Ia juga mengkritik pemahaman agama yang, menurutnya, justru menindas dan membodohi masyarakat (yang ia sebut sebagai “istihmar” atau penyesatan kesadaran).
PELAKITA.ID – Pada tahun 1960-an dan 1970-an, ia adalah seorang pemikir revolusioner, dan banyak orang Iran melihatnya sebagai salah satu pengaruh besar terhadap Revolusi Islam 1979.
Ia lahir pada tahun 1933 dalam keluarga terpelajar di wilayah timur Iran. Banyak yang mengatakan bahwa Syariati mendapatkan banyak pengaruh dari ayahnya, meskipun ia juga memiliki bakat dan kecerdasan pribadi yang luar biasa.
Pemikirannya berfokus pada bagaimana masyarakat memahami agama secara murni dari sumber aslinya, berpikir secara kritis, dan memilih dengan kesadaran—bukan sekadar mengikuti secara taklid (meniru tanpa berpikir).
Pada masa itu, suasana politik dan budaya Iran sangat dipengaruhi oleh persaingan antara ideologi Marxisme dan pemikiran Barat (Amerika dan Inggris).
Syariati memulai kariernya sebagai guru, dan pada tahun 1953 bergabung dengan Front Nasional yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Mossadegh, yang menasionalisasi industri minyak Iran.
Hal ini mengganggu kepentingan Barat, sehingga pada Agustus 1953, Amerika Serikat dan Inggris mengorganisasi kudeta yang menggulingkan pemerintah tersebut dan mengembalikan kekuasaan kepada monarki Iran.
Syariati kemudian bergabung dengan gerakan perlawanan nasional. Gerakan ini ditindas secara keras pada tahun 1958, dan ia dipenjara selama beberapa bulan.
Sejak saat itu, ia tidak pernah menganggap rezim tersebut sah.
Ia bukanlah tokoh partai dalam arti klasik, melainkan lebih sebagai tokoh intelektual dan budaya yang memiliki komitmen politik. Kritiknya terhadap sistem politik bukan sekadar politik praktis, tetapi lebih kepada kritik terhadap sistem yang merendahkan manusia, membatasi kebebasan, dan melanggar martabat manusia.
Tujuannya adalah keadilan, dan ia melihat kebebasan sebagai cita-cita utama masyarakat yang sehat.
Pada tahun 1960, ia pindah ke Paris untuk melanjutkan studi. Di sana ia berinteraksi dengan berbagai gerakan politik dan pemikiran filsafat modern.
Dua peristiwa besar saat itu adalah Perang Kemerdekaan Aljazair dan berkembangnya filsafat eksistensialisme. Ia dipengaruhi oleh tokoh-tokoh seperti Jean-Paul Sartre, Albert Camus, serta pemikir dari Mazhab Frankfurt, dan juga Louis Massignon dalam bidang studi Islam.
Selama di luar negeri, ia aktif dalam gerakan mahasiswa Iran dan mendukung perjuangan anti-kolonial. Ia melihat bahwa banyak masalah dunia, termasuk di Iran, berasal dari imperialisme Barat. Namun, ia juga menghargai pemikiran Barat sebagai produk intelektual manusia, meskipun mengkritik sisi kolonial dan dominatifnya.
Sekembalinya ke Iran, aktivitasnya diawasi ketat oleh rezim Shah. Ia dilarang mengajar di Universitas Mashhad dan bahkan pernah dipindahkan ke daerah terpencil. Namun, ia tetap menyebarkan pemikirannya, bahkan kepada masyarakat desa, dengan tujuan meningkatkan kesadaran mereka.
Pada tahun 1967, ia mulai aktif di Husainiyah Ershad di Teheran, sebuah pusat intelektual dan keagamaan. Di sana, ceramah-ceramahnya menarik banyak anak muda dari berbagai daerah. Rekaman ceramahnya disebarkan secara luas, dan tulisannya menjadi populer.
Syariati dikenal karena gaya bicaranya yang sederhana namun kuat, sehingga dapat dipahami oleh masyarakat luas, bahkan yang tidak berpendidikan tinggi. Tujuannya bukan hanya membangun teori, tetapi membangkitkan kesadaran dan kehendak masyarakat.

Ia ingin menjadi reformis agama—mengubah hubungan masyarakat dengan Islam dari sekadar emosional dan tradisional menjadi hubungan yang revolusioner dan sadar.
Ia juga mengkritik pemahaman agama yang, menurutnya, justru menindas dan membodohi masyarakat (yang ia sebut sebagai “istihmar” atau penyesatan kesadaran).
Ia menekankan bahwa umat Islam harus bersatu dan menghindari perpecahan sektarian antara Sunni dan Syiah. Baginya, Islam adalah kekuatan untuk pembebasan manusia, baik secara spiritual maupun sosial.
Namun, pemikirannya juga menuai kritik. Sebagian ulama menilai ia tidak memiliki keahlian mendalam dalam ilmu agama tradisional, sehingga dianggap melakukan kesalahan dalam penafsiran.
Pada tahun 1970-an, tekanan terhadapnya semakin meningkat. Husainiyah Ershad ditutup, ia dilarang berbicara dan menulis, serta dipenjara selama 18 bulan. Setelah dibebaskan pada 1975, ia berada di bawah tahanan rumah.
Kemudian ia pergi ke pengasingan di Inggris. Namun, hanya beberapa minggu kemudian, ia ditemukan meninggal dunia secara misterius pada usia 43 tahun. Banyak yang meragukan bahwa kematiannya adalah alami.
Jenazahnya dimakamkan di Damaskus, Suriah, dan pemakamannya dihadiri oleh tokoh-tokoh perlawanan Palestina.
Meskipun wafat muda, pemikirannya memiliki dampak besar. Ia berusaha menggabungkan pemikiran Islam dengan ideologi revolusioner, anti-kolonialisme, keadilan sosial, dan pembebasan politik. Banyak yang menganggapnya sebagai arsitek intelektual bagi aktivisme politik Islam di Iran.
Setelah kematiannya, ide-idenya semakin menyebar dan menjadi salah satu faktor yang mempersiapkan landasan bagi Revolusi Islam 1979. Banyak intelektual dan aktivis yang terpengaruh oleh gagasannya, baik sebelum maupun sesudah revolusi.
Warisan pemikirannya tidak hanya terbatas di Iran, tetapi juga memengaruhi dunia Islam dan dunia pascakolonial secara lebih luas. Hingga hari ini, karya-karyanya masih dianggap relevan dan menginspirasi upaya perubahan sosial dan intelektual.









