PELAKITA.ID – Di tengah cuaca tak menentu dan ekstrem, Penulis berkunjung ke dua pulau di Kabupaten Pangkep untuk melihat kondisi, status dan layanan untuk memberikan penerangan ke warga pulau.
Kunjungan dilakukan pada Kamis, 5 Februari 2026 di Pulau Sabangko dan Pulau Saugi.
Kedua pulau ini mendapat bantuan Proyek Nasional Kementerian ESDM pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terintegrasi. Di Sabangko berkapasitas 20 Kwp sementara di Pulau Saugi kapasitas 50 Kwp atau Kilowattpeak.
Kunjungan terakhir ke pulau itu dalam tahun 2019 saat bekerja untuk proyek GIZ Enacting.

Pelajaran dari 2 PLTS di Pangkep
Di Pulau Sabangko, PLTS tak lagi beroperasi atau tidak melayani Listrik untuk warga pulau sejak dua tahun lalu.
Menurut operator setempat Risman, ada masalah pada baterai yang tak lagi bisa menampung Listrik meski inverter masih baik.
“Butuh minimal anggaran 200 juta untuk pembelian baterai, untuk bisa mengoperasikan kembali PLTS ini, meski perlu pengecekan ulang lagi untuk fasilitas lainnya,” demikian penjelasan Risman saat ditemui Pelakita.ID
Sejak berdiri dalam tahun 2017, PLTS ini melayani rumah sebanyak 62 rumah di luar fasilitas umum seperti masjid dan sekolah. Selama itu pula warga membayar iuran bulanan Rp30 ribu untuk biaya operator.
“Semoga ada yang mau memperbaiki, agar bisa digunakan saat Ramadan,” ucap Risman.
Sementara itu, di Pulau Saugi, bantuan PLTS Pemerintah berkapasitas 50 Kwp masih berfungsi untuk layanan malam hari. Kalau siang, sebagain warga menggunakan Powersun bantuan PLN meski jumlahnya tidak melebihi 40 rumah atau Kepala Keluarga.
Saat ini manajemen PLTS di bawah kendali Pemerintah Desa termasuk untuk membiayai operator. Informasi yang diperoleh dari Ilham disebutkan, iuran yang dipunguti sebesar Rp. 35 ribu per rumah.




“Inimi yang bikin lama karena PLTS hanya digunakan untuk malam hari,” kata Ilham, warga Saugi kepada Pelakita.ID
Dengan kapasitas 50 Kwp, PLTS Saugi bisa bertahan di tengah semakin bertambahnyanya kebutuhan Listrik di pulau itu. Hadirnya Powersun dari PLN amat membantu meski warga tetap membeli token untuk operasinya.
“Selama ini kami terkendala kalau mau menggunakan blender dalam membuat kue,” kata Ibu Tia, warga Saugi.
Dia yang selama ini aktif memproduksi keripik bauran daging rajungan mengaku perlu dukungan listrik yang lebih besar. ”Saat ini ada 900 watt dari Powersun, dan 600 watt dari PLTS tapi belum bisa maksimal karena tidak 24 jam,” ucapnya.
Berdasarkan penggambaran di atas, jelas sekali bahwa untuk meningkatkan produktivitas nelayan atau peningkatan ekonomi warga pulau maka adanya layanan listrik maksimum bisa meningkatkana pendapatan mereka.

Jika listrik tersedia dan maksimal, mereka mestinya bisa memproduksi es dan menyimpan komoditi ekonomi seperti kepiting rajungan, ikan karang-karang hingga tenggiri.
Jika pemerintah mau meningkatkan pendapatan warga dan bisa mengentaskan kemiskinan di wilayah pesisir dan pulau-pulau maka layanan akses seperti pendidikan, kesehatan sarana transportasi laut meski ditingkatkan dan salah satu triggernya adalah tersedianya sumber daya listrik maksimum.
Apa yang bisa dilakukan ke depan?
Solusi pendinginan ikan menggunakan energi terbarukan dan tantangan proyek pengadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia merupakan dua hal yang perlu mendapat perhatian serius.
Di sejumlah negara, sistem pendingin ikan inovatif telah dikembangkan untuk nelayan, khususnya untuk yang one day fishing serta belum memiliki akses listrik memadai.
Pelakita.ID telah mendapat informasi tentang sistem dukungan untuk isu di atas dengan menggunakan panel surya dan baterai untuk mengoperasikan freezer yang menghasilkan ice pack berisi gel, bukan air, yang dapat mencapai suhu minus 40 derajat Celsius. Fasilitas pembuat es berbasis di pulau dan dioperasikan dengan tenaga surya.
Keunggulan sistem ini adalah tidak memerlukan bensin, tidak menghasilkan CO2, dan tidak membutuhkan biaya listrik, karena menggunakan energi terbarukan. Sistem ini juga dilengkapi dengan pemantauan suhu jarak jauh melalui wifi.
Menarik jika ada adopsi untuk pendekatan di atas, dan ada mitra yang berminat untuk ikut serta, seperti pedagang ikan atau perusahaan perikanan yang fokus pada peningkatan mutu komoditi seperti ikan karang, gurita hingga tuna.
Ide di atas tentu bukan hal mudah di tengah pelaksanaan sejumlah proyek PLTS pemerintah Indonesia, seperti yang dilaksanakan di Sulawesi Selatan, yang memang menghadapi tantangan.


Proyek ini bertujuan untuk menyediakan listrik bagi rumah tangga nelayan, dengan setiap rumah tangga mendapatkan daya sekitar 600 watt seperti terlaksana di Pulau Saugi dan Sabangko itu.
Isu keberlanjutan, transfer capacity dan dukungan pembiayaan usaha lokal masih mengemuka.
Sayangnya, daya PLTS tersebut hanya cukup untuk penerangan dan belum memenuhi harapan nelayan untuk mendukung kegiatan ekonomi seperti pembuatan es atau penggunaan kulkas.
Meskipun pemerintah berharap listrik ini dapat meningkatkan mata pencarian, keterbatasan daya membuat inisiatif ekonomi berskala kecil, seperti pembuatan keripik atau abon, menjadi satu-satunya yang dapat dilakukan. Proyek PLTS ini menggunakan baterai kering dan baterai lainnya sebagai penyimpan daya.
Penulis, Kamaruddin Azis, Founder Pelakita.ID
