Bagi saya Karaeng Galesong sangat pantas untuk diberi gelar Pahlawan Nasional, banyak catatan tersedia mengenai Karaeng Galesong
Amrullah Amir, Ph.D, Dosen dan Peneliti Sejrah Timur Indonesia, FIB Unhas
PELAKITA.ID – Galesong bukan sekadar wilayah pesisir di selatan Sulawesi Selatan. Ia adalah ruang sejarah, simpul kebudayaan, dan lanskap maritim yang menyimpan lapisan makna lintas zaman.
Hal itulah yang mengemuka dalam Seminar Tradisi dan Kebudayaan “Menyusuri Jejak Sejarah Galesong” yang digelar di Balla Barakka ri Galesong, Takalar, Sabtu (7/2/2026).
Kegiatan terlaksana atas dukungan PP IKA Unhas, IKA Unhas Takalar, Balla Barakkaka ri Galesong, DPP Garuda Astacita Nusantara dan Pelakita.ID
Dalam forum yang dimoderatori Rusdin Tompo, Koordinator Satu Pena Sulawesi Selatan yang berlangsung hangat dan dialogis tersebut, dihadiri dua pembicara utama yang manawarkan sudut pandang yang saling melengkapi:
Prof. Aminuddin Salle menelusuri Galesong dari sisi tradisi, kebudayaan, dan literasi nilai, sementara Dr. Amrullah Amir memaparkan posisi historis Galesong sebagai simpul penting dalam jaringan maritim Nusantara.
Sebelum seminar berlangsung, didahului pnejelasan tentang latar belakang seminar, yang disampaikan oleh Kamaruddin Azis, penyusun buku Semesta Galesong, Senarai Catatan Warga (Panyingkul, 2009) yang menjelaskan proyek penulisan buku yang dimaksudkan untuk menghimpun dimensi kehidupan di wilayah pesisir Galesong.
“Buku ini menggambarkan setidaknya tiga ruas jejak Galesong, sejarah terbentuknya, cara warga bertahan dan berkembang,” ucap founde Pelakita.ID.
Diberikan contoh beberapa bagian isi buku yang menjelaskan posisi Galesong sebagai bagian dari Kerajaan Gowa, berlokasi di pesisir dan punya rekam historis armada perikanan, warga bertahan dari aktivits agraris dan maritim, hingga dinamika penghidupan warga dan tantangan modernitas Galesong sejak dibukanya Jembatan Barombong.
“Posisi strategis Galesong saat ini dicirikan pada lokasinya berbatas Makassar, punya tiga kecamatan Galesong, Galesong Utara, dan Galesong Selatan, jika ada satu lagi Galesong Timur, bisa lain cerita,” katanya disambut gelak tawa peserta.
Galesong, Tradisi, dan Literasi Budaya
Sebagai pembicara pertama, Prof. Aminuddin Salle, Founder Balla Barakka ri Galesong, mengajak peserta melihat Galesong bukan hanya melalui kronologi peristiwa, melainkan melalui nilai-nilai budaya yang hidup dan membentuk cara pandang masyarakatnya.
Ia menyinggung filosofi Sulapa Appa—konsep kosmologi Bugis-Makassar tentang keseimbangan empat unsur—sebagai landasan berpikir yang tercermin dalam tata kehidupan sosial dan budaya masyarakat Galesong.
Dalam paparannya, Prof. Aminuddin juga mengulas figur Karaeng I Manindori Karaeng Tojeng, tokoh perlawanan yang jejak historisnya bahkan sampai ke Tana Jawa, menandakan bahwa resistensi dan mobilitas orang Galesong tidak pernah bersifat lokal semata.
Perlawanan, menurutnya, adalah bagian dari etos kultural yang lahir dari kesadaran akan martabat dan kedaulatan.
Guru Besar Hukum Agraria Unhas tersebut menekankan bahwa narasi besar tersebut tidak akan bermakna tanpa literasi sejarah dan kebudayaan yang terus dirawat. Masih banyak artefak, simbol, dan jejak sejarah Galesong yang tersisa dan sesungguhnya mampu menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda—jika dikelola sebagai ruang belajar yang terbuka dan inklusif.
Di titik inilah, Balla Barakka ri Galesong ditempatkan bukan hanya sebagai rumah budaya, tetapi sebagai ruang edukasi lintas disiplin, termasuk pendidikan hukum adat dan nilai-nilai sosial.
Meski menganggap pemberian gelaran Pahlawan Nasional Karaeng Galesong sangat pantas namun dikatakan pula hal tersebut bukanlah hal yang harus membatasi kreativitas dan penghargaan ke Karaeng Galesong sebagai sosok panutan dan rujukan bagi generasi muda. “Meskipun gelar Pahlawan Nasional itu belum ada,” ucapnya.
Prof. Aminuddin mendorong penyusunan agenda peningkatan literasi generasi muda secara berkelanjutan, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan Pemerintah Daerah Takalar dan berbagai pihak.
“Balla Barakka ini terbuka untuk siapa pun,” ujarnya, seraya mengundang masyarakat, komunitas, akademisi, dan lembaga untuk memanfaatkan ruang tersebut sebagai tempat diskusi, pertemuan, dan pembelajaran bersama tentang Galesong dan kebudayaannya.
Galesong dalam Peta Maritim Nusantara
Sesi berikutnya diisi oleh Dr. Amrullah Amir, peneliti Sejarah Indonesia Timur dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Ia menggeser lensa pembacaan ke konteks yang lebih luas, dengan menempatkan Galesong sebagai simpul strategis dalam jaringan maritim Nusantara pada masa lalu.
Menurut Amrullah, Galesong pernah memiliki posisi sentral sebagai kawasan maritim, termasuk sebagai lokasi pembuatan kapal. Hubungan historis antara Galesong dengan Makassar, serta Kerajaan Gowa–Tallo, menunjukkan bahwa wilayah ini terhubung erat dengan pusat-pusat kekuasaan dan perdagangan di Sulawesi Selatan.
Ia juga menekankan pentingnya memperkaya narasi sejarah dengan basis rujukan yang kuat. Sejumlah manuskrip dan arsip yang tersimpan di KITLV Leiden, Belanda, misalnya, dapat menjadi sumber alternatif untuk membaca sejarah Galesong, sekaligus melengkapi atau menguji klaim-klaim dan narasi yang selama ini berkembang tanpa dukungan data memadai.
Jejak perdagangan maritim, menurut Amrullah, juga terlihat dari diaspora Melayu yang hadir dalam berbagai lapisan masyarakat maritim pada masa lampau.
“Bagi saya Karaeng Galesong sangat pantas untuk diberi gelar Pahlawan Nasional, banyak catatan tersedia mengenai Karaeng Galesong,” ucap pria yang telah sampai di perpustakaan Leiden ini.
Pria yang akrab disapa Uto ini menyebut sejak jatuhnya Kerajaan Gowa-Tallo 1669 melalui perjanjian Bungaya, Karaeng Galesong melanjutkan perlawanan di lautan dan tanah Jawa.
Hal yang disebutnya sebagai peristiwa kerajaan yang memunculkan realitas lain tentang makna kesetiaan kerajaan kecil, relasi Gowa – Wajo, pengkhianatan dan di sisi lain ada bara perlawanan yang terus hidup.
Terkait posisi Galesong, Doktor Uto menyebut nama Galesong adalah nama lama yang sebangun dengan Gowa, Wajo, bahkan Maluku.
Ada ringkasan 3 M di eksistensi Galesong di linimasa sejarah, yaitu Mangkasara’ (Makassar), Melaka dan Maluku.
Bahkan, jelas doktor dari Universitas di Malaysia ini, sejumlah artefak peninggalan VOC di Belanda masih menggunakan penamaan yang berkaitan dengan wilayah-wilayah di Nusantara, menandakan pentingnya kawasan ini dalam imajinasi dan praktik kolonial.
Dalam kerangka yang lebih luas, Amrullah menegaskan bahwa Galesong berada pada jalur strategis perdagangan timur–barat, menjadikannya simpul pertemuan ekonomi, budaya, dan politik.
Membaca Galesong, dengan demikian, berarti membaca ulang sejarah maritim Indonesia dari pinggiran yang justru menentukan.
Merawat Ingatan, Menyusun Masa Depan
Diskusi yang terbangun dari dua perspektif ini menegaskan satu hal: Galesong tidak kekurangan sejarah, tetapi membutuhkan ruang bersama untuk merawat ingatan dan menyusunnya secara kritis.
Tradisi, artefak, manuskrip, dan narasi lokal perlu dipertemukan dengan kajian akademik agar sejarah tidak membeku sebagai romantisme masa lalu.
Seminar ini menjadi pengingat bahwa sejarah dan kebudayaan Galesong bukan hanya warisan, melainkan modal sosial dan intelektual untuk memahami masa kini serta merancang masa depan.
Selama ruang dialog seperti ini terus dibuka, Galesong akan tetap hidup—bukan sekadar sebagai nama tempat, tetapi sebagai pengetahuan yang bergerak dari generasi ke generasi.
Redaksi
