Pasca HUT ke-66 Takalar, Daeng Manye Bertemu Pegiat LSM, Sambut Baik Hasil Seminar Sejarah Galesong

  • Whatsapp
Penyerahan Hasil Seminar Menelusuri Jejak Sejarah Galesong dari Kamaruddin Azis ke Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye disaksikan pegiat LSM dan wakil rektor Universitas Syech Yusuf Al Makassari Syamsu Salewangang Daeng Gajang (dok: Pelakita.ID)

Galesong memiliki posisi strategis bagi Takalar, baik secara historis maupun maritim. Karena itu, seminar dirancang sebagai titik temu berbagai kepentingan—pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, komunitas, dan generasi muda—agar pembangunan tidak tercerabut dari akar sejarah dan identitas lokal.

PELAKITA.ID – Pasca peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Kabupaten Takalar, Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menerima audiensi dua putra daerah yang berlatar belakang aktivisme LSM dan media.

Keduanya adalah Kamaruddin Azis Nuntung, Founder Pelakita.ID sekaligus aktivis LSM maritim, serta Syamsu Salewangang Daeng Gajang, tokoh LSM yang berpengalaman di Plan International dan saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassar, Gowa.

Dalam pertemuan tersebut, Kamaruddin Azis menyampaikan hasil Seminar Menelusuri Jejak Sejarah Galesong yang digelar pada 7 Februari 2026. Ia memaparkan latar belakang penyelenggaraan seminar yang berangkat dari kegamangan di tingkat masyarakat, mulai dari protes terkait infrastruktur jalan hingga keresahan mengenai perhatian dan alokasi sumber daya pembangunan di kawasan Galesong.

Suasna pelaksanaan Seminar Tradisi dan Kebudayaan Menelsusuri Jejak Sejarah Galesong di Balla Barakkaka ri Galesong, 7 Februari 2026 (dok: Pelakita.ID)

“Yang dibutuhkan adalah ruang komunikasi untuk menjelaskan konteks secara utuh, agar masyarakat tidak bereaksi tanpa pemahaman yang memadai tentang isu-isu pembangunan kawasan di Takalar, termasuk nilai strategis historis kawasan Galesong,” ujar Kamaruddin, inisiator seminar tersebut.

Menurutnya, Galesong memiliki posisi strategis bagi Takalar, baik secara historis maupun maritim. Karena itu, seminar dirancang sebagai titik temu berbagai kepentingan—pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, komunitas, dan generasi muda—agar pembangunan tidak tercerabut dari akar sejarah dan identitas lokal.

Ia juga menegaskan bahwa kepentingan strategis pemerintah daerah di Galesong seharusnya dipandang sebagai peluang pembangunan, bukan sebagai sesuatu yang perlu dicurigai.

“Galesong adalah ‘sumber PR’-nya Takalar: kawasan dengan potensi besar, tetapi juga kompleksitas tinggi. Di sinilah bertemu isu pertanian, perikanan, real estate, maritim, hingga identitas budaya. Karena itu, seminar ini diarahkan untuk memancing diskursus strategis—tanpa kebablasan, tanpa provokasi, namun tetap kritis,” kata alumni Kelautan Universitas Hasanuddin tersebut.

Ilustrasi kegiatan oleh Pelakita.ID

Penyerahan Hasil Seminar

Pada kesempatan itu, Kamaruddin Azis secara simbolis menyerahkan dokumen hasil Seminar Menelusuri Jejak Sejarah Galesong kepada Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye.

Adapun sejumlah poin penting hasil seminar tersebut meliputi: pertama, penegasan posisi Galesong sebagai simpul strategis sejarah maritim Nusantara, bukan wilayah pinggiran.

Kedua, penguatan narasi sejarah lokal Galesong berbasis riset arsip, manuskrip, dan tradisi lisan yang diverifikasi secara akademik.

Ketiga, pengakuan atas kelayakan Karaeng Galesong untuk diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, dengan kebutuhan kerja lanjutan yang terstruktur dan berbasis data.

Keempat, pentingnya literasi sejarah dan budaya bagi generasi muda melalui ruang belajar terbuka seperti Balla Barakkaka ri Galesong.

Kelima, perlunya kolaborasi berkelanjutan antara komunitas, akademisi, pemerintah daerah, dan media dalam riset, dokumentasi, serta publikasi sejarah Galesong.

Keenam, penguatan kesadaran akan pentingnya dokumentasi digital agar Galesong hadir dalam lanskap pengetahuan nasional dan global.

Respons Bupati Takalar

Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye merespons positif pelaksanaan seminar tersebut. Ia berharap diskusi tentang Galesong dapat berkembang ke arah yang lebih operasional.

