Rusdin Tompo | Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang, Wujud Filosofi Akbulo Sibatang

  • Whatsapp

Wadah pembakaran berbentuk segi empat, ada yang dibuat permanen dari besi, yang bila diperlukan tinggal dipasang saja. Terlihat kreativitas warga, baik berupa wadah pembakaran, sumber api, maupun pilihan lokasinya.

PELAKITA.ID – Begitu memasuki Desa Lantang, kepulan asap tampak menyembul di antara rumah-rumah warga. Suara musik disetel keras, terdengar dari arah berbeda-berbeda. Suasana pesta rakyat begitu terasa.

Desa yang berada di Polongbangkeng Selatan, berjarak sekira 18 km dari ibu kota Kabupaten Takalar ini, memang sedang punya hajatan: Pesta Adat Aklammang.

Bentuk Rasa Syukur

Saya dan istri, Gita Nurul Ramadhani, tiba di Desa Lantang, sekira pukul 10.35 wita. Butuh waktu 1 jam lebih perjalanan dengan sepeda motor Scoopy dari rumah kami di Kompleks Anggrek, Minasa Upa, Makassar.

Kami langsung diajak naik ke rumah panggung (balla rate) oleh Nanda Eka Putri Syamsuddin, yang mengundang kami ke desanya.

“Daerah di sini subur. Ada sungai dan pengairan yang bagus. Itu mi bisa tiga kali panen dalam setahun,” ujar Daeng Ngerang, setelah kami berpindah tempat ke bawah rumah (siring balla), dan duduk di balai-balai kayu.

Dikemukakan, para petani di Desa Lantang umumnya punya sawah dan kebun. Pengairannya terjaga baik. Petak-petak sawah menghampar di sisi kiri kanan jalan.

Di beberapa bagian, tumbuh rimbun kebun tebu, rumpun bambu, dan pohon-pohon pisang berdaun lebar.

Itulah mengapa, dusun yang berada di ketinggian ini, diberi nama Dusun Borongunti.

Dahulu, kisah Daeng Ngerang, pohon pisang tumbuh membelukar, saat rumah-rumah warga masih jarang. Pohon-pohon pisang itu masih banyak terlihat, berdiri berkelompok di pinggir jalan atau di samping dan belakang rumah warga.

Dalam perkembangannya, di tahun 2002, terbentuk dua dusun baru, yakni Dusun Bontomanai dan Bontoloe. Pada tahun 2016, terbentuk lagi Dusun Lantang, dan di tahun 2019, terbentuk Dusun Kale Lantang.

Filosofi Akbulo Sibatang

Pesta adat aklammang menggambarkan kekayaan alam, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Desa Lantang.

Menurut situs Desa Lantang (lantang.desa.id), desa ini berdiri sejak tahun 1988, merupakan pemekaran dari Desa Moncongkomba.

Sejarah desa mencatat, kala itu, desanya punya luas lebih dari 17,22 km persegi, dengan penduduk sebanyak 2.023 jiwa.

Pada awal pemekaran, dusunnya terdiri atas Dusun Toddosila, Dusun Kalumbangara, Dusun Lantang 1, Dusun Lantang 2, dan Dusun Jeknemattalasa.

Dalam perkembangannya, di tahun 2002, terbentuk dua dusun baru, yakni Dusun Bontomanai dan Bontoloe. Pada tahun 2016, terbentuk lagi Dusun Lantang, dan di tahun 2019, terbentuk Dusun Kale Lantang.

Setelah bertambah menjadi 9 dusun, tokoh-tokoh masyarakat setempat bersepakat untuk melakukan pemekaran desa. Kini, desa dengan tradisi kuat itu sudah terbagi dua: Desa Lantang dan Desa Kale Lantang.

Desa yang kami datangi ini adalah Desa Lantang, terdiri dari Dusun Lantang 1, Dusun Lantang, Dusun Kalumbangara, Dusun Borongunti, dan Dusun Toddosila. Luas Desa Lantang, saat ini, kurang lebih 9,12 km persegi, dengan penduduk sebanyak lebih dari 2.239 jiwa.

Saya ke sana pada Kamis, 30 April 2026. Itu artinya, saya tidak menyaksikan prosesi aklammang sejak awal, yang dimulai pada hari Rabu.

“Paling pertama dilakukan itu, ngerang bungasa ke pinati, berupa beras 1 liter, 1 buah kelapa, dan 1 biji telur. Terkadang juga dikasi uang Rp10 ribu, tetapi itu tidak wajib. Ini dibawa 1-2 hari sebelum hari H. Pada hari Rabu,” terang Daeng Ngerang.

Pinati adalah sebutan untuk tokoh adat, yang memiliki peran penting dalam memimpin ritual, mengatur adat istiadat, dan menjaga tradisi dalam komunitas tradisional, khususnya di Sulawesi Selatan.

Pinati aklammang di Desa Lantang adalah Daeng Bau, yang khusus memimpin prosesi aklammang, sebab ada juga pinati untuk prosesi adat lainnya.

Saya meminta ke Daeng Ngerang, apakah ia bisa menunjukkan jenis pohon bambu yang digunakan? Ia lantas mengajak saya ke belakang, melewati samping rumahnya, menuju rumpun bambu miliknya.

Desa yang kami datangi ini adalah Desa Lantang, terdiri dari Dusun Lantang 1, Dusun Lantang, Dusun Kalumbangara, Dusun Borongunti, dan Dusun Toddosila. Luas Desa Lantang, saat ini, kurang lebih 9,12 km persegi, dengan penduduk sebanyak lebih dari 2.239 jiwa.

Jenis bambu yang dipakai membuat lammang adalah bulo parring (bambu apus/tali), yang punya nama ilmiah Gigantochloa apus.

Tumbuhan ini tumbuh subur di daerah tropis. Biasanya digunakan untuk membuat bahan bangunan rumah, kerajinan kurungan ayam, dan keperluan rumah tangga lainnya.

Daeng Ngerang lalu menunjuk batang-batang bambu yang menjulang di depannya. Katanya, kalau mengambil bambu, ambil yang usianya sudah 1 tahun.

Jangan terlalu tua, nanti pecah bambunya saat pembakaran. Cirinya, bisa dilihat dari pucuk daun bambu yang mulai mengering kecokelatan.

“Caranya potong bambu setelah ditebang, ambil bagian bawah dari ruasnya, tetapi nanti dibalik saat mengisi songkolo,” jelas Daeng Ngerang memberi petunjuk praktis.

Songkolo adalah sebutan untuk beras ketan yang sudah dikukus. Beras ketan untuk lammang, bisa berupa ketan hitam ataupun ketan putih.

Ayah dua anak yang pernah jadi manajer koperasi di Makassar ini kemudian berbicara lebih serius. Disampaikan bahwa prosesi aklammang ini merupakan wujud dari filosofi akbulo sibatang, yang menggambarkan persatuan, gotong royong, dan semangat bekerja sama.

“Kitalah yang mesti terus merawat tradisi ini secara bersama-sama. Kalau bukan kita sendiri sebagai orang Lantang yang menjaganya, siapa lagi?” tandas Daeng Ngerang.

Cara Berbeda, Spirit Tetap Sama

Tiba waktu makan siang, kami diajak menyantap menu yang disediakan tuan rumah. Kembali kami naik ke atas.

Sayur bening, ikan goreng, pallu cekla bolu, dan racak mangga, begitu mengundang selera. Nasi hangat dari beras baru (ase beru) hasil sawah sendiri, bikin makan siang kian lahap.

Sehabis makan, saya mengucapkan terima kasih atas jamuan dan keramahan Daeng Ke’na dan Daeng Ngerang.

Wadah pembakaran berbentuk segi empat, ada yang dibuat permanen dari besi, yang bila diperlukan tinggal dipasang saja. Terlihat kreativitas warga, baik berupa wadah pembakaran, sumber api, maupun pilihan lokasinya.

Kami lanjut bercerita. Sesekali mata saya memperhatikan ibu-ibu yang sedang ammone lammang.

Tahun ini, Daeng Kenna dan Daeng Ngerang memasak 45 liter beras ketan hitam. Lebih sedikit dibanding tahun lalu, yang mencapai 60 liter.

“Kalau masak 45 liter, bisa untuk 100 potong bambu, tergantung ukuran panjang dan lubang bambunya,” jelas Daeng Kenna.

Beras ketannya dikukus di panci jawa ukuran 10 liter, menggunakan kompor 1000 mata. Kompor berbahan bakar gas itu ditaruh di bagian tengah rumah. Ruang ini juga berfungsi untuk menerima tamu.

Dahulu, tambah Daeng Kenna, beras mentah yang dikasi masuk ke dalam bambu. Cara ini butuh waktu pembakaran lebih lama, bisa 6-7 jam. Buluh bambu dipanggang hingga tampak hangus dan santannya meleleh, karena mendidih.

Sekarang, mereka menggunakan cara sedikit ringkas. Berasnya dikukus terlebih dahulu, lalu dimasukkan ke buluh bambu untuk dipanggang. Cara ini hanya butuh waktu 4-5 jam. Memasak selama itu, bisa menghabiskan 2 tabung gas 3 kg.

Kata Daeng Ngerang, dengan memasak beras ketannya terlebih dahulu menggunakan kompor gas, bisa menghemat kayu bakar.

Saya perhatikan, saat ibu-ibu ammone lammang, mereka membuat gulungan daun pisang menggunakan pelepah pisang. Lalu perlahan memasukkannya ke dalam bilah bambu, sebagai wadah menaruh beras ketan atau songkolonya.

Saya bertanya kepada Daeng Ngerang, “Apa bedanya kakdok bulo dan lammang?”

“Kakdok bulo itu hasil masak dari lammang. Kakdo dalam bahasa Makassar berarti nasi atau makan. Dilammang berarti dikasi masuk ke dalam bambu. Jadi aklammang itu bisa berarti cara memasak. Selain beras ketan, bisa juga memasukkan ikan atau ayam ke dalam bambu, dan namanya aklammang,” papar Daeng Ngerang.

Saya manggut-manggut mendengar penjelasannya.

Kami pun bergeser, menuju tempat pembakaran lammang yang berada di belakang rumah. Daeng Ngerang menyampaikan, tahun lalu tempat pembakarannya di samping rumahnya.

Namun kali ini dipindahkan karena pohon rambutan milik saudara istrinya sudah tumbuh besar. Halaman rumah mereka memang tidak berbatas pagar, hanya berupa pohon sebagai penandanya.

Tempat pembakaran lammang ini dibuat persegi empat dari patok-patok bambu, lalu dililitkan kawat berduri. Daeng Ngerang memberi alasan, kawat berduri itu sebagai penahan, agar buluh bambu lammang tidak roboh.

Daeng Ngerang menggunakan limbah kayu, bekas tebangan pohon, sampah plastik, bahkan ban sepeda motor dan ban mobil bekas untuk membuat apinya. Sebagai antisipasi, ia juga menaruh air di dekatnya untuk menyiram manakala apinya membesar.

Halaman depan, samping, atau belakang rumah, semua dimanfaatkan untuk aklammang. Jangan heran bila melihat asap mengepul di mana-mana, di antara rumah-rumah warga.

Ketika hari menjelang sore, saya dan istri berjalan melihat-lihat warga setempat yang sibuk aklammang. Di teras-teras rumah, tampak kelompok ibu-ibu memasukkan lammang ke dalam bilah bambu.

Setiap kali melihat ada pembakaran lammang, kami singgah, berbincang sebentar dengan warga.

Kami meminta izin memotret dan memvideokan aktivitas mereka.

Saat melihat tempat pembakaran yang bentuknya besar, kami pun kepo. Daeng Nai, 65 tahun, yang kami tanya, mengaku memasak lammang sebanyak 100 liter, untuk 2 keluarga.

Banyak pula yang memasak lebih dari 100 liter. Namun rerata memasak lammang antara 50-100 liter.

Wadah pembakaran berbentuk segi empat, ada yang dibuat permanen dari besi, yang bila diperlukan tinggal dipasang saja. Terlihat kreativitas warga, baik berupa wadah pembakaran, sumber api, maupun pilihan lokasinya.

Halaman depan, samping, atau belakang rumah, semua dimanfaatkan untuk aklammang. Jangan heran bila melihat asap mengepul di mana-mana, di antara rumah-rumah warga.

Dari interaksi dengan orang-orang yang kami temui, banyak dari mereka yang berasal dari berbagai daerah.

Mereka antara lain datang dari Gowa, Pangkep, Makassar, Bulukumba, Maros, bahkan Parepare. Mereka sengaja berkunjung ke Lantang hanya untuk melihat pesta rakyat aklammang.

Saat tiba-tiba turun hujan deras, warga sigap menutup tempat pembakaran lammangnya.

Agar bilah-bilah bambu lammang tidak basah terkena hujan, ada yang menutupnya dengan daun pisang yang disusun di sekeliling tempat pembakaran.

Ada yang menutup dengan menggunakan atap seng. Ada pula yang memakai terpal, yang biasa digunakan sebagai tenda pesta.

Hujan sore itu, baru reda menjelang Magrib.

Akibatnya, banyak warga yang membakar lammang hingga dini hari, termasuk Daeng Ngerang. Lampu dari arah dapur, senter, dan sinar bulan purnama jadi penerangnya.

Terdengar tetangga memutar lagu-lagu penyanyi Ridwan Sau, sebagai hiburan menemani mereka aklammang.

Saya sempat memotret Daeng Ngerang ketika membolak-balik kayu bakar untuk memastikan apinya terus menyala.

“Sudah begitu memang, setiap kali aklammang ki, selalu turun hujan. Kayu jadi basah semua. Na sessaki,” keluh Daeng Ngerang sambil senyum kecut.

Ritual Acara di Sungai Lantang

Saya bangun saat terdengar bunyi masjid. Lamat-lamat tarhim terdengar dari kejauhan, disusul kumandang azan Subuh, dari masjid yang berada di sisi utara dan selatan desa. Masjid Nurul Huda di Dusun Kalumbangara, dan Masjid H. Muhammad Basir di Dusun Borongunti.

Sungguh, suasana tenang begini jarang lagi di dapat. Udara alami yang masuk lewat jendela, yang sengaja dibiarkan terbuka, menambah adem perasaan. Itu mungkin yang membuat tidur saya nyenyak semalaman.

Pesta adat aklammang tidak diketahui, sejak kapan mulai diadakan. Tradisi yang jadi perekat silaturahmi dan penguat solidaritas sosial ini, dilakukan masyarakat Desa Lantang secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Daeng Kenna sudah sibuk di dapur, begitupun dengan Daeng Ngerang, baru selesai dengan pembakaran lammangnya.

Lammang itu yang jadi salah satu menu sarapan pagi kami, di samping burasa, dan bolu pallu cekla.

Terhidang juga bajabu, yang mirip serundeng. Bajabu terbuat dari kelapa yang dikukur, lalu disangrai dan dicampur bumbu, berupa gula merah, bawang putih, serai, ketumbar, merica, dan asam jawa.

Kami kembali ngobrol sehabis sarapan bersama.

Pesta adat aklammang tidak diketahui, sejak kapan mulai diadakan. Tradisi yang jadi perekat silaturahmi dan penguat solidaritas sosial ini, dilakukan masyarakat Desa Lantang secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Menurut Daeng Kenna, neneknya bercerita bahwa tradisi ini sudah dilakukan sejak lama. Ditarik ke atas, cerita ini diturunkan dari nenek buyutnya, tanpa angka-angka tahun yang pasti. Mungkin sudah lebih ratusan tahun.

Sebagai masyarakat Desa Lantang, mereka tidak tahu sejarah tradisi aklammang. Hanya mitos yang beredar secara lisan dari percakapan warga.

Syahdan, terdapat buaya jelmaan leluhur, yang diakui sebagai patanna Lantang atau patanna pakrasangang (pemilik kampung). Buaya itu merupakan penjaga sungai yang diyakini membantu kesuburan lahan.

Mitos lain, terkait Raja Kare Lantang yang menyamar, ingin merasakan kehidupan rakyat jelata. Kisah itu, kemudian menjadi dasar perayaan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh sebagai bentuk empati dan kebersamaan antara raja dan rakyatnya.

Kare atau Kareng merupakan gelar bangsawan Makassar, di masa lampau, seringkali dianggap pendahulu istilah Karaeng. Kare memimpin wilayah lokal sebelum terbentuknya sistem pemerintahan Kerajaan Gowa-Tallo yang lebih terpusat.

“Menurut sejarahnya, dahulu kampung ini sering didatangi raja. Warga tidak mungkin kasi makanan hanya beralaskan daun pisang. Maka disuguhi makanan dengan aklammang,” begitu versi yang dituturkan Daeng Ngerang.

Untuk melihat lebih dekat seperti apa Sungai Lantang yang jadi lokasi ritual appassorong lammang, Jumat itu, pukul 09.00, saya dan istri ke sana. Kami mengendarai sepeda motor. Agar tidak nyasar, kami bertanya begitu bertemu pertigaan jalan.

Jauh juga rupanya. Mungkin sekira 3 km dari tempat nginap kami.

Tak ada penanda arah ke lokasi acara. Misalnya berupa umbul-umbul atau spanduk. Saya tak menggunakan Google maps, hanya feeling saja. Patokannya, belok kiri setelah jembatan.

Rahmatia Daeng Ngai

Kami melewati jalanan rusak, berbatu dan becek.

Istri saya diboncengan sempat bertanya, “Cocok ji ini?” Saya mengiyakan, dan terus menjalankan kendaraan hati-hati. Dari jauh sudah tampak tenda-tenda berwarna biru milik pedagang.

Setelah tiba, saya memarkir sepeda motor di dekat panggung acara yang beralaskan karpet merah. Kursi-kursi diatur rapi menghadap panggung.

Musik berdentam dari pengeras suara yang dipasang di depan panggung. Lagu dangdut yang disetel terasa memekakkan telinga.

Sebuah spanduk vinyl besar terpampang, sebagai backdrop acara. Tertulis “Pesta Rakyat Adat Lammang 2026”. Penyelenggaranya adalah Karang Taruna Jeknetallasa Desa Lantang dan Karang Taruna Cokoloe Desa Kale Lantang.

Lokasi ini merupakan area permandian dengan spot air terjun yang menarik.

Pada sisi kami berada, terdapat beton tinggi sebagai pembatas ke sungai. Namun dibuatkan anak tangga untuk menuju ke sungai.

Pemandangan yang sama juga saya lihat di rumah-rumah warga lainnya. Keramaian tampak dari mobil-mobil dan sepeda motor yang berjejer di halaman atau terparkir di pinggir jalan.

Pepohonan rimbun menaungi mereka yang berada di bawahnya. Tampak sejumlah warga mandi menikmati sejuknya air dan indahnya alam.

Sementara di seberang, tidak ada pembatas beton dengan sungai. Alamnya terbuka luas. Di sanalah nanti posisi pinati saat memimpin ritual appassorong.

Di dekat permandian air terjun, yang jadi lokasi acara, terdapat saukang, yakni tempat yang dikeramatkan. Saukang ini merupakan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan.

Ternyata, warga tak hanya datang untuk mandi, sekadar berekreasi. Karena air Sungai Lantang juga dianggap dapat memberi berkah. Tidak mengherankan bila banyak yang datang hanya untuk mencuci muka, mengharapkan keberkahan.

Daeng Ngai, 40 tahun, malah mengambil air sungai yang ditaruh di dalam bekas botol air kemasan untuk dibawa pulang.

“Kalau ada yang sakit-sakitan, bisa dikasi air ini,” katanya sambil beranjak pergi, tanpa memberi tahu, apakah airnya diminum, atau diapakan.

Saya kemudian mengalihkan perhatian kepada para pedagang. Saya menghampiri Rahmatia Daeng Ngai, warga Palleko, pemililk Warung Jajanan Rahmah.

Wanita berusia 45 tahun, yang biasanya berjualan di Pasar Palleko itu, mengaku bisa meraup pendapatan lebih 1 juta bila ada pesta adat aklammang.

Pedagang lainnya, Daeng Baji, asal Bila Cakdi, sudah lebih belasan tahun berjualan di lokasi acara adat aklammang ini. Pengakuan yang sama juga datang dari Daeng Ngotta, yang menjual telur asin.

Ketika ditanya, dimakan dengan apa telur asin yang dijual? Dia menjawab enteng, “Makan dengan lammang, kalau ada mi lammang na sebentar.”

Beraneka jualan ditawarkan pedagang di sekitar area acara, yang di belakangnya terbentang persawahan.

Bakso, batagor, gorengan, minuman kemasan, balon, dan mainan anak-anak semua tersedia. Odong-odong tak mau ketinggalan, datang meramaikan acara.

Kami memilih pulang sebelum acara dimulai, khawatir nanti terjebak di tengah keramaian. Apalagi waktunya sudah menjelang jumatan.

Padahal, tadinya saya ingin melihat langsung rangkaian prosesi adat aklammang di Sungai Lantang ini, sebagaimana diceritakan Muhammad Ilham Syamsuddin, adik Nanda, semalam.

Ilham merupakan mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar. Ia anggota Karang Taruna Desa Lantang.

Ilham menggambarkan prosesi adat aklammang. Sebelum appassorong lammang oleh pinati, didahului angngaru Lantang, lalu suguhan Tari Salonreng, yang penarinya berbaju hijau. Tarian ini diiringi gendang (ganrang).

Saat itulah pinati annyorong lammang pelan-pelan penuh khidmat, yang ditaruh di atas rakit berbentuk rumah-rumahan. Di atas rakit itu, selain lammang, ada pula songkolo, telur, ayam bakar, daun sirih, buah pinang, kapur sirih, dan lilin merah.

Ketika kami sudah kembali, tamu-tamu mulai berdatangan ke rumah Daeng Kenna dan Daeng Ngerang.

Di antara tetamu itu adalah Hj Andi Tenri Citra Sari Daeng Karaeng dan suaminya, H Haeruddin Mallingkai Daeng Sekre, dari Gowa, dan Andi Maryam Marzuki Karaeng Bainea, dari Polongbangkeng, Takalar.

Tamu-tamu terus berdatangan setelah sholat Jumat. Selain keluarga dan tetangga desa, juga rekan-rekan guru Daeng Kenna dari Paud Nur Ichsan, Kepala SMA Negeri 8 Takalar, yang merupakan pimpinan Daeng Ngerang, dan beberapa guru juga hadir.

Pemandangan yang sama juga saya lihat di rumah-rumah warga lainnya. Keramaian tampak dari mobil-mobil dan sepeda motor yang berjejer di halaman atau terparkir di pinggir jalan.

Ada yang malah memasang tenda, layaknya pesta, sambil berkaraoke lagu-lagu daerah Makassar.

Perayaan pesta adat aklammang tahun ini, dihadiri Bupati Takalar, Ir HM Firdaus Daeng Manye. Iring-iringan kendaraan dinas bupati terlihat melewati depan rumah Daeng Kenna, pagi tadi.

Di tahun-tahun sebelumnya, acara pesta rakyat ini pernah dihadiri Syahrul Yasin Limpo, semasa menjadi Menteri Pertanian, dan pernah pula dihadiri Andi Sudirman Sulaiman, Gubernur Sulawesi Selatan, di tahun 2023. (*)