Jejak heroisme ini, bukan sekadar cerita lokal, tetapi bagian dari sejarah besar Nusantara yang belum sepenuhnya diangkat secara proporsional.
PELAKITA.ID – Diskursus tentang sejarah Galesong kembali mengemuka dalam sebuah forum yang mempertemukan praktisi kebudayaan, akademisi, birokrat, hingga tokoh masyarakat.
Forum ini menjadi ruang reflektif untuk meninjau kembali posisi Galesong—bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai entitas sejarah, budaya, dan peradaban yang memiliki jejak panjang dalam perjalanan Sulawesi Selatan.
Husain Kahar atau biasa disapa Romo, salah satu peserta forum yang pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Desa Galesong Kota dan kini bertugas sebagai aparatur sipil negara di Dinas Kesehatan, mengawali refleksinya dengan mengingat sebuah seminar tentang Karang Galesong yang berlangsung sekitar dua dekade lalu.
“Saat itu, Galesong dibahas dalam tiga bingkai waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan—sebuah kerangka yang menurutnya masih relevan hingga hari ini,” ucapnya.
Dalam perspektif sejarah, kata Romo, Galesong masa lalu dipahami sebagai pusat pemerintahan Takalar, bagian dari struktur Kerajaan Gowa.
Wilayah ini memiliki posisi strategis dan melahirkan tokoh-tokoh penting yang bahkan tercatat berjuang hingga ke Jawa dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Jejak heroisme ini, menurut Romo, bukan sekadar cerita lokal, tetapi bagian dari sejarah besar Nusantara yang belum sepenuhnya diangkat secara proporsional.
Sementara itu, Galesong masa kini menunjukkan proses metamorfosis wilayah yang menarik.
“Dari Galesong Utara yang berkembang sebagai kawasan layanan kesehatan dengan hadirnya Rumah Sakit Umum Daerah, bergerak ke selatan menjadi pusat perekonomian berbasis perikanan dan kuliner dengan perputaran uang yang signifikan setiap hari. Lebih ke selatan lagi, kawasan Galesong dan Galesong Barat berkembang sebagai pusat kebudayaan dan kuliner ikan segar, sementara wilayah Galesong Selatan menguat sebagai kawasan pertanian dan peternakan. Transformasi spasial ini menunjukkan bahwa Galesong sesungguhnya memiliki struktur wilayah yang saling melengkapi,” paparnya.
Namun, pertanyaan besar yang mengemuka adalah tentang Galesong masa depan. Apakah potensi sejarah, ekonomi, dan budaya ini akan dirawat dan dikelola secara berkelanjutan, atau justru dibiarkan berjalan tanpa arah yang jelas? Kekhawatiran ini mengemuka seiring minimnya dokumentasi tertulis, arsip, dan rujukan resmi yang dapat dijadikan dasar kebijakan maupun pengembangan kebudayaan.
Sirajuddin Bantang, menyoroti salah satu isu krusial yang dibahas adalah absennya penetapan hari jadi Galesong secara resmi. Tidak adanya keputusan administratif dan dokumentasi formal menyebabkan momentum-momentum penting kerap berlalu tanpa tindak lanjut.
“Padahal, kehadiran unsur pemerintah daerah dalam berbagai peringatan menunjukkan adanya perhatian, namun belum diikuti dengan kebijakan yang mengikat dan berkelanjutan,” ucapnya.
Forum ini juga menyoroti pentingnya kepemimpinan simbolik dan patron ketokohan dalam sejarah Galesong.
Akademisi Adin Akbar menekankan perlunya pengkajian serius terhadap figur-figur historis seperti I Manindori atau tokoh-tokoh lain yang memiliki peran besar dalam sejarah kawasan ini.
Ia mempertanyakan mengapa tokoh-tokoh tersebut belum diusulkan atau ditetapkan sebagai pahlawan nasional, padahal secara historis memiliki kontribusi signifikan dalam perjuangan dan jaringan kekuasaan di Sulawesi Selatan.
Diskusi kemudian mengarah pada pentingnya penelitian berbasis arsip dan manuskrip sejarah.
Tanggapan juga dari Kasmajaya Daeng Nappa yang menekankan perlunya rujukan sejarah yang tepat.
Dia menekankan bahwa banyak narasi sejarah yang beredar saat ini belum sepenuhnya berbasis fakta ilmiah, melainkan masih bercampur antara mitos, kepentingan politik, dan ingatan kolektif yang tidak terdokumentasi dengan baik. Tanpa riset yang kuat, sejarah Galesong berisiko terus berada di pinggiran historiografi nasional.
Isu lain yang mencuat adalah lemahnya literasi dan dokumentasi digital tentang Galesong.
Dr Buyung Romadhoni menyorot masih minimnya publikasi, arsip daring, dan basis data akademik membuat Galesong nyaris tak hadir dalam lanskap pengetahuan global. Kekhawatiran ini mengemuka mengingat banyak aksara, manuskrip, dan sejarah lokal di Nusantara yang perlahan menghilang dari basis data dunia akibat kurangnya dokumentasi.
“Karena itu, forum ini menegaskan pentingnya diskusi-diskusi berkelanjutan, riset kolaboratif lintas disiplin, serta penguatan literasi sejarah—baik melalui tulisan, arsip digital, maupun kegiatan kebudayaan,” sebut Buyung, yang juga akademisi Universitas Muhammadiyah, Makassar ini.
Galesong tidak cukup dibicarakan sebagai wilayah, tetapi harus diposisikan sebagai ruang sejarah yang hidup, yang jejaknya perlu dirawat agar tidak terhapus oleh waktu.
Pada akhirnya, menyusuri jejak sejarah Galesong bukan sekadar upaya mengenang masa lalu, melainkan membangun komitmen kolektif untuk masa depan. Sejarah yang diteliti, didokumentasikan, dan dipublikasikan secara jujur akan menjadi fondasi penting bagi penguatan identitas, kebijakan budaya, dan pembangunan Galesong yang berakar pada pengetahuan, bukan sekadar ingatan.
