Peneliti FIB Unhas, Amrullah Amir | Galesong, Simpul yang Hilang dalam Sejarah Maritim Nusantara

  • Whatsapp
Amrullah Amir, Ph.D, dosen dan peneliti sejarah kawasan timur Indonesia (kiri) dan Pendiri Balla Barakkaka ri Galesong Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto serta Dr Buyung Romadhoni (akademisi Unismuh Makassar)

Pesisir Galesong adalah bagian integral dari Makassar sebagai kota kosmopolitan—sebuah pelabuhan besar tempat perniagaan, mobilitas manusia, dan militerisasi maritim bertemu. Ia adalah salah satu penopang Makassar sebagai entrepôt utama dalam jaringan perdagangan internasional.

Amrullah Amir, Ph,D | Dosen dan Peneliti Sejarah Kawasan Timur Indonesia

PELAKITA.ID – Pernah dengar nama Galesong? Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya nama wilayah pesisir di Sulawesi Selatan—sekilas tampak biasa, sunyi, bahkan nyaris tak meninggalkan jejak di buku-buku sejarah nasional.

Bagi Amrullah Amir, Ph.D, dosen dan peneliti sejarah kawasan Timur Indonesia, Galesong justru menyimpan salah satu kunci terpenting untuk memahami sejarah maritim Nusantara.

“Kalau kita serius mengkaji sejarah maritim Indonesia, Galesong tidak bisa diabaikan,” ujarnya. “Masalahnya, wilayah-wilayah di selatan Sulawesi—terutama kawasan Makassar dan sekitarnya—sangat kurang dibahas secara mendalam dalam kajian sejarah.”

Hilangnya Galesong dari Panggung Sejarah

Amrullah mengungkapkan kegelisahannya saat membandingkan geliat pelestarian sejarah dan budaya di wilayah Bugis dengan kawasan Makassar.

Di satu sisi, kisah-kisah Bugis—terutama yang terkait dengan bangsawan dan diaspora—sering digaungkan lewat festival, ritual, dan kajian tahunan. Sementara itu, sejarah Makassar pasca-Perang Makassar 1669 seolah menghilang ditelan angin.

“Abad ke-17 itu Makassar terkenal sampai Eropa,” katanya. “Tapi setelah kalah perang, kisahnya seakan berhenti. Yang tersisa hanya cerita diaspora orang Makassar ke Jawa, Kalimantan, sampai Malaysia. Padahal warisan sejarahnya masih hidup sampai hari ini.”

Ketika Galesong disebut, ingatan kolektif publik hampir selalu berhenti pada Karaeng Galesong.

Seolah-olah Galesong berakhir sebagai nama tokoh, bukan sebagai wilayah maritim strategis yang terhubung erat dengan kejayaan Makassar pada abad ke-16 dan 17.

Galesong dan Kosmopolitanisme Makassar

Menurut Amrullah, pesisir Galesong adalah bagian integral dari Makassar sebagai kota kosmopolitan—sebuah pelabuhan besar tempat perniagaan, mobilitas manusia, dan militerisasi maritim bertemu.

Ia adalah salah satu penopang Makassar sebagai entrepôt utama dalam jaringan perdagangan internasional.

“Di abad ke-17 ada tiga ‘M’ yang sangat penting: Malaka, Makassar, dan Maluku,” jelasnya.
Malaka sebagai pintu masuk, Makassar sebagai simpul distribusi dan transit, serta Maluku sebagai pusat rempah-rempah.

Tanpa Makassar, jaringan rempah ini tidak akan berfungsi. Budak, kain, beras, logistik, dan jasa militer berputar di Makassar. Inilah sebabnya VOC mati-matian menaklukkan Makassar—karena menguasai Makassar berarti menguasai nadi perdagangan kawasan timur.

Namun ironisnya, dalam narasi besar sejarah rempah, Makassar sering “diloncati”. Fokus langsung tertuju ke Maluku dan Banda, sementara peran Makassar sebagai simpul utama nyaris tak dibicarakan.

Sejarah Lama, Data Baru

Salah satu kritik utama Amrullah adalah ketergantungan berlebihan pada literatur lama. Ia menaruh hormat pada para guru dan sejarawan terdahulu, tetapi mengingatkan bahwa keterbatasan akses arsip pada masa lalu membuat banyak kesimpulan bersifat hipotesis.

