PELAKITA.ID – SIDRAP, 30 Januari 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 115 sukses melaksanakan program kerja inovatif bertajuk “Pemanfaatan Bonggol Jagung sebagai Briket Berkualitas”.
Program yang berfokus pada hilirisasi limbah pertanian ini dilaksanakan secara interaktif di Desa Compong, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang, Jumat (30/1/2026).
Program tersebut merupakan program kerja individu yang dikoordinatori oleh Anugerah Ramadhan.
Meski bersifat individu, pelaksanaannya mendapat dukungan penuh serta kolaborasi aktif dari seluruh tim KKN-T Unhas Gelombang 115 di Desa Compong, yang terdiri atas Koordinator Desa Muhammad Fadel serta anggota Amelda Sari, Widyastuti Pasassa’, Indah Permata Sari, dan Muzkira Ade Tasiah. Sinergi tim ini memperkuat proses edukasi, mulai dari persiapan bahan baku hingga demonstrasi langsung kepada masyarakat.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Camat Pitu Riase, A. Mukti Ali, SE, M.Adm.Pemb., Kepala Desa Compong, Egy Sunardi Nurdin, S.Pd., M.Si., serta Koordinator Briket Desa Compong, Muhammad Resky.
Kehadiran jajaran pemerintah kecamatan dan desa tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya mahasiswa dalam menghadirkan solusi energi terbarukan berbasis potensi lokal yang melimpah.
Camat Pitu Riase, A. Mukti Ali, menyampaikan apresiasinya atas inovasi yang diinisiasi mahasiswa KKN-T Unhas.
Menurutnya, pemanfaatan bonggol jagung sebagai briket sangat relevan dengan kebutuhan desa.
“Kami sangat mengapresiasi langkah mahasiswa Unhas. Pemanfaatan limbah bonggol jagung ini tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah pertanian, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga Desa Compong,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa memaparkan secara rinci tahapan pengolahan bonggol jagung menjadi briket, mulai dari proses karbonisasi (pengarangan), penghalusan arang menjadi serbuk, hingga pencetakan briket menggunakan perekat alami.

Mahasiswa juga menampilkan contoh produk briket yang telah dikemas secara rapi sebagai gambaran produk siap jual, lengkap dengan kemasan informatif untuk memperlihatkan potensi usaha yang dapat dikembangkan masyarakat.
Anugerah Ramadhan menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari pengamatan terhadap siklus pertanian di Desa Compong, di mana bonggol jagung selama ini kerap menjadi limbah yang dibakar secara terbuka.
“Harapan saya, melalui edukasi ini, masyarakat Desa Compong tidak lagi melihat bonggol jagung sebagai sampah, melainkan sebagai aset ekonomi. Semoga ke depan desa ini dapat menjadi pelopor kemandirian energi di Kecamatan Pitu Riase melalui produksi briket yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Antusiasme warga tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Masyarakat tidak hanya menyimak pemaparan, tetapi juga mencoba langsung alat cetak briket sederhana serta mengamati hasil pembakaran. Briket bonggol jagung ini dinilai memiliki keunggulan berupa nyala api yang stabil dan rendah asap, sehingga berpotensi menjadi bahan bakar alternatif ramah lingkungan.
Kepala Desa Compong, Egy Sunardi Nurdin, menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa KKN-T Unhas. