PELAKITA.ID – Malam itu, suasana dipenuhi dengan diskusi yang penuh gairah. Seorang pembicara Muslim berdiri di hadapan hadirin, menyampaikan pandangan yang menantang berbagai stereotip tentang Islam.
Ia berbicara sebagai seorang Muslim, seorang pengikut Islam, dan seorang duta bagi agamanya. Dia Mehdi Hasan.
Dengan penuh keyakinan, ia mengangkat isu-isu yang sering dikaitkan dengan Islam dan menanggapinya dengan fakta serta logika yang kuat.
Dalam pidatonya, ia menyinggung tuduhan-tuduhan yang sering diarahkan kepada Islam, seperti keterlibatan agama ini dalam aksi terorisme, mulai dari bom Bali hingga serangan 7 Juli di London.
Ia dengan tegas menolak klaim bahwa Islam sebagai agama yang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan tersebut. Menurutnya, tuduhan ini adalah klaim yang tidak berdasar dan sering digunakan untuk membenarkan prasangka terhadap Muslim.
Sang pembicara kemudian membahas kesalahpahaman mengenai asal-usul Islam. Banyak orang beranggapan bahwa Islam lahir di Arab Saudi, padahal Arab Saudi baru terbentuk pada tahun 1932, sementara Islam telah ada sejak tahun 610 M.
Ia juga menyoroti kontribusi besar Islam dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya dalam matematika.
Seorang ilmuwan Muslim, Al-Khwarizmi, berperan besar dalam pengembangan aljabar dan algoritma, yang menjadi dasar bagi teknologi modern seperti komputer dan internet.
Ia juga mengungkapkan bagaimana peradaban Islam memainkan peran penting dalam membawa filsafat dan sains Yunani ke Eropa.
Tanpa kontribusi para cendekiawan Muslim seperti Ibnu Sina dan Averroes, Eropa mungkin tidak akan mengalami Renaisans atau Reformasi. Pernyataan bahwa peradaban Barat berkembang tanpa pengaruh Islam adalah bentuk penyimpangan sejarah.
Sang pembicara menyinggung isu anti-Semitisme di beberapa komunitas Muslim, tetapi ia menegaskan bahwa sentimen ini bukan berasal dari Islam. Sebaliknya, ia menunjukkan bagaimana kebencian terhadap Yahudi awalnya berakar di Eropa Kristen.
Bahkan, seorang kolumnis Yahudi-Amerika dari The New York Times pernah mengatakan bahwa jika Muslim yang menguasai Eropa pada tahun 1940-an, enam juta orang Yahudi mungkin masih hidup hari ini.
Dalam menjawab tuduhan bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kekerasan, ia meminta hadirin untuk mempertimbangkan fakta bahwa mayoritas Muslim di dunia adalah orang-orang yang damai.
Hasil survei Gallup terhadap 50.000 Muslim di 35 negara menunjukkan bahwa 93% dari mereka menolak serangan 9/11 dan aksi terorisme lainnya. Dari 7% yang mendukung, alasan mereka bukanlah agama, melainkan faktor politik.
Ia juga menyoroti bagaimana para ulama Islam yang dihormati secara global telah secara eksplisit mengutuk terorisme.
Salah satunya adalah Syekh Afifi Al-Akiti, seorang sarjana Islam dari Oxford, yang mengeluarkan fatwa bahwa tindakan terorisme bertentangan dengan ajaran Islam.
Demikian pula, seorang ulama terkenal dari Pakistan menerbitkan fatwa setebal 600 halaman yang menolak pembunuhan orang yang tidak bersalah dan bom bunuh diri tanpa syarat.
Sang pembicara mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang menekankan kasih sayang dan keadilan. Dari 114 surah dalam Al-Qur’an, 113 di antaranya dimulai dengan pernyataan tentang Allah sebagai Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Ia menolak klaim bahwa Islam adalah agama perang dan membandingkan dengan sejarah kekerasan yang juga terjadi dalam agama-agama lain, seperti Perang Salib dan Inkuisisi Spanyol.
Pada akhirnya, ia menantang hadirin untuk berpikir lebih dalam. Jika Islam benar-benar agama yang mengajarkan kekerasan, mengapa mayoritas Muslim di dunia hidup damai?
Jika Islam adalah sumber kebencian dan terorisme, mengapa hanya sebagian kecil umat Muslim yang terlibat dalam aksi ekstremisme?
Sebagai seorang Muslim, ia berdiri teguh untuk membela kebenaran dan menolak distorsi terhadap agamanya.
Ia menutup pidatonya dengan sebuah seruan: jangan biarkan kebencian dan prasangka memecah belah manusia. Jangan memberikan kemenangan kepada mereka yang ingin menciptakan konflik antara peradaban.
Islam, seperti agama-agama besar lainnya, adalah jalan menuju kedamaian, kasih sayang, dan persatuan umat manusia.
Terjemahan dari video ini:
___
Mehdi Hasan adalah seorang jurnalis, penyiar, dan penulis asal Inggris yang dikenal karena gaya debatnya yang tajam dan analisis politik yang mendalam. Ia sering membahas isu-isu terkait Islam, politik Timur Tengah, kebijakan luar negeri, dan hak asasi manusia. Mehdi Hasan telah bekerja di berbagai media terkemuka seperti Al Jazeera English, The Huffington Post, dan MSNBC. Ia juga merupakan pembawa acara The Mehdi Hasan Show, di mana ia sering mewawancarai tokoh-tokoh politik dan membahas isu-isu global dengan pendekatan kritis.