Manis Pahit Studi Kelautan di Universitas Hasanuddin

  • Whatsapp
Membawa Ilmu Kelautan ke ruang kelas generasi muda (ilustrasi Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Bermula dari rindu suasana koridor Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Universitas Hasanuddin awal tahun 90-an, penulis pun sepagi mungkin menuju Tamalanrea.

Sebagai mahasiswa yang pernah kuliah sejak 1988 hingga 1995, penulis ingin menyesap kembali suasana kampus dan menengok jejak-jejak perjalanan sebagai mahasiswa. Mengenang ruang sekretariat Senat ITK, sekretariat Marine Science Diving Club di lantai dasar, juga bangku panjang di koridor itu.

Di area ini, hingga dini hari, mahasiswa menghabiskan waktu, menumpahkan gairah muda, dan membuka lapak-lapak asa sebagai mahasiswa—dan kelak, sebagai alumni Kelautan Unhas. Hasilnya,

Anak-Anak Kelautan Unhas dikenal sebagai petarung intelektual, berprestasi di urusan sepak bola, dan banyak penyelam yang lahir dari rahim MSDC turut mewarnai percaturan olahraga selam nasional.

Alumni yang bersinar saat ini—baik di level kabupaten/kota, provinsi, hingga di Ibu Kota Jakarta—adalah mereka yang rajin duduk di selasar itu.

Jika indikatornya adalah keterwakilan di DPRD, maka ada belasan alumni yang kini menjadi anggota dewan—mulai dari Makassar, Kolaka, Bombana, hingga Pasangkayu. Belum lagi mereka yang menjadi ASN.

Jika posisi struktural di pemerintahan dijadikan indikator, maka mereka yang dahulu ‘memamah biak’ informasi maritim di selasar itu kini ada yang menjadi kepala bidang eselon II, kepala Bappeda, kepala dinas kelautan dan perikanan provinsi, hingga dirjen di kementerian. Masih banyak lagi yang tak disebut di sini.

Gambaran itu makin relevan ketika kita tahu bahwa saat ini ada setidaknya tiga alumni ITK yang menjabat sebagai pejabat eselon II di kementerian—dari Kementerian Lingkungan Hidup hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Baru-baru ini juga terdengar kabar manis: seorang alumni Kelautan Unhas angkatan 1996 yang menjadi asisten Menteri Sakti Wahyu Trenggono didapuk sebagai Komisaris Independen di BUMN Perikanan Indonesia.

Jika indikatornya praktisi LSM, pengusaha, pekerja media, dosen swasta. Semesti alumni Kelautan hadir di mana-mana, mereka lahir dari koridor hampir satu dekade pertama di ITK Unhas itu.

Seperti itulah samudera pengabdian alumni Kelautan Unhas. Begitulah koridor ITK itu membentuk, menempa, dan menghantar anak-anak kelautan.

Kabar Pahit

Usai berkunjung ke koridor ITK, penulis bersama tim ISLA FC bertolak ke Ajattapareng untuk menggelar pertandingan sepak bola persahabatan antara alumni kelautan dan anak muda Pinrang di Kota Parepare.

Bukan soal sepak bolanya yang ingin diceritakan, melainkan tiga kabar tak mengenakkan yang terungkap dari pertemuan dengan sejumlah alumni.

Pertama, dari seratusan mahasiswa Kelautan yang aktif, hanya enam orang yang berminat mengikuti Diklat Selam Dasar. Dulu, di tahun 90-an, mahasiswa kelautan justru mengantre untuk bisa ikut diklat.

Kedua, penulis terkejut saat salah satu alumni mengaku bahwa selama kuliah ia hanya sekitar lima kali menginjakkan kaki di Marine Station Pulau Barrang Lompo. Artinya, dalam setahun hanya sekali atau dua kali.

Padahal dulu, hampir setiap pekan kami ke sana karena di situlah ada sekretariat lapangan dengan sarana lengkap. Kami akrab dengan warga, bahkan pemilik perahu kadang berkata, “Gratis saja kalau anak kelautan.”

Ketiga, intensitas praktik lapang ke pulau-pulau di Kepulauan Spermonde tidak seaktif tahun 90-an. Penulis yang pernah menjadi ketua praktik lapang pada awal 90-an pernah mengunjungi belasan pulau dalam satu pekan—dari wilayah Makassar hingga Pangkep. Ada kohesi antara dosen, mahasiswa, dan masyarakat pesisir.

