Penulis : Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial
PELAKITA.ID – Setiap pagi, kita membuka pintu rumah dan meletakkan satu kantong plastik di sudut jalan. Isinya sisa kehidupan semalam: kulit bawang, bungkus makanan, botol air mineral, popok, kertas, dan bau yang ingin segera kita lupakan. Setelah itu, pintu ditutup. Kita merasa urusan selesai.
Namun, bagi bumi, justru di situlah segalanya dimulai.
Apa yang sesungguhnya terjadi setelah sampah keluar dari rumah? Ke mana ia pergi, dan apa yang ia tinggalkan di sepanjang perjalanannya? Pertanyaan ini jarang kita ajukan, sebab budaya modern mengajarkan satu hal: yang penting bersih di dalam, urusan di luar bukan tanggung jawab kita.
Padahal, di balik kantong sampah itulah tersembunyi krisis ekologis yang pelan-pelan membesar.
Pada tahun 2025, Indonesia menghadapi tantangan serius dengan timbulan sampah nasional yang diproyeksikan berada pada kisaran 56,6 hingga 71 juta ton per tahun. Lebih dari 60 persen berasal dari rumah tangga, menjadikan dapur, ruang makan, dan aktivitas konsumsi harian sebagai sumber terbesar persoalan lingkungan kita.
Dari sisi komposisi, sisa makanan mendominasi sekitar 40,79 persen, disusul sampah plastik sekitar 19,95 persen, kemudian kayu atau ranting, kertas, serta berbagai jenis limbah lain seperti logam, kain, dan kaca.
Produksi sampah plastik sendiri diperkirakan mencapai 12,4 juta ton per tahun, meningkat signifikan dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Sayangnya, kemampuan pengelolaan belum sebanding dengan laju produksi. Baru sekitar 39–40 persen sampah plastik yang berhasil dikelola dengan baik.
Pemerintah menargetkan pengelolaan 50–70 persen sampah nasional pada 2025, termasuk melalui percepatan teknologi waste-to-energy (WtE), namun tantangan utamanya tetap sama yaitu volume sampah rumah tangga yang sangat besar dan kebiasaan memilah yang belum menjadi budaya.
Sebagian besar sampah masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan sistem penimbunan. Di sana ia tidak benar-benar “selesai”.
Ia berubah menjadi lindi yang mencemari tanah dan air. Menjadi gas metana yang mempercepat pemanasan global, dan perlahan masuk kembali ke rantai kehidupan melalui udara, air, tanah, hingga pangan yang kita konsumsi. Sampah yang kita kira hilang ternyata tetap bekerja-mencemari, memanaskan bumi, dan merusak ekosistem.
Di titik inilah kita perlu jujur mengakui bahwa sampah bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cermin cara hidup.
Sampah dan Cara Kita Memahami Tanggung Jawab
Para pakar lingkungan berulang kali menegaskan bahwa krisis sampah bukan terutama akibat kurangnya teknologi, tetapi karena cara pandang manusia terhadap sisa kehidupan. Sampah diperlakukan sebagai sesuatu yang harus disingkirkan, bukan dikelola. Dipindahkan, bukan diselesaikan.
Dalam perspektif yang lebih dalam, sampah bahkan menyentuh dimensi etika dan spiritual. Cara kita memperlakukan sisa makanan, plastik, dan limbah rumah tangga mencerminkan relasi kita dengan alam. Apakah bumi kita pandang sebagai rumah bersama, atau sekadar tempat buangan raksasa?
Kita sering lupa bahwa tidak ada benda yang benar-benar hilang. Sampah hanya berpindah: dari rumah ke TPS, dari TPS ke TPA, dari darat ke sungai, dari sungai ke laut, lalu kembali ke tubuh makhluk hidup—termasuk tubuh kita sendiri.
TPS-3R: Menghentikan Perjalanan Panjang Sampah
Di tengah kenyataan itu, TPS-3R hadir sebagai upaya menghentikan perjalanan destruktif sampah sejak dari hulu. Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan sistem pengelolaan berbasis komunitas.
