Memaknai Relasi Suci Tanah dan Manusia: Titik Awal dan Akhir Perjalanan

  • Whatsapp
Ilustrasi

Oleh: Muliadi Saleh
Penulis, Pemikir, Penggerak Literasi dan Kebudayaan

PELAKITA.ID – Ia menyimpan rahasia kehidupan dan kematian. Ia tidak bersuara, namun seluruh makhluk berpijak padanya. Ia tidak berjalan, tapi dari sanalah segala perjalanan bermula.

Tanah adalah permadani semesta, dihamparkan oleh Tuhan agar manusia mengenal arti pulang, arti tumbuh, dan arti sujud.

Dalam bahasa Arab, kata ardh mengacu pada bumi atau tanah—tempat berpijak seluruh makhluk dan saksi sejarah peradaban manusia. Dalam bahasa Sanskerta, dhara berarti penopang, merujuk pada kekuatan tanah yang menopang segalanya. Dan dalam bahasa kita sehari-hari, “tanah” adalah rumah kehidupan—dan juga liang keheningan terakhir. Ia tak pernah meminta lebih dari yang ia beri. Tapi manusia? Sering kali menanam ketamakan, memupuk kerakusan, dan memanen kegersangan.

Tanah bukan sekadar tempat; ia adalah makhluk yang hidup dalam diam. Ia mencium tapak kaki kita, menampung tetes keringat petani, menerima cucuran air mata pengembara yang tersungkur.

Bahkan dalam banyak hadis, Nabi Muhammad menyebut tanah sebagai alat penyucian—tayammum—ketika air tiada. Lihatlah, tanah bahkan membersihkan dosa-dosa kecil kita.

Tanah, bagi para sufi, bukan hanya materi, melainkan simbol kerendahan hati. Ia berada di bawah segalanya, namun menumbuhkan segala sesuatu yang tinggi. Dari tanah tumbuh padi, dari tanah keluar mata air, dari tanah menyembul pohon-pohon yang berbuah iman dan amal.

Seorang sufi melihat tanah bukan sebagai objek yang diolah, tetapi sebagai guru yang menyampaikan hikmah: bahwa segala yang menjulang harus berasal dari kerendahan hati. Bahwa sebelum kita naik ke langit, kita harus tahu bagaimana mencium bumi.

Air mengalir, udara bergerak, api berkobar. Tapi tanah—ia diam. Dan dalam diamnya itulah tumbuh kehidupan. Dalam setiap biji yang disemai, dalam setiap akar yang mencengkeram, dalam setiap cacing yang melata, ada doa-doa kecil yang tak terucap tapi didengar langit. Tanah tidak menuntut balasan, hanya meminta dihormati.

Namun manusia, dalam arus modernitasnya, sering lupa. Tanah digali tanpa cinta, dijual tanpa hormat, diaspal tanpa doa. Kita lupa bahwa tanah punya memori.

Ia mengingat siapa yang menyiraminya dengan sabar, siapa yang mencacinya, siapa yang meninggalkannya tandus. Tanah juga bisa marah: ia retak, longsor, menenggelamkan, mengubur—sebagai tangis dalam bentuk bencana.

Lalu bagaimana seharusnya kita memandang dan memperlakukan tanah?

Pertama, dengan cinta. Hanya yang mencintai tanah yang mampu menumbuhkan kehidupan. Lihatlah para petani—mereka bercakap dengan tanah, mengolahnya bukan sekadar pekerjaan, tapi ibadah. Mereka tak hanya menanam benih, tetapi juga harapan dan iman. Mereka tahu, tanah tak bisa dibohongi. Apa yang ditanam, itulah yang akan tumbuh.

Kedua, dengan adab. Dalam Islam, adab mendahului ilmu. Menapaki tanah dengan kesombongan adalah bentuk pengkhianatan terhadap asal mula kita. “Dari tanah Kami ciptakan kamu, ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya Kami akan membangkitkan kamu sekali lagi.” (QS. Thaha: 55). Ayat ini bukan sekadar doktrin eskatologis, tetapi ajakan spiritual untuk selalu sadar dari mana kita berasal.

Ketiga, dengan doa. Berdoalah untuk tanah, sebagaimana tanah berdoa dalam keheningan. Tanah yang diberkahi adalah tanah yang disirami dengan doa dan syukur. Seperti para wali dan ulama dahulu—menyentuh tanah dengan zikir, menyemai benih dengan basmalah, memanen dengan tahmid.

Tanah bukan benda mati. Ia mendengar, merasa, dan bahkan berbicara kepada Tuhan tentang kita. Dalam setiap benih yang tumbuh, setiap buah yang ranum, setiap bunga yang mekar—tanah menyampaikan kesaksian tentang bagaimana manusia memperlakukannya. Ia adalah penghubung antara langit dan bumi; tempat sujud kita, dan tempat tubuh ini kelak kembali.

Relasi manusia dengan tanah seharusnya bukan relasi eksploitatif, melainkan relasi spiritual. Tanah bukan objek ekonomi semata, tapi sahabat jiwa.

Ia adalah kitab terbuka yang mencatat jejak langkah kita. Maka menumbuhkan tanaman di atas tanah bukan hanya aktivitas bertani, melainkan bagian dari ibadah ekologis. Menanam satu pohon sama dengan menanam kasih di dada bumi. Menyiram satu batang jagung, berarti mengirim salam cinta ke langit.

Di zaman yang serba cepat ini, kita butuh melambat—duduk bersila di atas tanah, mendengarkan detak jantung bumi.

Kembali menumbuhkan cinta kepada tanah, kepada apa yang tumbuh di atasnya, kepada air yang meresap ke dalamnya, kepada cacing yang menggemburkannya.

Jangan biarkan tanah hanya jadi ladang bisnis dan angka statistik. Tanah harus jadi ladang jiwa, tempat iman tumbuh dari akar yang dalam.

Tanah bukan milik kita—tanah adalah titipan. Dari-Nya kita datang, melalui tanah kita hidup, dan ke tanah kita kembali. Maka berbuatlah baik kepada tanah, agar ketika kelak kita kembali ke pangkuannya, ia menyambut kita bukan sebagai musuh, tapi sebagai anak yang pulang membawa cinta.


Muliadi Saleh
Penulis, Pemikir, Penggerak Literasi dan Kebudayaan
“Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban.”