Change is inevitable, and great leaders remain flexible in uncertain situations. DP pantas disematkan kuot itu. Dia sukses menjadikan tantangan sebagai pintu masuk koebersamaan, menjalankan kolaborasi, dan menumbuhkan inisiatif sesiapa di dalamnya.
PELAKITA.ID – ”Kami tidak bisa beri uang, kalau bantu untuk kebutuhan makan siang saat acara, adaji ala kadarnya, atau dukungan peralatan, bisa-ji.”
Demikian kurang lebih jawaban Danny Pomanto saat satu komunitas motor di Indonesia meminta penulis menyampaikan ide kerjasama.
Penulis juga ingat ketika seorang alumni Smansa Makassar melaporkan, masjid angkatan mereka mendapat dukungan pembinaan Pemkot sebesar 50 juta rupiah. DP tidak tahu sebelumnya kalau penulis datang dari angkatan itu.
Banyak kisah-kisah interaksi, yang menjadi justifikasi betapa peduli dan pahamnya seorang Danny Pomanto pada kapasitas koleganya, pada pengalaman adik-adiknya yang selama ini lekat dan dekat dengannya.
Penulis tiba-tiba didapuk naik ke stage dan bicara tentang insight tata kelola transportasi massal di Makassar dan Mamminasata.
Dia pun memperkenalkan penulis kepada ribuan staf, pejabat eselon di lingkup pemerintahannya, siapa Denun, dan anak mana.
Yang tak bisa terlupa juga, ketika dia setuju untuk penulis bisa duduk di sampingnya bertemu Menteri Senior di Singapura tiga tahun lalu dan berbagi perspektif tentang pengembangan Kawasan Punggol di Singapura sebagai salah satu ‘Kota Kolaboratif Multi Layanan’.
Dengannya, penulis bisa berkunjung ke hampir semua kabupaten kota di Sulawesi Selatan dan pada momen yang sama menuliskan potensi sumber daya alam, nilai-nila sosial dan kelembagaan kehidupan di daerah.
Semua permintaan penulis untuk pemberitaan, kkutipan, video testimoni, hingga respon pada pesan ucapan selamat ulang tahun dilayani.
Tidak ada pengaturan atau skenario yang memakan waktu lama layaknya protokol tim media pemerintah: DP adaptif. Bisa tampil seinstan mungkin. DP di pandangan penulis seperti Menteri Susi yang teramat cermat mengecek pasukannya.
“Mana Pak Denun, mana Daeng Nuntung, sudahmaki makan?” Ucapnya beberapa kali saat kami dalam misi perjalanan ke daerah. Dia peduli untuk memastikan anggotanya sudah makan atau belum.
”Kamu jangan jauh-jauh dari barisan, harus sigap. Mana Azis, Azisss….” Terkenang Menteri Susi saat kami dalam perjalanan ke Banda Neira dan Balikpapan.
Ikut rombongan Menteri atau ikut rombongan DP semua harus sigap, lengah sedikit tertinggal. Protap ini berlaku umum sesungguhnya, tapi untuk konteks kedua orang ini, ada kekhususan.
Jika pembaca tanya penulis, dari sisi manajemen, apa sisi yang tertinggal dalam kenangan bersama DP setelah 10 tahun menjadi Wali Kota Makassar, ada banyak refleksi suka-cita, suka-duka, ada kritik pada penanganan isu-isu sosial, tentang sampah, transportasi kota, reklamasi, tetapi pun, ada banyak pujian. Hal yang wajar bukan?
Yang menyenangkan adalah itikad DP menuntun anggota tim untuk memahami hakikat visi dan bagaimana mencapainya.
Terkenang pada satu momen bersama keluarga Smansa 81 Makassar, DP alumni di sini, dia menepuk bahu penulis.
”Pak Denun, sudahmi itu nah, terima kasih masukanta,” ucapnya terkait usulan saya sebagai Project Facilitator untuk Bus Rapid Transit Corddior atau BRT Mamminasata agar Pemkot mengalokasikan sumber daya sosialisasi urgensi BRT di Kota Mamminasata. Saat itu penulis bekerja untuk GIZ Felicity tahun 2021.
Sosodara…
Jika pembaca melihat karya-karya perencanaan, atau infografis, atau desain media komunikasi DP, itu sungguh luar biasa. Darinya kita bisa belajar tentang ‘what is stratregic thinking’ secara dahsyat.
Dia mewakili tidak banyak pemimpin di Indonesia yang punya visi jelas dan kemampuan mengkomunikasikannya dengan efektif.
Coba perhatikan sejumlah event-event besar di Makassar yang dihelat di Makassar, mulai dari F-8 hingga pertemuan kepala daerah se-Indonesia. Ciamik betul pengorganisasian event-nya bukan? DP ‘event organizer’ yang mumpuni!
Pada momen yang sama atau serupa, dia bisa didapuk sebagai pembicara, pemberi testimoni atas tema-tema tertentu dengan sikap dan lancar.
Dia santun menyapa orang, penghormatannya pada semua lapis sosial telah penulis saksikan selama berkunjung ke Galesong, Jeneponto, Bone, Maros, Pinrang, Barru, Wajo hingga Toraja dan Toraja Utara.
DP sosok yang sangat mendahulukan etik dalam perilakunya, itulah mengapa penulis tak ragu menyebutnya sosok yang punya inteligensi emosional di atas rerata sejumlah kepalda daerah di Sulsel.
Dia paham dan pandai mengelola emosi di ruang publik, empatinya bukan karena materi tetapi karena ’social value’, kompetensi. Dia telaten mereawat silaturahmi, hubungan antar generasi dan menciptakan kondisi positif di lingkungan kerja atau interaksi kami selama ini.
Coba ajak dia main futsal atau minisoccer, pasti jawabannya, yes!
Setback yang baik
Ada ungkapan. “Change is inevitable, and great leaders remain flexible in uncertain situations. “ DP pantas menyandang ungkapan itu. Dia menjadikan tantangan sebagai pintu koebersamaan, kolaborasi, dan menumbuhkan inisiatif.
Dia bisa saja setback semata untuk memaksimalkan nilai kebanggaan dan kemenangan, kira-kira begitu poinnya jika melihat lebih dalam fleksibilitas atau daya lentur kepemimpinannya.
Akhhirnya, DP telah melepas fotonya di ruang kerja Wali Kota Makassar per tanggal 19 Februari, angka cantik. Di balik foto itu, kita telah menyaksikan kemampuan menavigasi situasi sulit di Kota Makassar untuk semua bisa berselancar dengan riang gembira, dengan baik-baik saja, baik untuk semua.
Setelah berinteraksi dengannya dalam tiga tahun terakhir, dia sukses memberdayakan anggota tim seperti penulis dengan belajar bersama, beraksi bersama karena dia paham nilai anggota timnya, sesuai competency-based.
Penulis menggambarkan interaksi dengan DP sebagai mozaik indah pengembaraan di samudera luas. Laksana sekelompok pencari ikan torani, tentang pelaut-pelaut yang bersetia, antara sawi dan punggawa. Sawi yang mesti selalu taat, pada yang diyakini punya destinasi jelas, punya ciri leader kuat dan baik.
Bemana dengan sosodara?
____
Penulis
Kamaruddin ‘Denun’ Azis | Alumni ITK Unhas 89
Ketua Ikatan Sarjana Kelautan )ISLA) Unhas 2010-2012