Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif
PELAKITA.ID – Baru saja Ayah berpulang. Ia pergi dengan tenang, meninggalkan rumah yang tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi. Ada ruang kosong yang tak mudah dijelaskan.
Kami, anak-anaknya, bukan sekadar kehilangan sosok, melainkan poros yang selama ini menegakkan keseharian. Di tengah duka itu, ada satu pusat yang kini menyedot seluruh perhatian dan kecemasan kami: Ibu.
Ibu sangat sedih. Kesedihan yang tak selalu menjelma tangis, tetapi lebih sering hadir dalam diam. Kesedihan yang duduk lama di sudut mata, menggantung di napas yang memendek, lalu merayap ke seluruh tubuh yang memang telah renta.
Ia kehilangan teman hidup, tempat berbagi lelah, dan saksi perjalanan panjang yang tak semua orang tahu. Kini, Ibu harus kuat. Dan kami wajib merawatnya—sepenuh jiwa.
Di hari-hari setelah kepergian Ayah, saya lebih sering berada di dekat Ibu. Duduk lebih lama. Mendengar lebih pelan. Hingga pada satu momen yang sangat sunyi, saya menggenggam tangannya.
Saat itulah waktu seperti membuka dirinya sendiri.
Dulu, tangan ini yang paling sering menyentuh saya. Tangan pertama yang saya kenal sebelum dunia memperkenalkan apa pun. Ia menggendong, mengusap, dan memeluk tanpa syarat. Tangan itulah yang menggenggam jari-jari kecil saya, menuntun saya berdiri, lalu mengajari langkah pertama—langkah yang gemetar, ragu, dan sering jatuh.
Jika ada bahaya, tangan itulah yang paling cepat menghalangi. Jika ada tangis, tangan itu pula yang pertama datang. Lembut, hangat, penuh kasih. Ia bekerja tanpa banyak suara, tanpa tuntutan, dan tanpa jeda. Dari sentuhan itulah saya belajar arti aman, jauh sebelum mengenal kata tersebut.
Kini, tangan itu berubah.
Kulitnya berkerut. Urat-uratnya menonjol, seolah menuliskan peta waktu yang panjang. Genggamannya tak lagi kuat. Untuk bergerak saja, ia memerlukan usaha dan kesabaran. Tangan yang dahulu sigap kini sering gemetar, membawa seluruh cerita hidup yang tak semuanya sanggup diucapkan oleh kata.
Dan hidup, sekali lagi, memperlihatkan wajah sejatinya: peran itu berbalik.
Kini giliran saya yang menggenggam. Menopang. Menuntun. Menjaga agar ia tak jatuh—sebagaimana dulu ia melindungi saya dari apa pun yang membahayakan. Ada getar yang sulit dijelaskan saat menyadari bahwa cinta sejati memang tidak pernah hilang; ia hanya berpindah peran.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, fase ini dikenal sebagai role reversal—pembalikan peran—ketika anak menjadi perawat bagi orang tua yang menua. Namun dalam pengalaman batin, ia bukan sekadar konsep akademik. Ia adalah ujian kehadiran.
Apakah kita hadir dengan sabar, atau sekadar menjalankan kewajiban? Apakah kita menggenggam dengan cinta, atau dengan sisa-sisa ego masa lalu?
Merawat Ibu kini bukan hanya soal fisik. Ia adalah kerja emosional, spiritual, dan moral. Ia menuntut ketenangan, keikhlasan, dan kesediaan untuk melambat. Sebab usia tua tidak menyukai tergesa-gesa; ia meminta dipahami, bukan diatur.
Dalam tradisi etika dan spiritualitas Islam, merawat orang tua—terutama di masa rapuh mereka—adalah laku luhur yang sering tersembunyi dari sorotan, tetapi justru di situlah keberkahan hidup berdiam. Jalan sunyi yang tak riuh, namun dalam.
Melayani tanpa pamrih. Menggenggam tanpa berharap digenggam kembali.
Kadang saya menatap tangan Ibu lama-lama. Di sana tersimpan seluruh masa kecil saya, doa-doa yang tak selalu terdengar, dan cinta yang bekerja diam-diam membentuk siapa saya hari ini. Saya sadar, cinta paling dewasa adalah cinta yang tetap tinggal ketika tubuh melemah dan waktu tak lagi ramah.
Jika kelak tangan saya juga akan berkerut dan gemetar, saya hanya berharap pernah menggenggam tangan Ibu dengan cukup lembut. Sebab hidup, pada akhirnya, bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan tentang siapa yang kita rawat ketika dunia menyempit.
Hari ini, setelah Ayah berpulang, dunia kami mengecil pada satu genggaman. Dan saya memilih untuk menggenggam tangan Ibu—perlahan, penuh hormat, dan dengan cinta yang dulu ia ajarkan, tanpa pernah meminta untuk diajarkan kembali.
