Potret Zona Integritas di Universitas Hasanuddin, Inspirasi dari FKM Unhas

  • Whatsapp

Beberapa waktu lalu, pimpinan Universitas Hasanuddin yaitu Rektor Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc, menggelar pertemuan untuk mendorong seluruh fakultas dan unit layanan mewujudkan kampus yang bersih dari korupsi, sejalan dengan agenda nasional Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).

Dari enam area perubahan yang menjadi indikator penilaian, hanya tiga dari sembilan fakultas yang berhasil lolos dan mewakili universitas untuk dinilai di Kementerian PAN-RB.

PELAKITA.ID – Founder Pelakita.ID Kamaruddin Azis, melakukan observasi ke Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) untuk mendalami bagaimana Fakultas di Universitas Hasanuddin itu menjadi bagian integral dalam mewujudkan Zona Integritas perguruan tinggi.

FKM disebut satu fakultas di Unhas yang dapat penghargaan terkait praktik penerapan Zona Integritas.

Tak hanya melakukan observasi, dilakukan pula bincang-bincang dengan Dekan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, S.K.M, Ph.D terkait strategis dan ruang lingkup penerapan Zona Integratis.

“Apa yang membuat FKM begitu istimewa hingga masuk dalam jajaran fakultas dengan kualitas tata kelola terbaik di Universitas Hasanuddin?” demikian pertanyaan Pelakita dan dijawab dengan lugas oleh Prof Sukri.

Zona Integritas dan Komitmen Bersama

Jawabannya bermula dari komitmen membangun zona integritas di lingkungan kampus.

Menurut Prof Sukri, beberapa waktu lalu, pimpinan Universitas Hasanuddin yaitu Rektor Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc, menggelar pertemuan untuk mendorong seluruh fakultas dan unit layanan mewujudkan kampus yang bersih dari korupsi, sejalan dengan agenda nasional Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).

Dari enam area perubahan yang menjadi indikator penilaian, hanya tiga dari sembilan fakultas yang berhasil lolos dan mewakili universitas untuk dinilai di Kementerian PAN-RB.

“Ketiga fakultas tersebut adalah FKM Unhas, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Kehutanan. Tahun ini, komitmen rektorat diperluas: bukan hanya tiga fakultas, tetapi seluruh unit di Unhas diharapkan bergerak menuju standar yang sama,” ungkap Sukri.

Berikut ini adalah penjelasan Prof Sukri Palutturi terkait enam area perubahan yang dijalankan FKM Unhas

Enam Area Perubahan yang Dijalankan FKM Unhas

FKM Unhas menjadikan enam area perubahan sebagai fondasi utama dalam membangun budaya integritas.

Pertama, manajemen perubahan. Area ini menekankan komitmen pimpinan dan seluruh sivitas akademika untuk memberikan layanan terbaik.

Salah satu pendekatan yang dikedepankan adalah digitalisasi layanan guna mengurangi kontak langsung yang berpotensi membuka ruang penyimpangan.

Di tingkat praktis, FKM menghadirkan resepsionis di lantai satu serta Unit Layanan Fakultas sebagai ruang transit tamu. Bahkan detail kecil seperti penyediaan kopi menjadi bagian dari upaya menciptakan suasana layanan yang ramah dan tertata.

Kedua, penataan tata laksana. Fokusnya adalah efektivitas dan efisiensi proses layanan. Seluruh alur pelayanan ditata ulang, termasuk layanan yang responsif terhadap kelompok disabilitas.

FKM Unhas menjadi salah satu fakultas yang secara serius membangun akses khusus bagi penyandang disabilitas—mulai dari jalur khusus, kemiringan jalan, hingga detail teknis lainnya—dengan konsultasi langsung bersama unit disabilitas universitas.

Tak heran jika FKM dikenal memiliki jumlah relawan pendamping mahasiswa disabilitas yang relatif tinggi.

Ketiga, sistem manajemen sumber daya manusia. Di FKM, pengembangan SDM tidak berhenti pada dosen, tetapi mencakup seluruh unsur.

Untuk dosen bergelar S2, dibentuk grup khusus yang dipantau langsung oleh dekan guna mendorong studi lanjut S3. Informasi beasiswa, ruang komunikasi, hingga coaching pengembangan diri difasilitasi secara aktif.

Penguatan kapasitas bahasa Inggris pun menjadi perhatian, sejalan dengan dorongan rektorat untuk meningkatkan kualitas akademik secara menyeluruh.

Pendekatan serupa diterapkan pada tenaga kependidikan dan petugas layanan.

Bahkan, seluruh petugas kebersihan pernah mengikuti pelatihan pelayanan prima di Malino. Mereka dilatih cara menyapa, memberikan informasi, dan mengarahkan tamu dengan etika layanan yang baik.

Bagi FKM, siapa pun yang berada di kampus adalah representasi wajah institusi.

Keempat, pengawasan. Sistem pengawasan dilakukan secara ketat, termasuk melalui pemantauan CCTV 24 jam.

Salah satu contoh konkret adalah penerapan kawasan tanpa rokok. Puntung atau bungkus rokok menjadi indikator awal, yang kemudian ditelusuri melalui rekaman CCTV.

Pelanggaran ditindak secara bertahap—mulai dari pemanggilan hingga surat pernyataan—bukan untuk menghukum semata, tetapi membangun kepatuhan sebagai budaya bersama.

Pengawasan juga menyentuh layanan administrasi; keluhan yang berlarut-larut dapat berujung pada pembinaan hingga mutasi internal.

Kelima, penguatan akuntabilitas. Setiap unsur—pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga petugas layanan—diposisikan sebagai penerima amanah. Akuntabilitas bukan sekadar laporan, tetapi kesadaran menjalankan tugas sesuai fungsi dan tanggung jawab yang diberikan.

Keenam, peningkatan kualitas pelayanan publik. FKM Unhas memandang layanan bukan hanya untuk mahasiswa dan dosen, tetapi juga untuk tamu dan pemangku kepentingan lainnya. Interaksi yang beradab, ramah, dan profesional menjadi standar yang terus diperbaiki.

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Dalam konteks kebijakan internal kampus, FKM Unhas menurut Prof Sukri Palutturi juga menerapkan pengaturan aktivitas mahasiswa, termasuk waktu kegiatan.

“Bukan untuk membatasi ruang ekspresi, tetapi memastikan seluruh aktivitas tetap terkontrol dan risiko dapat dimitigasi. Sebagai fakultas yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat, prinsip pencegahan menjadi filosofi utama: mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” kata Prof Sukri.

Harapan untuk Seluruh Universitas

Apa yang dilakukan FKM Unhas menjadi gambaran bahwa integritas dapat dibangun melalui sistem, budaya, dan keteladanan.

Harapannya, praktik baik ini tidak berhenti pada tiga fakultas percontohan, tetapi menyebar ke seluruh fakultas dan unit di Universitas Hasanuddin.

Silaturahmi pagi itu pun berakhir dengan satu kesan kuat: integritas bukan jargon, melainkan kerja sehari-hari yang dibangun dari hal-hal kecil, konsisten, dan berkelanjutan.

Dari FKM Unhas, kita belajar bahwa kampus bersih dan beradab bukanlah utopia—ia bisa diwujudkan, jika ada kemauan dan komitmen bersama.


Redaksi Pelakita.ID