Prinsipnya sederhana namun mendasar bahwa sampah harus dikelola sedekat mungkin dengan sumbernya, yaitu rumah tangga. Bukan dipindahkan sejauh mungkin agar tak terlihat, tetapi dihadapi, dipilah, dan diolah bersama.
Berbagai kajian menunjukkan TPS-3R yang berjalan efektif mampu mengurangi volume sampah ke TPA hingga 30–50 persen. Ini bukan semata hasil teknologi, melainkan buah dari kesadaran kolektif: memilah, mengurangi, dan mengolah sejak awal.
TPS-3R mengingatkan kita bahwa krisis lingkungan tidak selalu membutuhkan solusi besar dan jauh. Sering kali ia membutuhkan kejujuran di ruang paling dekat—rumah kita sendiri.
Reduce, Reuse, Recycle: Etika Hidup yang Terlupakan?
Dalam praktik TPS-3R, filosofi 3R bukan jargon administratif, melainkan panduan etika hidup berkelanjutan.
Reduce berarti mengurangi sampah sejak dari sumber. Ini menantang budaya konsumsi berlebih—plastik sekali pakai, kemasan berlapis, barang cepat buang. Sampah terbaik adalah sampah yang tidak pernah lahir.
Reuse adalah penghargaan terhadap benda. Menggunakan kembali botol, wadah, dan kantong berarti memperpanjang umur material sekaligus memperlambat eksploitasi sumber daya alam.
Recycle membuka siklus baru. Sampah organik dapat kembali ke tanah sebagai kompos atau maggot. Sampah anorganik dipilah melalui bank sampah dan industri daur ulang. Bahkan minyak jelantah kini bisa menjadi produk bernilai. Sampah tidak lagi akhir, tetapi awal dari proses lain.
Rumah Tangga: Titik Nol Krisis dan Harapan
Tidak ada pengelolaan sampah tanpa rumah tangga yang sadar. Rumah adalah titik nol krisis sekaligus titik awal harapan. Di sanalah keputusan kecil dibuat setiap hari—dan justru keputusan kecil itulah yang menentukan arah besar.
Studi sosiologi lingkungan menunjukkan keberhasilan pengelolaan sampah berbasis komunitas sangat bergantung pada partisipasi warga. TPS-3R bukan sekadar proyek pemerintah atau fasilitas teknis, melainkan ruang belajar bersama.
Ketika warga mulai memilah dari rumah, beban TPA menurun, lingkungan menjadi lebih bersih, risiko penyakit berkurang, dan relasi sosial menguat. Gotong royong yang sempat terkikis oleh modernitas menemukan bentuk barunya—di sekitar upaya mengelola sampah bersama.
Lebih dari Lingkungan, Ini Soal Peradaban
Manfaat pengelolaan sampah memang nyata secara ekologis dan ekonomis. Namun makna terbesarnya terletak pada perubahan cara berpikir: dari membuang menjadi mengelola, dari memindahkan masalah menjadi menyelesaikannya bersama, dari hidup individualistis menuju kesadaran kolektif.
Apa yang terjadi setelah sampah keluar dari rumah, pada akhirnya, adalah soal pilihan peradaban. Apakah kita terus mewariskan gunungan sampah dan krisis ekologis kepada generasi berikutnya, atau mulai belajar merawat yang tersisa hari ini?
Dalam aktivitas sederhana memilah sampah, sesungguhnya kita sedang menata ulang relasi kita dengan bumi. Bahwa menjadi manusia bukan hanya soal mengambil, tetapi juga menjaga. Bahwa peradaban tidak diukur dari apa yang kita konsumsi, melainkan dari bagaimana kita bertanggung jawab atas sisa kehidupan yang kita hasilkan.
Dan semua itu—anehnya—bermula dari satu kantong sampah di depan rumah.
_____
Muliadi Saleh: ” Menulis Makna, Membangun Peradaban”