“Kami melihat perlunya merevitalisasi ruang-ruang budaya seperti Balla Lompoa serta memperkuat kegiatan seni, pertunjukan, bahasa daerah, dan literasi lontara. Ini bukan nostalgia, tetapi investasi sosial-budaya yang memberi manfaat nyata bagi generasi muda dan komunitas lokal,” ujar Daeng Manye.

Sejalan dengan itu, ia menekankan urgensi literasi digital dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan hari ini tidak mungkin dilepaskan dari digitalisasi, mulai dari UMKM, layanan publik, hingga dokumentasi sejarah.

Pemkab Takalar, lanjutnya, menargetkan setiap kecamatan memiliki minimal 100 titik usaha yang terdaftar di Google—mulai dari rumah makan, penginapan, bengkel, hingga layanan jasa—agar Takalar, termasuk Galesong, mudah diakses secara digital. Upaya tersebut disertai pembenahan kualitas layanan, kebersihan, dan manajemen usaha.

“Desa dan kecamatan perlu memiliki website aktif yang dikelola konten kreator lokal untuk mendokumentasikan potensi, kegiatan, dan sejarah secara berkelanjutan. Digitalisasi arsip keluarga, foto lama, dan cerita lisan juga penting agar sejarah tidak hilang bersama waktu,” jelasnya.

Foto bersama dengan Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye di Kantor Bupati Takalar (dok: Pelakita.ID)

Digitalisasi Kelautan dan Arah Pembangunan

Dalam audiensi tersebut, Daeng Manye juga menyoroti persoalan kelautan dan perikanan, terutama terkait sistem perizinan yang selama ini dinilai rumit dan berlapis.

Ia mendorong digitalisasi layanan perizinan melalui konsep mal digital agar nelayan dan pelaku usaha tidak terjebak birokrasi berlarut-larut.

Dengan sistem digital, pemerintah daerah dapat memantau proses perizinan secara real time dan segera berkoordinasi jika terjadi hambatan, termasuk dengan pemerintah provinsi.

Selain itu, isu pengelolaan PPI, koperasi, serta potensi kebocoran pendapatan daerah turut menjadi perhatian. Bupati menegaskan pentingnya transparansi, pengelolaan profesional, dan penguatan peran pemerintah daerah agar sumber daya maritim benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Pertemuan tersebut juga menegaskan pandangan bahwa Takalar—dan Galesong khususnya—perlu memposisikan diri sebagai lokomotif industri maritim.

Menurut Daeng Manye, tidak ada daerah yang dapat maju tanpa kehadiran industri.

Ia menambahkan, seluruh upaya digitalisasi di berbagai sektor—pelayanan publik, UMKM, pendidikan, dan perikanan—akan dikonsolidasikan dalam bentuk mal digital, di mana berbagai layanan tersedia tanpa harus terpusat pada satu gedung fisik seperti mall pelayanan satu atap di daerah lain.

Bupati Takalar juga menegaskan komitmennya dalam pembangunan kebudayaan dan nilai-nilai sejarah melalui sinergi dengan lembaga adat di empat eks wilayah karaengang, yakni Polong Bangkeng, Galesong, Sanrobone, dan Laikang.

Daeng Manye menekankan, Pemerintah Takalar terus mengupayakan pengajuan I Maninrori Kare Tojeng Karaeng Galesong sebagai Pahlawan Nasional dan barharap ada pertemuan lanjutan untuk pemantapan pengusulannya.

Selain itu, untuk mendukung kegiatan seni budaya, Pemkab Takalar telah menyediakan fasilitas pentas, baik indoor di Kantor Bupati Takalar maupun outdoor di kawasan alun-alun, yang dapat diakses oleh para pelaku seni secara mudah.

Bupati pun merespon positif inisiatif untuk kerjasama antara Pemda dan universitas seperti Universitas Syekh Yusuf sebagaimana ditawarkan oleh Wakil Rektor USY, Syamsu Salewangang Daeng Gajang untuk kerjasama peningkatan kapasitas.

Ke depan, kolaborasi sangat mutlak untuk Takalar termasuk penyiapan sumber daya manusia aparatur dan masyarakatnya.

“Takalar akan lebih cepat berkembang jika memiliki kawasan industri sebagai lokomotif pertumbuhan. Investasi di kawasan industri sangat menguntungkan karena investor memperoleh jaminan kebutuhan dasar seperti air, listrik, dan pengolahan limbah,”jelasnya.

“Apalagi kawasan industri yang direncanakan di Takalar berbasis maritim dan pesisir, sangat sesuai dengan potensi sumber daya alam kelautan yang kita miliki,” pungkas Daeng Manye.