Keempat, beredar informasi bahwa kualitas akademik mahasiswa Ilmu Kelautan kini tak sekuat generasi sebelumnya. Saat ini, memang banyak mahasiswa berasal dari daerah, namun ini justru dipersepsikan sebagai “pelengkap kuota” saat peminat dari kota-kota besar dengan kualitas pendidikan tinggi justru enggan masuk ke Ilmu Kelautan.

Mengapa Begitu?

Mestinya tak ada kabar mundur seperti itu. Indonesia adalah negeri maritim dengan lebih dari 17.000 pulau dan dua pertiga wilayahnya berupa laut. Seharusnya, ilmu kelautan menjadi primadona di dunia pendidikan dan karier.

Namun, dari tahun ke tahun, minat anak muda untuk mendalami ilmu kelautan justru terus menurun. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ternyata, laut belum benar-benar hadir di ruang kelas. Banyak sekolah tak memperkenalkan isu kelautan secara kontekstual dan menarik.

Ilmu kelautan terasa asing bagi pelajar di kota—apalagi tanpa pengalaman langsung dengan laut. Atau jangan-jangan fakultas tidak lagi “match and link” dengan sekolah menengah atas? Atau bisa jadi, kegiatan sosialisasi hanya formalitas belaka.

Penulis merasa ada anggapan publik bahwa pekerjaan di sektor kelautan masih dipandang sebelah mata. Sementara bidang lain seperti teknologi, bisnis digital, dan kesehatan dianggap lebih menjanjikan.

Akibatnya, anak muda lebih memilih menjauh dari laut. Padahal kenyataannya tidak demikian—banyak lapangan pekerjaan yang membutuhkan keahlian kelautan.

Nama-nama alumni yang telah berhasil seharusnya menjadi magnet yang bisa memengaruhi pilihan karier generasi muda. Mereka perlu dilibatkan dalam gerakan bersama untuk menarik minat itu kembali.

Hal ini harus dipikirkan bersama, terutama soal kurangnya inovasi dalam pendidikan kelautan. Banyak program studi masih mengandalkan pendekatan konvensional: teori yang panjang dan membosankan tanpa praktik yang menggugah.

Ini jelas tidak cocok dengan generasi muda yang tumbuh dengan teknologi, visualisasi, dan pengalaman langsung. Tanpa pendekatan kreatif, ilmu kelautan terasa ketinggalan zaman.

Di sisi lain, kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan belum sepenuhnya berpihak pada generasi muda yang ingin menekuni dunia kelautan. Minimnya beasiswa khusus, terbatasnya program magang terpadu, serta tidak adanya jalur karier yang jelas membuat banyak calon mahasiswa ragu.

Mereka butuh kepastian bahwa ilmu yang mereka pelajari akan membuka peluang nyata, bukan sekadar idealisme yang berujung pada pengangguran terdidik.

Saatnya Memboyong Laut ke Ruang Kelas

Masih ada optimisme tentu saja. Sebagaimana penulis tersenyum pada kiprah banyak alumni Kelautan di Ternate pekan lalu. Ada yang kerja di DKP Ternate, di unit veritkal Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahkan ada anak Kelautan angkatan 2006, atau sekitar 20 tahun lalu, meski ini satu di antara seribuan.

Begitulah. Lalu apa yang bisa dilakukan ke depan? Untuk mengubah situasi ini, dibutuhkan upaya bersama. Pendidikan maritim atau kelautan mesti diboyong ke ruang kelas-kelas anak muda dengan mengajak alumni urunan membahas agenda Fakultas atau Departemen secara luas dan terbuka.

Jangan lagi business as usual, alumni hanya jadi pelengkap data tanpa komunikasi heart to heart.  Pembaca pasti tahu arah pernyataan ini.

Perlu ada sinergi konkret antara dunia akademik, teknologi digital, kisah-kisah inspiratif, dan jaminan masa depan karier yang nyata. Mengapa tidak bikin misalnya Kemah Kerja Mahasiswa dan Alumni dan didukung sumber daya lebih dari cukup, apalagi sekarang sudah ada IKA FIKP dengan ketua yang baru. Ayo gas!

Lalu jika ingin siap menghadapi masa depan, kita butuh kurikulum yang menjadikan laut sebagai ruang belajar terbuka.

Kita perlu menghadirkan ilmuwan kelautan ke media sosial, ke layar kaca, dan ke ruang-ruang publik. Mereka harus punya nyali bersitatap dengan realitas, bukan semata jumawa di depan mahasiswa awam. Karena sejatinya, masa depan Indonesia ada di laut. Dan masa depan laut Indonesia ada di tangan generasi muda.

___
Penulis, Kamaruddin Azis, alumni ITK Unhas 1989


Muscat, 3 Mei 2025