Saatnya Tempe, Tahu, dan Oncom Merajai Meja Makan Kita
Oleh: Muliadi Saleh
PELAKITA.ID – Tempe. Makanan yang dulu sering dianggap lauk kampung, kini menjelma menjadi bintang global. Di New York, Tokyo, hingga Kopenhagen, tempe hadir di restoran vegan kelas dunia dengan label keren: fermented superfood — sumber protein nabati terbaik, ramah lingkungan, dan rendah jejak karbon.
Dunia akhirnya mengakui apa yang selama ini kita abaikan: keajaiban yang lahir dari kearifan pangan lokal Indonesia.
Namun, narasi ini bukan sekadar soal pangan. Ia berbicara tentang kesadaran baru: bahwa masa depan tidak selalu lahir dari hal-hal baru, melainkan dari tradisi yang telah lama kita jalani — tradisi yang kini justru kita tinggalkan.
Fermentasi: Ilmu Tertua yang Kembali Trending
Fermentasi adalah seni yang setua peradaban manusia. Jauh sebelum istilah microbiome dikenal, leluhur kita sudah bersahabat dengan mikroba. Mereka paham bahwa kehidupan tak pernah berdiri sendiri — selalu simbiosis, saling menghidupi.
Dalam setiap potong tempe, seiris tape, atau oncom yang sederhana, tersimpan harmoni kehidupan antara manusia dan makhluk mikroskopis yang menenun keajaiban biologis.
Jamur Rhizopus oligosporus pada tempe, misalnya, bukan hanya pengurai protein kedelai. Ia mengubah zat gizi menjadi bentuk yang lebih mudah diserap tubuh, memperkaya vitamin B12, dan menambah kadar antioksidan. Tape singkong, dengan fermentasi ragi alami, melahirkan probiotik yang menyehatkan pencernaan. Oncom yang kerap terpinggirkan ternyata menyimpan serat, enzim, dan bakteri baik yang nilainya menyaingi produk kesehatan mahal di pasaran.
Kini, sains modern baru membenarkan apa yang sejak lama diyakini oleh intuisi lokal: bahwa makanan hidup seperti tempe, tape, dan oncom bukan sekadar pangan, tetapi ekosistem kehidupan yang menyeimbangkan tubuh dan jiwa manusia.
Antara Tradisi dan Masa Depan
Ironisnya, ketika dunia Barat berbondong-bondong memuliakan tempe sebagai “pangan masa depan”, di negeri asalnya banyak anak muda justru lebih mengenal nugget beku dan sosis instan daripada oncom atau tape. Dapur modern kehilangan fermentasi alami, tergantikan oleh mesin pendingin dan bahan pengawet.
Kita terlena oleh kilau instan, padahal masa depan pangan sejatinya sedang berakar di tanah kita sendiri.
Superfood bukanlah hasil manipulasi genetik atau rekayasa industri. Superfood sejati tumbuh dari kesederhanaan dan keterhubungan dengan alam. Tempe, tahu, tape, oncom, dan berbagai produk fermentasi lokal adalah wujud dari prinsip itu — pangan yang tak hanya memberi gizi, tetapi juga memberi makna.
Seorang peneliti Jepang pernah menulis, “Tempe is not just food, it’s philosophy.” Ia melihat bahwa proses fermentasi mengajarkan kesabaran dan keseimbangan; bahwa waktu adalah bahan utama, bukan sekadar alat. Dalam diamnya, tempe memberi pelajaran penting: kehidupan terbaik selalu membutuhkan waktu untuk tumbuh — bukan untuk dipercepat dengan mesin.
Kebangkitan Fermentasi Lokal
Kini, muncul gelombang baru anak muda yang kembali mempopulerkan fermentasi lokal. Komunitas fermenter di kota-kota besar menghidupkan kembali resep leluhur: membuat tempe sendiri di rumah, menyeduh kombucha dengan bahan tropis, menciptakan vegan cheese dari kacang lokal. Ini bukan tren sesaat, melainkan tanda kesadaran pangan yang tengah bertransformasi — dari konsumsi menuju koneksi.
Petani muda menanam kedelai organik untuk produksi tempe lokal; komunitas UMKM menghidupkan kembali oncom tradisional; tape singkong disulap menjadi dessert modern nan elegan. Semua bergerak dalam satu arus besar: mengembalikan martabat pangan tradisional ke tempat yang layak — di pusat meja makan masa depan.
Kita tak perlu menunggu tren global untuk mencintai apa yang telah lama menjadi bagian dari diri kita. Tempe bukanlah sekadar “protein nabati murah”, melainkan simbol keberlanjutan. Dibuat tanpa limbah berbahaya, rendah energi, kaya manfaat, dan dapat dibuat oleh siapa saja — tempe adalah superfood yang demokratis.
Dan yang paling penting: ia lahir dari cinta — cinta pada tanah, waktu, dan proses alami yang tak bisa dipercepat.
Kembali ke Akar
Di tengah dunia yang sibuk mencari solusi pangan berkelanjutan, tempe dan tape menawarkan jawaban sederhana: kembali ke akar, kembali ke proses yang memberi kehidupan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti memuja makanan impor dan mulai menghormati kembali makanan yang tumbuh di tanah sendiri. Sebab masa depan pangan dunia — bisa jadi — sedang menunggu di dapur ibu-ibu kita, di loyang bambu yang hangat, di aroma tempe segar yang baru matang.
Gerakan besar tak selalu dimulai dengan senjata atau slogan. Kadang, ia dimulai dari loyang bambu dan sejumput ragi. Dari perempuan yang menunggu fermentasi selesai dengan sabar. Dari aroma tempe yang mengepul di pagi hari.
Itulah kesadaran paling sunyi, namun paling berpengaruh — revolusi yang menumbuhkan kehidupan, bukan menghancurkannya.
Maka, ketika dunia sibuk mencari superfood dari luar angkasa, mungkin kita cukup menengok ke dapur sendiri. Di sana, superfood sejati telah lama menunggu: sederhana, alami, dan berjiwa Nusantara.

Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan
