobar dan Imajinasi di Luar Cangkang Pembangunan

  • Whatsapp
Arturo Escobar (dok: https://www.elnacional.cat/AI Design)
  • Di banyak wilayah, dari Papua, Kalimantan, hingga Sulawesi, proyek-proyek pembangunan seperti pertambangan, jalan, bendungan, dan pariwisata justru mengancam wilayah hidup masyarakat lokal. Food Eatste di Kalimantan, Cetak Sawah di Papua, hingga reklamasi untuk Kota Baru di sejumlah kota Indonesia penuh daya rusak atas dalih pembangunan itu. 
  • Escobar menyoroti bagaimana model pembangunan semacam ini sering mengabaikan realitas dan kehendak komunitas yang terdampak.
  • Dia menyoroti bagaimana pembangunan sering kali menjadi kelanjutan dari kolonialisme dalam bentuk yang lebih halus: mengubah masyarakat tradisional menjadi “rasional”, “modern”, dan “ekonomis”, sesuai dengan ukuran-ukuran Barat.

PELAKITA.ID – Dalam perdebatan global seputar pembangunan, ada satu suara yang dengan tajam namun penuh empati mempertanyakan arah yang selama ini dianggap benar.

Suara itu datang dari Arturo Escobar, seorang antropolog asal Kolombia yang dikenal luas melalui karya monumentalnya “Encountering Development: The Making and Unmaking of the Third World” (1995).

Melalui pendekatan yang dikenal sebagai post-development theory, Escobar tidak hanya mengkritik pembangunan—ia mengusulkan untuk melampauinya.

Melampaui Pembangunan: Sebuah Kritik Mendalam

Bagi Escobar, pembangunan bukanlah sekadar program kebijakan, infrastruktur, atau peningkatan ekonomi.

Ia melihatnya sebagai sebuah sistem kekuasaan dan pengetahuan—sebuah “diskursus” yang muncul pasca Perang Dunia II, yang memosisikan dunia non-Barat sebagai “yang tertinggal” dan karenanya harus “diperbaiki” oleh model Barat.

Menurut Escobar, dalam narasi ini, “Dunia Ketiga” bukanlah realitas objektif, melainkan ciptaan wacana global yang digunakan untuk melegitimasi intervensi, dominasi, dan perubahan sosial yang dipaksakan.

Melalui lensa post-strukturalisme dan pengaruh pemikiran Michel Foucault, Escobar menyoroti bagaimana pembangunan sering kali menjadi kelanjutan dari kolonialisme dalam bentuk yang lebih halus: mengubah masyarakat tradisional menjadi “rasional”, “modern”, dan “ekonomis”, sesuai dengan ukuran-ukuran Barat.

Warisan Pemikiran Escobar: Dari Kritik Menuju Imajinasi Radikal

Warisan Escobar terletak pada keberaniannya untuk menggugat asumsi paling dasar dari pembangunan, sambil membuka jalan menuju imajinasi alternatif. Beberapa pokok warisannya antara lain:

Post-Development Theory

Bersama tokoh seperti Gustavo Esteva dan Majid Rahnema, Escobar menolak ide bahwa semua masyarakat harus mengikuti jejak Barat menuju “kemajuan”.

Ia justru mendorong lahirnya alternatives to development—bukan versi pembangunan yang lebih baik, tetapi cara hidup yang sama sekali berbeda, berdasarkan pengetahuan lokal, kedaulatan komunitas, dan keseimbangan ekologis.

Pluriverse: Dunia Tempat Banyak Dunia Bisa Hidup

Escobar menawarkan gagasan “pluriverse”—konsep bahwa dunia bukan satu, tetapi banyak. Tidak ada satu model hidup yang universal. Setiap komunitas, dengan nilai, pengetahuan, dan kosmologinya, memiliki hak untuk menentukan jalannya sendiri tanpa dipaksa mengikuti jalur tunggal modernitas global.

Politik Ekologi dan Pembelaan atas Wilayah Hidup

Escobar juga aktif dalam isu politik ekologi, membela masyarakat adat dan lokal yang melawan perampasan tanah, ekspansi industri ekstraktif, dan kerusakan lingkungan.

Baginya, pertahanan atas wilayah hidup adalah bentuk perlawanan terhadap narasi pembangunan yang destruktif.

Mengapa Relevan untuk Indonesia?

Pemikiran Arturo Escobar sangat kontekstual jika kita melihat dinamika pembangunan di Indonesia. Negara ini adalah contoh klasik dari pertemuan antara impian modernisasi dan realitas keragaman lokal. Dalam konteks ini, warisan Escobar membantu kita melihat lebih jernih:

Pembangunan vs. Penghidupan Lokal

Di banyak wilayah, dari Papua, Kalimantan, hingga Sulawesi, proyek-proyek pembangunan seperti pertambangan, jalan, bendungan, dan pariwisata justru mengancam wilayah hidup masyarakat lokal. Food Eatste di Kalimantan, Cetak Sawah di Papua, hingga reklamasi untuk Kota Baru di sejumlah kota Indonesia penuh daya rusak atas dalih pembangunan itu.

Escobar menyoroti bagaimana model pembangunan semacam ini sering mengabaikan realitas dan kehendak komunitas yang terdampak.

Epistemologi Adat vs. Rasionalitas Negara

Indonesia kaya dengan sistem pengetahuan lokal seperti adat, pertanian tradisional, atau manajemen sumber daya berbasis kearifan komunitas. Namun, dalam kerangka pembangunan, pengetahuan ini sering dianggap “terbelakang”.

Pemikiran Escobar memberi landasan untuk menghormati dan membangun dari pengetahuan lokal, bukan menggantikannya.

Dekolonisasi Pembangunan

Banyak kebijakan pembangunan di Indonesia masih berakar pada model pembangunan era kolonial dan pascakolonial. Escobar mengajak kita untuk mendekolonisasi cara berpikir kita sendiri, agar pembangunan tidak lagi menjadi alat dominasi, tetapi alat emansipasi berbasis keragaman.

Saatnya Membayangkan Kembali

Arturo Escobar mengajak kita untuk membayangkan dunia yang tidak tunggal, tidak linier, dan tidak seragam.

Dunia di mana komunitas dapat menentukan sendiri masa depannya berdasarkan nilai dan cara hidupnya sendiri. Dunia di mana pembangunan tidak lagi diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari keseimbangan hidup, harmoni sosial, dan kelestarian ekologis.

Di tengah krisis iklim, ketimpangan sosial, dan ancaman terhadap kebudayaan lokal, mungkin sudah saatnya Indonesia mengambil pelajaran dari Escobar—bahwa pembangunan sejati tidak datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam: dari komunitas yang punya hak untuk bermimpi dan menentukan takdirnya sendiri.