Saat ini, mangrove di Sulawesi Selatan menghadapi berbagai tantangan serius. Alih fungsi lahan untuk tambak, permukiman, dan pembangunan pesisir telah menggerus banyak kawasan mangrove.
PELAKITA.ID – Pada pagi 8 November 2025, hembusan angin Teluk Bone membuat permukaan kolam-kolam tambak beriak perlahan. Berbalut seragam biru, sekelompok orang menyusuri pesisir dengan satu tujuan: melakukan aksi nyata untuk alam di garis pantai Sulawesi Selatan.
Pagi itu, Nypah Indonesia bersama Politeknik Kelautan dan Perikanan (KP) Bone—Unit Pelayanan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan—melaksanakan kegiatan rehabilitasi mangrove di pesisir Desa Waetuo, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program FOLU Net Sink 2030 yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui skema Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan periode ketiga.
Nypah Indonesia tercatat sebagai salah satu dari 178 pelaksana program yang menggandeng Politeknik KP Bone untuk melakukan penanaman mangrove secara kolaboratif.
“Melalui Program FOLU Net Sink 2030 BPDLH, kami bersama Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone melakukan penanaman mangrove sebagai upaya nyata pemulihan ekosistem pesisir,” ungkap Ahmad Sahlan, Direktur Nypah Indonesia.
Ia menambahkan, sekitar 50 orang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, dengan total 3.300 bibit mangrove yang ditanam. “Harapannya, penanaman ini dapat memperbaiki dan memperkuat ekosistem pesisir di sekitar perairan Teluk Bone,” jelasnya.
Aksi rehabilitasi ini menjadi sangat penting mengingat peran strategis mangrove bagi kehidupan masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.
Selain berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi, gelombang besar, dan badai, mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan biota laut lainnya yang menopang penghidupan nelayan.

Akar-akar mangrove yang rapat menjadi tempat pemijahan dan pembesaran ikan, sehingga berperan besar dalam menjaga keberlanjutan perikanan lokal.
Tak hanya itu, mangrove juga berfungsi sebagai penyerap karbon yang efektif, membantu meredam dampak perubahan iklim, sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan melalui perikanan tradisional, wisata edukasi, dan ekowisata.
“Ekosistem mangrove sangat penting bagi masyarakat pesisir, khususnya nelayan dan petambak di sepanjang pantai Kabupaten Bone. Karena itu, diperlukan perhatian dan aksi bersama. Kolaborasi dengan Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone ini menjadi wujud nyata kepedulian untuk alam Sulawesi Selatan,” ujar Anggi Angraeni, penanggung jawab program Nypah Indonesia.
Saat ini, mangrove di Sulawesi Selatan menghadapi berbagai tantangan serius. Alih fungsi lahan untuk tambak, permukiman, dan pembangunan pesisir telah menggerus banyak kawasan mangrove.
Tekanan lain datang dari penebangan yang tidak terkelola, pencemaran sampah, perubahan kualitas air, abrasi, serta dampak perubahan iklim.

Di sejumlah wilayah, rendahnya kesadaran dan keterlibatan masyarakat turut memperberat upaya pelestarian.
Jika kondisi ini dibiarkan, hilangnya mangrove tidak hanya berarti rusaknya lingkungan pesisir, tetapi juga hilangnya perlindungan alami dan sumber penghidupan masyarakat setempat.
Sebagai bagian dari upaya mengurangi tekanan terhadap ekosistem mangrove, kegiatan penanaman ini juga dirangkaikan dengan aksi bersih pantai. Dalam kegiatan tersebut, peserta mengumpulkan sekitar 10 kantong sampah, yang didominasi oleh plastik, kain, tali, dan gabus.

“Kami berharap, dengan berkurangnya sampah, mangrove yang ada serta bibit yang baru ditanam dapat tumbuh lebih optimal tanpa gangguan,” ucap Anggi Angraeni.
Antusiasme juga datang dari para mahasiswa.
“Senang rasanya ikut berlumpur-lumpur untuk menanam mangrove,” ujar seorang mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone, sambil tersenyum, menandai semangat generasi muda dalam menjaga pesisir untuk masa depan.
