Refleksi dan Sintesa dari Percakapan dengan Rektor Unhas
Unhas, perlahan tetapi pasti, mulai membangun model pengelolaan aset yang profesional. Pembangunan dan pengelolaan hotel pendidikan, kehadiran bank, serta optimalisasi aset lainnya menjadi contoh bahwa universitas mampu belajar dari praktik manajemen modern tanpa kehilangan jati diri akademiknya. – Prof Jamaluddin Jompa, Rektor Unhas
Tamalanrea, 9 Februari 2026
PELAKITA.ID – Pertemuan dengan durasi waktu 40 menit dengan Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Jamaluddin Jompa terasa istimewa – ini kali pertama bisa mengobrol lama dengannya apalagi dia baru saja terpilih sebagai Rektor di periode keduanya.
Pertemuan penulis yang merupakan mantan mahasiswanya di Ilmu dan Teknologi Kelautan Unha seperti membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang makna kepemimpinan diri penulis, organisasi kampus dan bagi sesiapapun di tengah perubahan zaman.
Dia bercerita bukan hanya tentang empat tahun perjalanan memimpin Unhas, tetapi juga tentang proyeksi empat tahun ke depan—tentang bagaimana universitas besar ini harus beradaptasi, bertransformasi, dan tetap relevan di tengah dinamika global pendidikan tinggi.
Salah satu hal yang paling kuat terasa dari percakapan tersebut adalah pemahaman Prof. Jamaluddin Jompa tentang hakikat kepemimpinan. Kepemimpinan, menurut beliau, bukan soal popularitas atau keluwesan tanpa batas, melainkan ketegasan yang berpijak pada aturan, disertai komunikasi yang intens, saling menghargai, dan setara.
Dalam konteks kampus besar seperti Unhas, kepemimpinan tidak bisa dijalankan secara sepihak, tetapi juga tidak boleh kehilangan arah normatif.
“Pemimpin kampus harus tegas pada aturan, tetapi manusiawi dalam cara. Tegas bukan berarti kaku, dan terbuka bukan berarti tanpa prinsip.” Itu yang penulis ingat.
Bagi Rektor JJ, menjadi rektor di universitas dengan ribu mahasiswa, ratusan program studi, dan jejaring nasional–internasional tentu menghadirkan tantangan kompleks. Terlebih sejak Unhas berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), di mana otonomi hadir beriringan dengan tuntutan kemandirian.
Dalam konteks ini, Prof. Jamaluddin Jompa menekankan bahwa universitas tidak lagi bisa bergantung sepenuhnya pada pola pembiayaan konvensional. Unit-unit usaha yang ada – yang dikomentari penulis – kata JJ mestinya memang menjadi arena perwujudan kontribusi untuk yang mencintai Unhas. Ini area yang telah melibatkan banyak alumni Unhas.
Prof JJ menyebutkan beberapa unit usaha yang disebutnya semaksimum mungkin mengakomodit alumni kompeten.
”Unhas, perlahan tetapi pasti, mulai membangun model pengelolaan aset yang profesional. Pembangunan dan pengelolaan hotel pendidikan, kehadiran bank, serta optimalisasi aset lainnya menjadi contoh bahwa universitas mampu belajar dari praktik manajemen modern tanpa kehilangan jati diri akademiknya,” sebut Guru Besar Ilmu Kelautan FIKP Unhas ini.
Prof JJ menegaskan bahwa inisiatif ini bukan tujuan akhir. Tantangan sesungguhnya justru berada di tingkat fakultas dan unit kerja: bagaimana mengkreasi peluang dari sumber daya yang tersedia.
Fakultas didorong tidak lagi semata menjadi “unit pengajar”, tetapi juga aktor inovasi, penggerak riset kolaboratif, dan mitra strategis dalam kerja sama akademik maupun non-akademik.
Pendekatan berbasis bukti yang sering ditandaskan Rektor JJ adalah kapasitas stakeholder Unhas dalam pembacaan pada realitas dan menganalisis isu dengan tepat demi solusi agenda perubahan.
Dari sinilah, bisa saja konsep self financing menemukan relevansinya—bukan sebagai komersialisasi berlebihan, tetapi sebagai kemandirian berbasis kapasitas keilmuan.
“Kampus tidak boleh lagi berjalan dengan cara lama. Business as usual justru menjadi risiko terbesar di era disrupsi.”
Hal-hal itulah yang oleh Prof JJ mesti dipahami dan diterima oleh siapapun termasuk alumni di luar sana.
Pola kepemimpinan ke depan, menurut Rektor Unhas, adalah membuka ruang seluas-luasnya untuk terhubung dengan pusat-pusat inspirasi dan inovasi.
Kampus harus berani keluar dari zona nyaman internal dan aktif membangun jejaring dengan dunia industri, pemerintah daerah, alumni, komunitas riset global, hingga sektor swasta yang memiliki visi keberlanjutan.
Dalam kerangka ini, evidence-based policy dan program menjadi kunci. Setiap kebijakan, program, dan kegiatan kampus harus berangkat dari data, riset, dan evaluasi yang terukur. Tanpa itu, universitas berisiko terjebak pada rutinitas administratif yang tidak menghasilkan dampak nyata.
“Program yang baik bukan yang ramai di awal, tetapi yang kuat datanya dan terasa dampaknya.”
Unhas, kata Prof JJ juga diharapkan tetap menjaga dan memperkuat dimensi maritim sebagai ciri dan keunggulan strategis.
”Kami ingin pemimpin di fakultas itu memang harus punya interpersonal yang baik, untuk mahasiswa, untuk alumni, untuk mitra mereka,” jelasnya.
Terkait pemanfaatan aset seperti tambak pendidikan, marine station, laboratorium pesisir, dan jejaring kelautan internasional, oleh Prof JJ memang harus dioptimalkan.
Baginya, maritim bukan sekadar identitas simbolik, melainkan ruang kolaborasi lintas disiplin yang bisa melahirkan inovasi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Karena itu, beliau menaruh harapan besar pada para pimpinan fakultas agar berani membuka ruang kolaborasi seluas dan sebanyak mungkin. Kolaborasi bukan lagi pilihan tambahan, tetapi prasyarat kepemimpinan akademik.
Kerja sama dengan alumni, pemerintah daerah, sektor swasta, dan pusat-pusat inovasi harus dirancang sebagai ekosistem, bukan hubungan transaksional jangka pendek.
Tantangan Unhas ke depan, sebagaimana disampaikan Rektor, bukan pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada kemampuan memanfaatkan sumber daya tersebut sebagai peluang investasi keilmuan, sosial, dan ekonomi.
Yang lebih penting dari semua itu adalah membangun Unhas yang mandiri—mandiri karena kapasitas SDM-nya telah matang, berani keluar dari godaan konflik internal, dan siap menghadapi tantangan yang lebih luas. “Kemandirian universitas tidak lahir dari gedung atau aset, tetapi dari keberanian SDM-nya untuk berpikir besar dan bekerja kolaboratif.”
Percakapan ini memberi pelajaran penting: kepemimpinan kampus di era kini menuntut ketegasan, keterbukaan, dan keberanian bertransformasi.
Universitas bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi ruang bersama untuk membangun masa depan—dengan data sebagai pijakan, kolaborasi sebagai strategi, dan integritas sebagai fondasi.
___
Denun, Tamarunang, 9 Februari 2-26
