Tulislah Apa yang Kau Lihat, Kau Tahu, dan Pahami — Lalu Bacalah Apa yang Kau Tulis
Membaca dan Menulis dalam Bingkai PeradabanOleh: Muliadi Saleh
Penulis, Pemikir, Penggerak Literasi dan Kebudayaan
“Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban”
PELAKITA.ID – Di negeri yang penuh warna, tempat langit selalu bercerita dan tanah menyimpan rahasia nenek moyang, ada suara yang mengalir dari hati ke pena. Suara itu bukan sekadar bunyi, melainkan getar kehidupan.
Itulah suara menulis—sebuah panggilan untuk melihat, mencatat, dan memahami dunia, lalu mengabadikannya dalam aksara.
Menulis bukan sekadar keterampilan; ia adalah ibadah intelektual dan amal peradaban. Dan dalam tiap aksara yang jujur, terselip perintah yang lebih dalam: bacalah.
“Iqra’,” kata wahyu pertama yang turun di Gua Hira—bacalah. Tapi apa yang harus dibaca? Ayat-ayat langit, ayat-ayat bumi, dan ayat-ayat diri.
Untuk bisa membaca, seseorang harus lebih dulu menulis. Untuk bisa menulis, seseorang harus lebih dulu melihat. Dan untuk melihat dengan benar, seseorang harus lebih dulu menyucikan batin.
Maka menulis sejatinya adalah aktivitas spiritual. Ia adalah tafakur yang menjadi rekaman sejarah, peradaban, dan kesadaran.
Di tengah masyarakat yang bising oleh berita dan gaduh oleh politik, suara menulis kerap tenggelam. Ia terdesak oleh konten viral, oleh algoritma yang mencintai sensasi. Tapi di sanubari setiap bangsa besar, menulis selalu hidup. Ia adalah napas panjang kemuliaan. Sebab sejarah tidak dihafal, tapi ditulis. Masa depan tidak ditebak, tapi dirancang melalui tulisan. Dan sebuah bangsa tak akan abadi bila tak ada yang bersedia menjadi penulisnya.
Banyak yang menulis tanpa melihat. Banyak yang melihat tanpa memahami. Banyak pula yang memahami tapi enggan menulis. Padahal kunci keberlangsungan ilmu, warisan nilai, dan pertumbuhan akal sehat semuanya bersandar pada keberanian menulis dan kerendahan hati membaca kembali apa yang telah ditulis.
Sebab tulisan bukan akhir; ia adalah awal dari pertanyaan baru. Maka, perintah untuk membaca sejatinya adalah perintah untuk memverifikasi, merenungkan, bahkan membantah—jika perlu—apa yang telah kita tulis dengan penuh kesadaran.
Menulis adalah cara kita mencintai bangsa ini secara konkret. Ia bukan slogan, melainkan wujud tanggung jawab. Tulislah realitas sosial yang kita temui.
Tulislah air mata petani yang sawahnya digusur. Tulislah kisah anak-anak pesisir yang belajar di bawah lampu pelita. Dan jangan berhenti di situ—tulislah harapan mereka. Tulislah solusi. Tulislah perlawanan yang elegan dan beradab melalui narasi. Sebab pena yang jujur bisa lebih tajam dari pedang, namun tak menumpahkan darah.
Indonesia sedang bertumbuh. Data terbaru dari Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tahun 2024 mencapai 73,52, melonjak dari tahun sebelumnya yang berada di angka 69,42.
Tingkat Gemar Membaca (TGM) juga meningkat menjadi 72,44. Ini pertanda bahwa bangsa ini sedang memperbaiki cara membacanya. Tapi, apakah kita juga sedang memperbaiki cara menulis?
Tak cukup membaca tanpa menulis, sebagaimana tak cukup menulis tanpa membaca. Dalam dunia yang penuh hoaks dan disinformasi, menulis yang tak dibaca adalah sunyi. Dan membaca tanpa menulis adalah ketakutan. Ketakutan untuk bersuara. Ketakutan untuk mempertanggungjawabkan pikiran.