“Sekarang situasinya berbeda,” tegasnya. “Arsip British Library, Leiden, Jerman, sampai koleksi VOC bisa diakses. Tapi kita masih mengulang cerita lama.”

Ia mencontohkan mitos tentang Ujung Pandang yang disebut berasal dari “daun pandan”. Padahal, laporan Belanda—termasuk catatan Valentijn—menyebut jelas bahwa Fort Ujung Pandang berasal dari istilah uitkijk atau sudut pandang strategis, bukan tanaman pandan.

“Ini bukan soal menyalahkan guru-guru kita,” katanya. “Ini soal meluruskan sejarah berdasarkan data baru yang sekarang tersedia.”

Galesong sebagai Simpul Diaspora Bersenjata

Pasca-runtuhnya Makassar, terjadi eksodus besar elit militer dan bangsawan Makassar. Mereka berpindah ke wilayah pesisir Jawa, Kalimantan, hingga Semenanjung Melayu—mencari patron baru, jaringan dagang baru, dan ruang kekuasaan baru.

Dalam konteks ini, Galesong muncul sebagai simpul diaspora bersenjata. Para perantau Makassar bukan sekadar migran, melainkan aktor militer dan ekonomi.

Dalam sumber-sumber Jawa seperti Babad Trunajaya, mereka sering dilabeli “perampok”. Namun Amrullah menegaskan, praktik tersebut adalah pola kontrol wilayah yang lazim pada masa itu—bagian dari strategi militer dan ekonomi.

“Kita harus membaca istilah ‘perampok’ dalam konteks zamannya,” katanya.

“Itu bukan kriminalitas, tapi mekanisme penguasaan.”

Di sinilah posisi Karaeng Galesong menjadi penting—terkait langsung dengan Trunajaya, VOC, dan konflik kekuasaan regional.

Sejarah Lokal, Bukan Sejarah Seragam

Amrullah menolak gagasan sejarah nasional yang seragam. Dalam sebuah forum penyusunan buku Sejarah Nasional Indonesia, ia secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya.

“Yang kita butuhkan justru kajian sejarah lokal,” tegasnya. Karena dari sejarah lokal, masyarakat bisa saling memahami—bahkan perbedaan antar kampung, antar komunitas, dan antar etnis.

“Orang Makassar bukan satu,” katanya. “Begitu juga Bugis. Di dalamnya ada sejarah relasi, konflik, dan negosiasi yang kompleks.”

Galesong, Pluralisme, dan Ingatan Kolektif

Penelusuran Amrullah juga menunjukkan bahwa Galesong dan Takalar sejak lama adalah ruang pluralisme. Jejak Arab, Melayu, Bugis, Makassar, hingga Jawa saling berkelindan dalam nama, silsilah, dan tradisi.

Ia menyinggung figur-figur seperti Tuan Ince, hubungan dengan Syekh Yusuf, serta jaringan Melayu yang menguatkan bukti bahwa pesisir selatan Sulawesi adalah ruang perjumpaan lintas budaya.

Disertasinya tentang orang Melayu—yang terbit di Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia—menegaskan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan sejak abad ke-16 telah hidup dalam kosmopolitanisme dan keterbukaan budaya.

Menulis Kembali Galesong

Bagi Amrullah, tantangan terbesar bukan kekurangan data, melainkan kemauan dan mentalitas.

Ia mengusulkan agar pemerintah daerah tidak sekadar mengirim pejabat ke luar negeri, tetapi mengirim akademisi untuk tinggal berbulan-bulan di arsip-arsip dunia, menggali sumber sejarah yang bisa dihidupkan kembali untuk pendidikan, kebudayaan, bahkan pariwisata.

“Kalau tidak kita tulis sekarang, percuma kita hidup di era akses terbuka,” katanya. “Kita hanya akan mewarisi pengetahuan lama yang bias.”

Galesong, dalam pandangan Amrullah Amir, bukan wilayah pinggiran. Ia adalah simpul sejarah, tempat bertautnya maritim, diaspora, militer, perdagangan, dan pluralisme Nusantara. Yang hilang bukan jejaknya—melainkan keberanian kita untuk menuliskannya kembali.

Redaksi