Prof. Sukri Palutturi, Dari Aktivisme LSM, Kepenulisan hingga Memimpin Fakultas

  • Whatsapp
Dekan FKM Unhas, Prof Sukri Palutturi saat menjadi 'guest speaker' pada Lokalatih Jurnalisme Warga, Kiat Menjadi Pewarta Warga, Menjadi Bagian dari Perubahan Sosial dan Lingkungan (dok: Pelakita.ID)

Bagi Prof. Sukri Palutturi, menjadi akademisi bukanlah jalan yang ditempuh sejak awal dengan rapi dan terencana. Ia justru datang dari lorong-lorong aktivisme masyarakat sipil, ruang-ruang diskusi LSM, dan meja redaksi media cetak—tempat di mana kepekaan sosial, keberanian bersuara, dan ketekunan menulis ditempa secara nyata.

PELAKITA.ID – Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas), Prof. Sukri tidak menjadi ‘guest speaker’ pada Lokakarya dan Pelatihan Jurnalisme Warga, Kiat Menjadi Pewarta Warga, Bagian dari Perubahan Sosial dan Lingkungan.

Menurut Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID organizer kegiatan ini latar belakang Lokalatih didasari kegamangan melihat lemahnya kemampuan litereasi content crrator yang lebih banyak mencipta gelak tawa, kesia-siaan postingan di tengah persoalan bangsa. Warga mestinya bisa menjadi bagian dari niat baik itu tetapi perlu perkakas pewartaan yang memadai.

“Kelas ini didasari kesukarelaan, dan dukungan dari sejumlah kolega, ada  dari PP IKA Unhas, DPP Garuda Astracita Nusantara, IKA Unhas Gowa, alumni Komunikasi Unhas angkatan 90, IKA Unhas Tolitoli, hingga Jaringan Restorasi Karang Indonesia,” jelas Kamaruddin.

Kehadiran Prof Sukri, Dekan FKM Unhas, menurutnya, untuk memberi insights atau isu-isu apa terkait pembangunan daerah terutama bidang kesehatan masyarakat yang bisa menjadi arena kepenulisan.

Prof Sukri Palutturi bersama narasumber Lokalatih, Muliadi Saleh (dok: Pelakita.ID)

Ditempa oleh Aktivisme Reformasi

Saat didaput menjadi pembicara, Sukri mengaku tidak pernah menanggalkan identitas awalnya sebagai aktivis.

“Saya ini orang LSM sebenarnya,” ujarnya dengan nada jujur dan bangga. Sebuah pengakuan yang sekaligus menjelaskan mengapa perspektifnya tentang ilmu, media, dan masyarakat selalu berangkat dari keberagaman dan empati.

Dia pernah di organisasi Perkumpuan Keluarga Bencana Indonesia atau PKBI Sulsel dan punya memori dan kedekatan emosional dengan FIK Ornop Sulawesi Selatan.

Ditempa oleh Aktivisme Reformasi

Perjalanan Prof. Sukri bermula pada akhir 1990-an, masa transisi politik Indonesia yang penuh gejolak.

Ia menyelesaikan studi di FKM Unhas pada 1998, bertepatan dengan era Reformasi. Sebelumnya, ia sempat menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FKM Unhas pada periode 1996–1997—sebuah posisi yang kala itu menuntut keberanian sikap dan keteguhan prinsip.

Selepas kampus, Prof. Sukri memilih terjun langsung ke dunia kerja sosial sebagai relawan di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulawesi Selatan. Gaji kecil bukan persoalan.

“Waktu itu gaji relawan sangat sederhana,” kenangnya. Namun justru di sanalah ia belajar arti pengabdian, kerja kolektif, dan keberpihakan pada isu-isu kemanusiaan.

Dedikasi tersebut membuatnya dipercaya menempati posisi strategis di lembaga tersebut. Namun ketika tawaran jabatan direktur datang, ia memilih jalan lain.

