- Hubungan yang terbentuk antara pusat dan pinggiran bukanlah hubungan saling menguntungkan, melainkan relasi yang melestarikan ketimpangan.
- Negara pusat mendapatkan keuntungan industri dan surplus ekonomi, sementara negara pinggiran terjebak dalam peran sebagai pemasok bahan mentah dan pasar produk industri asing.
- Dia mengajak kita untuk melihat pembangunan dari sudut yang berbeda—bukan sebagai proses mengejar ketertinggalan, tetapi sebagai perjuangan membebaskan diri dari struktur ketergantungan global.
PELAKITA.ID – Andre Gunder Frank (1929–2005) adalah pemikir kritis bidang ekonomi politik dan sosiologi pembangunan. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama teori ketergantungan (dependency theory), sebuah pendekatan yang secara tegas menolak asumsi-asumsi utama dalam teori pembangunan modernisasi.
Dia membaca keterbelakangan negara-negara berkembang sebagai sesuatu yang bersifat alami atau akibat belum mengikuti jejak negara maju, Frank justru menyebut kemiskinan dan keterbelakangan merupakan hasil dari integrasi timpang dalam sistem ekonomi global.
Menurutnya, negara-negara Dunia Ketiga bukan tertinggal karena belum berkembang, melainkan karena secara historis telah dieksploitasi dalam jaringan kapitalisme internasional yang menguntungkan negara-negara pusat (core) dan merugikan negara pinggiran (periphery).
Warisan Pemikiran dan Karya Utama
Salah satu karya paling berpengaruh Frank adalah buku “Capitalism and Underdevelopment in Latin America” (1967), yang membongkar bagaimana proses kapitalisme global justru menciptakan kemiskinan struktural di Amerika Latin.
Buku ini mengubah cara pandang publik terutama warga di Amerika Latin dan meluas hingga ke Asia terhadap pembangunan, dan menjadi landasan penting bagi berbagai kritik terhadap model pembangunan yang meniru negara-negara Barat.
Frank berpendapat bahwa sejak masa kolonialisme, wilayah-wilayah pinggiran sudah menjadi bagian dari sistem kapitalisme global.
Dikatakan Frank, hubungan yang terbentuk antara pusat dan pinggiran bukanlah hubungan saling menguntungkan, melainkan relasi yang melestarikan ketimpangan. Negara pusat mendapatkan keuntungan industri dan surplus ekonomi, sementara negara pinggiran terjebak dalam peran sebagai pemasok bahan mentah dan pasar produk industri asing.
Cakupan Pemikiran
Frank mengembangkan pandangan dunia yang melihat sejarah sebagai rangkaian sistem ekonomi global yang saling terkait.
Ia menyoroti ketimpangan struktural antara negara pusat dan pinggiran, warisan kolonialisme ekonomi dalam sistem kapitalisme modern, dominasi negara-negara industri dalam menentukan arah ekonomi dunia dan kegagalan pembangunan berbasis model modernisasi yang bersifat satu arah.
Dia tegaskan untuk kita bahwa, “Ketertinggalan (underdevelopment) di wilayah pinggiran adalah hasil dari pembangunan (development) di pusat.”
Kutipan ini merangkum inti dari teori ketergantungan—yakni bahwa kekayaan dan kemajuan dunia “maju” (pusat) secara langsung terkait, bahkan bergantung pada, proses pengekstraksian, eksploitasi, dan pelestarian keterbelakangan di dunia “berkembang” (pinggiran).
Relevansi dengan Konteks Indonesia
Pemikiran Andre Gunder Frank sangat relevan dengan kondisi Indonesia, baik secara historis maupun struktural saat ini.
Sejak zaman kolonial, Indonesia telah dijadikan pemasok bahan mentah bagi pasar global, dari rempah-rempah hingga hasil tambang dan komoditas agraria.
Warisan ini masih terasa hingga kini, di mana struktur ekonomi nasional tetap bergantung pada ekspor komoditas mentah dan impor barang jadi.
Relasi pusat-pinggiran tak hanya terjadi secara global, tetapi juga dalam konteks kondisi dalam negeri . Ketimpangan antara wilayah pusat seperti Jakarta dan daerah penghasil sumber daya seperti Papua, Kalimantan, Sulawesi, atau Nusa Tenggara mencerminkan ketidaksetaraan struktural yang dijelaskan oleh teorinya.
Selain itu, banyak model pembangunan di Indonesia masih berorientasi top-down dan sering kali mengabaikan konteks lokal, memperkuat ketergantungan terhadap investor asing, dan memperlemah kapasitas produksi nasional.
Pandangan Frank dapat menjadi dasar reflektif dalam merumuskan pendekatan pembangunan yang lebih berkeadilan dan berdaulat.
Pembaca sekalian, Andre Gunder Frank mengajak kita untuk melihat pembangunan dari sudut yang berbeda—bukan sebagai proses mengejar ketertinggalan, tetapi sebagai perjuangan membebaskan diri dari struktur ketergantungan global.
Ia menantang narasi dominan bahwa pembangunan dapat dicapai hanya dengan meniru negara maju, dan mengingatkan bahwa pembangunan sejati menuntut keadilan struktural dan kedaulatan ekonomi.
Dalam konteks Indonesia yang sedang berjuang menata arah pembangunan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis keadilan sosial, pemikiran Frank tetap relevan dan penting untuk dipelajari serta dikembangkan.
Dari berbagi sumber