Bangsawan yang Peduli | Galesong, Keberanian, dan Ingatan Maritim yang Tak Boleh Padam

  • Whatsapp
Pendiri Rumah Budaya dan Adat Balla Barakkaka ri Galesong, Prof Dr H. Aminuddin Salle, S.H, M,H Karaeng Patoto 9dok: Tommy Arga)

Kisah Manindori bukan sekadar cerita heroik, tetapi simpul ingatan lintas wilayah. Ia bahkan disebut berperan dalam membebaskan Sultan Cirebon dari cengkeraman kekuasaan yang kejam pada masanya. Tak heran jika memori tentang orang Galesong tetap hidup dalam ingatan masyarakat Cirebon hingga hari ini.

Prof Dr H. Aminuddin Salle, S.H, M.H

PELAKITA.ID – Galesong kembali dibicarakan bukan semata sebagai nama tempat, melainkan sebagai ruang sejarah, kebudayaan, dan keberanian. Dalam sebuah forum kebudayaan di Balla Barakka ri Galesong, Prof. H. Aminuddin Salle, S.H, M.H —budayawan dan penggagas ruang budaya tersebut—mengurai kisah panjang Galesong dengan cara yang personal, reflektif, sekaligus menggugah kesadaran kolektif.

Ia memulai dengan sebuah pengalaman intelektual yang mempertemukannya dengan Prof. Mahfud MD bertahun-tahun silam. Dari dialog dan bacaan atas sejumlah bukunya, tumbuh ketertarikan Prof. Mahfud pada Galesong.

Bagi Prof. Aminuddin, ketertarikan itu bukan sekadar penghormatan pribadi, tetapi penanda bahwa Galesong memiliki daya tarik intelektual yang melampaui batas etnis dan geografis.

Dalam forum tersebut, Prof. Aminuddin menguraikan konsep empat sifat kepemimpinan yang menurutnya bersifat kumulatif, bukan pilihan: jujur, cerdas, kaya, dan berani.

Kaya, dalam pengertiannya, bukan sekadar harta, tetapi kelimpahan gagasan dan keberpihakan pada kesejahteraan rakyat. Seorang pemimpin yang bergelimang materi, namun membiarkan rakyatnya miskin dan lapar, tak bisa disebut kaya dalam makna etis dan kebudayaan.

Namun dari keempat sifat itu, keberanian menjadi titik tekan yang paling kuat. Keberanian bukan hanya soal perang atau konfrontasi fisik, tetapi keberanian untuk mengakui kenyataan, menerima kekalahan, dan bertanggung jawab secara moral.

Ia mengkritik sikap-sikap yang menolak kenyataan dengan berbagai pembenaran, karena itu justru menegasikan makna keberanian itu sendiri.

Dalam konteks sejarah Galesong, nilai keberanian menemukan wujudnya pada figur Karaeng I Manindori Karaeng Tojeng.

Tokoh ini dikenang sebagai sosok yang menolak perjanjian-perjanjian yang dianggap merugikan dan memilih melanjutkan perlawanan hingga ke Jawa—ke Banten, Madura, bahkan terhubung dengan sejarah Cirebon.

Hubungan historis itu masih hidup hingga kini, ditandai dengan kedatangan utusan Kesultanan Cirebon dan peresmian kawasan adat dan budaya oleh Sultan Cirebon, Arif Natadiningrat, Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara.

Kisah Manindori bukan sekadar cerita heroik, tetapi simpul ingatan lintas wilayah. Ia bahkan disebut berperan dalam membebaskan Sultan Cirebon dari cengkeraman kekuasaan yang kejam pada masanya. Tak heran jika memori tentang orang Galesong tetap hidup dalam ingatan masyarakat Cirebon hingga hari ini.

Namun Prof. Aminuddin  juga mengajak hadirin untuk merefleksikan ulang makna bangsawan. Ia mengaku mengubah pandangannya: bangsawan tidak semestinya ditentukan oleh silsilah semata.

Bangsawan, baginya, adalah orang yang peduli pada bangsanya. Pahlawan memang berjuang hingga mati, tetapi bangsawan adalah mereka yang masih hidup dan terus bekerja untuk kepentingan masyarakatnya.

Dalam kerangka itulah ia menyebut sosok-sosok yang menulis, menghubungkan, dan menghidupkan Galesong—termasuk mereka yang bukan berdarah Galesong—sebagai bangsawan dalam makna kebudayaan. Kepedulian, kerja nyata, dan keberanian intelektual menjadi ukurannya.

Galesong sendiri, lanjut Prof. Aminuddin , sejak lama adalah bagian dari dunia maritim global. Orang-orang Galesong berlayar hingga Australia untuk menangkap teripang dan menjalin hubungan persahabatan dengan masyarakat Aborigin—bukan sebagai penjajah, melainkan mitra.

Hubungan itu bahkan melahirkan ikatan kultural dan kekeluargaan. Jejak-jejaknya masih hidup dalam nama, tungku, dan cerita yang tersebar antara Galesong dan kawasan utara Australia.

Ia menegaskan bahwa Galesong telah lama berhubungan darah dan dagang dengan berbagai bangsa—Cina, Rusia, Melayu—melalui jalur laut. Semua ini menunjukkan bahwa Galesong bukan ruang pinggiran, melainkan simpul penting dalam jaringan maritim Nusantara dan dunia.

Karena itulah, Prof. Aminuddin  menekankan pentingnya menarik generasi muda kembali ke sejarah dan kebudayaan mereka.

Gagasan tentang sekolah adat, budaya, dan konstitusi kembali dihidupkan—bukan sebagai sekolah formal dengan gedung megah, melainkan ruang belajar hidup, sebagaimana Sokrates mendidik murid-muridnya: berjalan, bertanya, membaca alam, bahasa, ukiran, dan simbol-simbol kebijaksanaan lokal.

Balla Barakka ri Galesong diproyeksikan sebagai pusat pembelajaran itu. Dengan homestay bagi peneliti, ruang dialog lintas budaya, ukiran pesan-pesan luhur, serta cerita-cerita heroik seperti Bungung Barania, tempat ini diharapkan menjadi ruang hidup kebudayaan—bukan museum yang beku.

Di akhir refleksinya, Prof. Aminuddin  menyampaikan kegelisahan sekaligus ajakan. Semakin sedikit orang yang peduli pada sejarah dan kebudayaan. Jika tidak dimulai sekarang, maka pertanyaan yang tersisa hanyalah: kapan?

Galesong, dengan seluruh kisah keberanian, pelayaran, dan nilai-nilainya, menunggu untuk terus diceritakan—bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai sumber etika, keberanian, dan arah bagi masa depan.

___
Editor Denun