Menulis bukan hanya tugas akademisi. Ia adalah hak sekaligus kewajiban semua warga negara. Kita bisa menulis dengan cara masing-masing: dalam puisi, dalam esai, dalam status media sosial yang mencerahkan. Kita bisa menulis dalam bahasa ibu, bahasa Indonesia, atau bahkan dalam bahasa cinta—asal jujur, asal ada niat untuk mencerdaskan.
Dalam sejarah, bangsa yang besar bukanlah yang paling kaya sumber daya, tetapi yang paling kaya manuskrip dan pemikiran. Dari Dinasti Abbasiyah yang membangun Baitul Hikmah, dari Kerajaan Sriwijaya yang menulis di batu dan daun lontar, hingga tokoh seperti Syekh Yusuf, Imam Bonjol, dan Buya Hamka—mereka adalah saksi bahwa bangsa ini tumbuh dari keberanian mencatat dan membaca kembali dirinya.
Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Sudahkah kita menulis tentang Indonesia dengan penuh cinta dan tanggung jawab? Ataukah kita hanya mengutip, menyalin, dan melupakan?
Data UNESCO menunjukkan bahwa satu dari lima orang dewasa di dunia masih buta huruf. Di Indonesia, masih ada 1,4 juta orang yang buta aksara—kebanyakan di wilayah terpencil. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah buta narasi: buta terhadap kemampuan menulis dengan nilai, dan buta terhadap keberanian membaca ulang sejarah dengan jujur.
Kita tak sedang kekurangan lulusan sarjana, tapi kita kekurangan pemikir yang menulis. Kita tak sedang krisis buku, tapi krisis pembaca dan penulis yang jujur. Maka setiap sekolah, kampus, dan pesantren harus menjadi ruang literasi, bukan sekadar ruang hafalan. Setiap pemuda harus menjadi jurnalis bagi lingkungannya. Setiap warga harus menjadi penulis bagi nasib bangsanya.
Menulis adalah cara kita mencatat kesalahan agar tidak terulang. Menulis adalah cara kita mencatat keberhasilan agar bisa diwariskan. Menulis adalah cara kita berbicara dengan generasi yang belum lahir. Maka, menulislah dengan iman, menulislah dengan ilmu, menulislah dengan cinta.
Ada kekuatan luar biasa dalam tulisan yang lahir dari ketulusan. Ia bisa mengubah cara pandang, bahkan arah hidup seseorang. Nelson Mandela pernah berkata bahwa pena lebih kuat dari senjata. Dan dalam konteks Indonesia, pena bisa lebih ampuh dari jargon-jargon politik yang cepat usang. Sebab tulisan yang jujur akan bertahan lebih lama dari iklan kampanye.
Tulislah apa yang kau lihat. Catatlah luka di jalanan, catatlah harapan di ladang-ladang. Tulislah apa yang kau tahu. Keluarkan isi pikiranmu yang jernih. Tuangkan hasil bacaan dan pengalamanmu. Tulislah apa yang kau pahami. Jangan hanya menulis apa yang sedang tren. Tulisan yang benar lahir dari hati yang mengendapkan makna, bukan dari hasrat mengejar popularitas.
Dan jangan lupa membaca kembali tulisanmu. Karena menulis tanpa membaca adalah kesombongan, dan membaca tanpa menulis adalah kelambanan. Dalam membaca kembali, kita menemukan kekeliruan.
Kita mengerti di mana harus merevisi, di mana harus menguatkan. Di situ, kita sedang membangun peradaban. Karena peradaban bukan hasil satu kali tulis, tapi hasil dari berulang kali baca dan perbaiki.
Menulis bukan hanya aktivitas teknis. Ia adalah perjalanan spiritual. Sebab dalam menulis, kita berjumpa dengan diri sendiri, dengan masyarakat, dan dengan Tuhan. Dan dalam membaca, kita menafsirkan ulang perjalanan itu.
Jika ingin bangsa ini beradab, jadikan menulis dan membaca sebagai budaya—bukan sekadar program.
Hanya bangsa yang mau menulis tentang dirinya yang pantas dibaca dunia.
Hanya bangsa yang berani membaca ulang sejarahnya yang mampu melangkah ke masa depan.
Dan hanya bangsa yang mampu menulis dengan hati dan membaca dengan jiwa yang akan abadi dalam lembaran waktu.
Mari menulis. Mari membaca. Mari membangun peradaban.