Pendidikan tetap menjadi prioritas. “Saya mau sekolah,” katanya singkat, menegaskan bahwa belajar adalah proses panjang yang tak boleh berhenti.

Menulis sebagai Jalan Kesadaran

Dunia aktivisme mempertemukannya dengan satu keterampilan penting: menulis. Di lingkungan LSM, menulis bukan sekadar menuangkan pikiran, tetapi alat advokasi dan perubahan. Dari sanalah Prof. Sukri mulai mengasah kemampuan jurnalistiknya.

Tulisan-tulisannya pernah dimuat di media ornop, lalu berlanjut ke Pedoman Rakyat, salah satu koran tertua dan paling berpengaruh di Sulawesi Selatan.

Ia mengenang masa ketika satu tulisan yang dimuat dihargai dengan imbalan sederhana, tetapi penuh makna. Tidak semua tulisannya diterima. Banyak yang ditolak, diedit, atau dianggap tidak relevan. Namun ia tidak berhenti.

“Menulis itu soal ketekunan. Ditolak itu biasa,” ujarnya.

Perjalanannya di dunia tulis-menulis berlanjut ke Harian Fajar, hingga Tribun Timur, terutama pada masa pandemi Covid-19.

Saat itu, Prof. Sukri aktif menulis pandangan kritis dan reflektif tentang penanganan pandemi, khususnya dari perspektif kesehatan masyarakat di Sulawesi Selatan dan Indonesia secara umum.

Dekan FKM Unhas, Sukri Palutturi bersama para peserta Lokalatih dan narasumber (dok: Pelakita.ID)

Pengalaman panjang di dunia aktivisme dan media membentuk keyakinan Prof. Sukri tentang pentingnya jurnalisme—termasuk jurnalisme warga. Baginya, media bukan sekadar saluran informasi, melainkan arena perebutan makna dan kekuasaan.

“Kalau mau menguasai dunia, kuasai media,” ujarnya tegas.

Ia menolak istilah “media lokal” atau “penulis lokal”. Di era digital, setiap tulisan memiliki potensi menjangkau dunia. Semua media kini bersifat global. Yang membedakan hanyalah kualitas gagasan dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Karena itu, ia menyambut antusias setiap inisiatif yang melibatkan mahasiswa dan warga dalam dunia literasi media.

Baginya, mahasiswa yang terlibat dalam jurnalisme akan memiliki kepekaan sosial yang lebih tajam, sekaligus kemampuan berpikir kritis yang dibutuhkan di zaman yang terus berubah.

Akademisi yang Berakar pada Masyarakat

Jejak aktivisme, tradisi menulis, dan pengalaman lapangan membuat Prof. Sukri tumbuh sebagai akademisi yang tidak berjarak dengan realitas sosial. Inilah yang sedang dipompakan ke peserta Lokalatih itu yang didominasi kaum muda.

Ia terbiasa mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menghakimi. Keberagaman latar belakang manusia yang ia temui selama bertahun-tahun membentuk sikap empati yang kuat tanpa kehilangan ketegasan ilmiah.

Sebagai Dekan FKM Unhas, ia membawa semangat itu ke dalam ruang akademik: ilmu harus berdampak, pengetahuan harus membumi, dan kampus harus hadir di tengah masyarakat.

Kisah Prof. Sukri Palutturi adalah pengingat bahwa jalan menjadi intelektual tidak selalu linier dan kaku.

Ia bisa lahir dari lorong aktivisme, ditempa oleh kegigihan menulis, dan dimatangkan oleh keberanian berpihak. Dari sanalah lahir sosok akademisi yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memahami zaman.

Satu hal yang menarik dari kelas ini adalah adanya ide untuk membawa mahasiswa dan peserta untuk melakukan observasi dan wawancara demi menuliskan dimensi dan isu-isu kesehatan di masyarakat urban seperti Sungguminasa dan Kota Makassar.

Mahasiswa FKM Unhas yang hadir dalam kegiatan itu bertekad untuk melakukan pendalaman dan menulisnya untuk Pelakita.ID.

___
Redaksi