“Prof Adi, tolong besok temani saya di pesawat untuk diskusi dan melihat langsung di lapangan, ya…”
“Siap, Pak Menteri,” jawab saya tanpa ragu.
PELAKITA.ID – Ajakan itu terdengar seperti sapaan nostalgia bagi seseorang yang mencintai lapangan seperti saya.
Seketika ingatan melayang ke masa-masa ketika saya masih sering terbang dengan helikopter atau pesawat kecil jenis Cessna berkapasitas delapan orang, menembus hutan-hutan Sulawesi dan Kalimantan.
Kini, perjalanan serupa kembali terjadi — tapi dengan makna yang lebih dalam. Kali ini bukan sekadar ekspedisi ilmiah, melainkan bagian dari upaya besar membangun bangsa melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.
Pak Menteri yang saya dampingi adalah Prof. Brian, Mendikti Sains dan Teknologi, sekaligus Guru Besar ITB. Ia kini dipercaya memimpin Badan Industri Mineral, lembaga baru yang dibentuk Presiden Prabowo untuk memperkuat fondasi ekonomi berbasis inovasi (innovation-based economy).

Beliau bergerak cepat, menjalankan arahan Presiden agar kampus-kampus di seluruh Indonesia tidak hanya menjadi pusat ilmu, tetapi juga pusat solusi bagi pembangunan nasional.
Dalam penerbangan itu, Pak Menteri meminta saya menjelaskan pandangan tentang peran kampus dalam hilirisasi sumber daya mineral. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat, dan sesekali bertanya rinci.
Gaya khas seorang ilmuwan sejati. Diskusi kami mengalir selama delapan jam di udara — dari Makassar menuju Soroako, berputar di langit perbatasan Sulawesi Tengah dan Tenggara, singgah untuk makan siang di Soroako, lalu kembali ke Makassar.

Di pesawat itu juga hadir Bapak Ma’ruf Syamsuddin, Direktur Mind ID Danantara (adik dari Bapak Safrie Syamsuddin), Direktur Utama PT Vale selaku tuan rumah, serta Ketua IAGI, senior saya yang mewakili Mind ID.
Kami berdiskusi tentang bagaimana kampus bisa menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri — terutama di sektor mineral strategis yang menjadi tumpuan masa depan ekonomi Indonesia.
Sore hari, kami berpisah dengan kesepakatan untuk bertemu secara berkala. Kami akan menyusun peta jalan (roadmap) kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah dalam memperkuat hilirisasi sumber daya mineral.
Bagi saya, hari itu bukan sekadar perjalanan dinas.
Itu adalah refleksi tentang mimpi besar bangsa — mimpi agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kuliah atau laboratorium, tetapi hidup dan berdenyut di tengah masyarakat, memberi nilai tambah dan kemajuan bagi negeri.
Semoga konsep “kampus berdampak” yang diusung Pak Menteri benar-benar menjadi gerakan nyata.
Sebab hanya dengan ilmu yang diterapkan, inovasi yang dihidupkan, dan kolaborasi yang dijaga, kita bisa mewujudkan cita-cita besar: membangun bangsa yang kuat, mandiri, dan berdaulat melalui pengetahuan.
Sumber: FB Adi Maulana
