Durian Sulawesi Tengah Menembus Pasar Global: Catatan Diskusi Tiga Alumni Unhas di Kota Palu

  • Whatsapp

Rustan Rewa, yang kini menjabat sebagai Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan di Kabupaten Tolitoli, bersama Ir. Andi Iqbal dari Balai Karantina dan Ir. Syamsu dari Balai Proteksi, membedah peluang sekaligus tantangan yang menyertai ambisi besar tersebut.

PELAKITA.ID – Di tengah geliat pengembangan komoditas unggulan daerah, tiga alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) yang kini berkiprah di berbagai sektor strategis bertemu dalam sebuah diskusi hangat di Kota Palu.

Pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan ruang bertukar gagasan tentang masa depan durian Sulawesi Tengah sebagai komoditas ekspor potensial, khususnya ke pasar Tiongkok yang terus menunjukkan permintaan tinggi.

Rustan Rewa, yang kini menjabat sebagai Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan di Kabupaten Tolitoli, bersama Ir. Andi Iqbal dari Balai Karantina dan Ir. Syamsu dari Balai Proteksi, membedah peluang sekaligus tantangan yang menyertai ambisi besar tersebut.

Diskusi mengerucut pada satu keyakinan bersama: durian Sulawesi Tengah memiliki peluang besar untuk “merajai” pasar Tiongkok di masa depan.

Dengan karakteristik rasa yang khas, potensi lahan yang luas, serta dukungan agroklimat yang ideal, komoditas ini dinilai mampu menjadi tulang punggung baru ekonomi daerah.

Bahkan, muncul gagasan strategis untuk secara bertahap menggeser dominasi tanaman cengkeh menuju pengembangan kebun durian sebagai investasi jangka panjang yang lebih menjanjikan.

Pergeseran ini tentu bukan tanpa dasar, mengingat fluktuasi harga cengkeh yang kerap terjadi, sementara permintaan durian—terutama dari pasar ekspor—cenderung meningkat stabil.

Dalam konteks lokal, Rustan Rewa menyoroti bahwa geliat durian di Kabupaten Tolitoli tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan didorong kuat oleh kepemimpinan daerah.

Ia menyebut bahwa Wakil Bupati Tolitoli, Esar Bantilan, dikenal aktif mengembangkan kebun durian di kawasan Labengga, sementara Bupati Tolitoli juga turut menginisiasi pengembangan durian di wilayah Pangi.

Menurutnya, keterlibatan langsung kepala daerah ini menjadi faktor penting yang memicu semangat masyarakat untuk ikut mengembangkan komoditas durian.

“Geliat durian Tolitoli hari ini tidak lepas dari peran tokoh sekaligus Bupati dan Wakil Bupati yang menjadi motor penggerak di lapangan,” ungkapnya.

Namun demikian, optimisme tersebut tidak lepas dari catatan kritis. Ir. Andi Iqbal mengingatkan adanya potensi distorsi pasar jika ekspor tidak dikelola secara bijak.

Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan terjadinya “segregasi kualitas”, di mana durian kualitas terbaik (kelas 1) lebih banyak diarahkan untuk pasar ekspor, sementara pasar domestik hanya menerima produk kelas 2.

Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat memicu ketimpangan akses dan bahkan berdampak pada persepsi kualitas durian lokal di dalam negeri.

Dari diskusi ini, terlihat bahwa pengembangan durian sebagai komoditas ekspor bukan sekadar soal produksi, tetapi juga menyangkut tata kelola, standardisasi kualitas, hingga strategi distribusi yang adil.

Sinergi antara pemerintah daerah, lembaga teknis seperti karantina dan proteksi tanaman, serta pelaku usaha menjadi kunci agar potensi besar ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terwujud sebagai kekuatan ekonomi baru Sulawesi Tengah.