Myrdal mengilhami cara pandang kritis terhadap ketimpangan regional di Indonesia. Ketimpangan antara Jawa dan luar Jawa menjadi bukti nyata, yang kemudian melahirkan dorongan kuat untuk otonomi daerah pasca reformasi 1999.
PELAKITA.ID – Periode 1940-an hingga 1960-an merupakan fondasi awal dalam sejarah pemikiran pembangunan modern.
Di tengah gejolak pasca-Perang Dunia II dan proses dekolonisasi di berbagai belahan dunia, para ilmuwan sosial dan ekonom mulai menyusun teori-teori besar yang menawarkan cara baru melihat pembangunan ekonomi dan sosial di negara-negara yang baru merdeka.
Era ini ditandai dengan dominasi teori modernisasi, yang mengasumsikan bahwa pembangunan adalah proses linier menuju bentuk masyarakat industri yang “maju” seperti Barat.
Beberapa pemikir besar dari periode ini menjadi tonggak penting yang hingga kini masih memengaruhi cara kita memahami dan merancang pembangunan.
1. Walt Whitman Rostow: Lima Tahap Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu teori paling berpengaruh dari periode ini adalah “The Stages of Economic Growth” yang dikemukakan oleh Walt W. Rostow. Ia menyusun kerangka pembangunan dalam lima tahap: traditional society, preconditions for take-off, take-off, drive to maturity, dan akhirnya age of high mass consumption.
Teori Rostow sangat memikat para pembuat kebijakan Orde Baru Indonesia.
Strategi pembangunan nasional saat itu dirancang mengikuti model linear ini: mulai dari pembangunan infrastruktur, stabilitas politik, industrialisasi, hingga modernisasi masyarakat secara bertahap. Pembangunan jangka panjang ala GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) adalah representasi praktis dari pendekatan Rostow dalam konteks Indonesia.
Apa yang istimewa? Rostow menawarkan narasi “kemajuan” yang mudah dipahami dan diterapkan oleh negara-negara berkembang—meskipun kemudian dikritik karena terlalu menyederhanakan kompleksitas sosial dan budaya lokal.
2. Arthur Lewis: Model Dual Sektor
Arthur Lewis, peraih Nobel Ekonomi, mengusulkan model “dual sector” dalam ekonomi pembangunan. Ia menggambarkan masyarakat berkembang sebagai gabungan antara sektor tradisional (pertanian subsisten) dan sektor modern (industri dan jasa).
Pembangunan, menurut Lewis, akan terjadi jika terjadi perpindahan tenaga kerja dari desa ke kota secara besar-besaran untuk mengisi sektor produktif modern.
Model ini menjadi kerangka logis bagi migrasi urban besar-besaran di Indonesia sejak dekade 1970-an, terutama ketika industrialisasi di kota mulai menggeliat. Kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan tumbuh cepat karena menerima limpahan tenaga kerja dari desa-desa.
Apa yang istimewa? Teori Lewis menggambarkan dinamika pembangunan sebagai proses transformasi struktural yang membutuhkan migrasi manusia dan modal—sesuatu yang sangat relevan dalam pengalaman negara-negara berkembang.
3. Gunnar Myrdal: Ketimpangan dan “Circular Causation”
Gunnar Myrdal menolak pandangan bahwa pembangunan akan otomatis membawa pemerataan. Dalam karyanya Asian Drama, ia menyoroti proses circular cumulative causation: daerah yang sudah maju cenderung semakin maju, sementara yang tertinggal makin tertinggal.
Myrdal mengilhami cara pandang kritis terhadap ketimpangan regional di Indonesia. Ketimpangan antara Jawa dan luar Jawa menjadi bukti nyata, yang kemudian melahirkan dorongan kuat untuk otonomi daerah pasca reformasi 1999.
Apa yang istimewa?
Myrdal menjadi pemikir yang membawa isu keadilan regional dan sosial ke dalam wacana pembangunan, menjadikannya relevan di era ketika sentralisasi kekuasaan mulai dipertanyakan.
4. Max Weber: Budaya, Etika Kerja, dan Rasionalitas
Meskipun lebih dikenal sebagai sosiolog klasik, pemikiran Max Weber tentang hubungan antara budaya, etika kerja, dan rasionalitas turut mewarnai fondasi teori pembangunan. Ia menekankan pentingnya etos kerja, birokrasi rasional, dan nilai-nilai yang mendukung modernitas.
Di Indonesia, pemikiran Weber dapat dirasakan dalam upaya reformasi birokrasi, penerapan prinsip good governance, serta promosi profesionalisme dalam pelayanan publik setelah era reformasi.
Program reformasi birokrasi, akuntabilitas, dan meritokrasi yang kini berkembang adalah warisan intelektual dari etika rasional yang Weber bayangkan.
Apa yang istimewa? Weber menegaskan bahwa pembangunan bukan sekadar urusan ekonomi, tapi juga soal nilai, budaya, dan struktur sosial yang mendukung atau menghambat modernisasi.
Siapa yang Paling Menarik Perhatian?
Dari keempat tokoh ini, Walt W. Rostow mungkin adalah yang paling langsung dan masif pengaruhnya di lapangan kebijakan, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia pada masa Orde Baru.
Namun, Gunnar Myrdal justru menawarkan dimensi kritis yang lebih tajam terhadap klaim “kemajuan” yang dibawa teori modernisasi.
Bagi pengamat kontemporer dan kalangan yang mengedepankan keadilan sosial, pemikiran Myrdal tentang ketimpangan dan ketidakmerataan menjadi semakin relevan, khususnya dalam konteks tantangan pembangunan pasca-desentralisasi dan krisis lingkungan saat ini.
Periode 1940–1960-an menjadi masa kelahiran pemikiran pembangunan yang membentuk arah kebijakan dan strategi di banyak negara.
Pemikiran dari tokoh seperti Rostow, Lewis, Myrdal, dan Weber membuka jalan bagi pendekatan teknokratik sekaligus membuka ruang kritik sosial yang terus berkembang hingga hari ini.
Meski kini banyak teori baru bermunculan, pemikiran dari masa ini tetap menjadi referensi klasik yang penting—baik untuk memahami asal usul ide pembangunan, maupun untuk mengkritisinya agar lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan.