Tambak yang terintegrasi dengan mangrove terbukti memiliki produktivitas lebih tinggi, baik dari segi pertumbuhan, kelangsungan hidup, maupun kualitas hasil. Bahkan, senyawa alami dari daun mangrove dapat membantu menekan pertumbuhan bakteri patogen, sehingga meningkatkan kualitas produk.
Prof. Dr. Ir. Muhammad Yusri Karim, M.Si, Guru Besar Fisiologi Hewan Air, FIKP Unhas
PELAKITA.ID – Transformasi sektor budidaya udang di Sulawesi Selatan kini berada pada titik krusial. Di satu sisi, tuntutan peningkatan produksi terus menguat.
Di sisi lain, tekanan terhadap lingkungan pesisir semakin nyata. Dalam konteks inilah Guru Fisiologi Hewan Air Besar FIKP Unhas, Muhammad Yusri Karim, menawarkan pendekatan smart aquaculture sebagai solusi strategis—menggabungkan kecanggihan teknologi dengan prinsip keberlanjutan berbasis ekosistem.
Tambak di Titik Kritis: Antara Produksi dan Daya Dukung Lingkungan
Menurut Yusri, kondisi tambak di Sulawesi Selatan menunjukkan gejala penurunan fungsi.
Banyak tambak menjadi tidak produktif bahkan terbengkalai, sebagai dampak dari praktik masa lalu yang mengabaikan keseimbangan lingkungan—termasuk konversi mangrove dan eksploitasi berlebihan.
“Budidaya tidak bisa lagi hanya mengejar kuantitas tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan,” tegasnya.
Paradigma lama yang menitikberatkan pada produksi tinggi harus digantikan dengan pendekatan baru: ecosystem-based aquaculture, di mana kegiatan budidaya menjadi bagian integral dari kesehatan ekosistem pesisir.

Smart Aquaculture: Lebih dari Sekadar Modernisasi
Dalam kerangka tersebut, konsep smart aquaculture hadir bukan sekadar tren digitalisasi, tetapi instrumen untuk memastikan prinsip keberlanjutan dapat diterapkan secara terukur.
Smart aquaculture mengintegrasikan berbagai teknologi, seperti:
- Internet of Things (IoT) untuk pemantauan real-time
- Artificial Intelligence (AI) untuk analisis data dan prediksi
- Sensor cerdas untuk mengukur kualitas air (pH, suhu, oksigen, salinitas)
- Sistem otomatisasi seperti automatic feeder
Dengan teknologi ini, petambak dapat memantau kondisi tambak hanya melalui perangkat ponsel, tanpa harus selalu berada di lokasi. Data yang dihasilkan lebih akurat, respons terhadap perubahan lingkungan lebih cepat, dan risiko kegagalan dapat ditekan.
Efisiensi Produksi dan Pengendalian Lingkungan
Penerapan teknologi cerdas memberikan dampak langsung terhadap efisiensi budidaya:
- Pakan lebih terkontrol, sehingga mengurangi limbah nitrogen dan fosfor
- Biaya operasional menurun, karena penggunaan input lebih tepat
- Deteksi dini penyakit, melalui kamera bawah air dan analisis data
- Prediksi panen lebih akurat, berbasis data historis dan kondisi aktual
Dalam konteks ini, teknologi tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperbaiki kualitas lingkungan tambak.
Integrasi dengan Ekosistem: Smart Silvofishery
Salah satu bentuk konkret dari pendekatan ini adalah integrasi smart aquaculture dengan sistem silvofishery—model budidaya yang menggabungkan mangrove dan perikanan.
Mangrove memiliki fungsi penting sebagai:
- Biofilter alami yang menyerap polutan
- Pelindung ekosistem pesisir
- Sumber nutrien alami, melalui serasah daun
Yusri menegaskan bahwa tambak yang terintegrasi dengan mangrove terbukti memiliki produktivitas lebih tinggi, baik dari segi pertumbuhan, kelangsungan hidup, maupun kualitas hasil.
Bahkan, senyawa alami dari daun mangrove dapat membantu menekan pertumbuhan bakteri patogen, sehingga meningkatkan kualitas produk.
Dengan dukungan teknologi seperti aerasi modern dan sistem monitoring, model ini dapat meningkatkan padat tebar tanpa merusak ekosistem.
Peluang Besar Sulawesi Selatan
Sebagai salah satu sentra tambak nasional, Sulawesi Selatan memiliki modal kuat untuk memimpin transformasi ini:
- Luas tambak yang signifikan
- Sebaran wilayah pesisir yang strategis
- Ketersediaan ekosistem mangrove
- Dukungan akademisi dan lembaga riset
Potensi ini membuka peluang untuk membangun smart eco-shrimp farms yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan dan berdaya saing global.
Selain itu, penerapan teknologi digital memungkinkan traceability (ketertelusuran) produk—faktor penting untuk menembus pasar internasional yang semakin ketat terhadap standar lingkungan.
Menurut Prof Muhammad Yusri Karim, pendekatan Smart Aquaculture, adalah jalan tengah penerapan teknologi dan pentingnya tata kelola ekologi untuk tambak udang di Sulsel.
Tantangan Implementasi: Infrastruktur hingga SDM
Meski menjanjikan, penerapan smart aquaculture tidak tanpa hambatan:
- Keterbatasan infrastruktur, terutama listrik dan jaringan internet di wilayah pesisir
- Kapasitas SDM, terkait literasi digital petambak
- Ketahanan perangkat, karena kondisi tambak yang ekstrem
- Biaya investasi awal, yang relatif tinggi
Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan terpadu melalui:
- Penguatan infrastruktur pesisir
- Program pendampingan berkelanjutan
- Inovasi teknologi yang adaptif terhadap kondisi lokal
Kunci Sukses: Kolaborasi dan Kebijakan
Transformasi menuju smart aquaculture tidak bisa dilakukan secara parsial. Yusri menekankan pentingnya sinergi multipihak:
- Pemerintah, melalui regulasi yang mendukung dan melindungi ekosistem
- Akademisi dan peneliti, sebagai pengembang inovasi
- Industri dan petambak, sebagai pelaku utama di lapangan
Selain itu, sinkronisasi antara teknologi modern dan kearifan lokal menjadi fondasi penting agar transformasi ini tidak hanya efektif, tetapi juga inklusif.
Teknologi dan Alam, Bukan Pilihan yang Berlawanan
Paparan ini menegaskan bahwa masa depan budidaya udang tidak terletak pada dikotomi antara produktivitas dan keberlanjutan. Smart aquaculture justru menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan.
Dengan pendekatan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Bagi Sulawesi Selatan, peluang untuk menjadi pelopor transformasi ini terbuka lebar—selama ada keberanian untuk berubah dan kemauan untuk berkolaborasi.
___
Editor Denun















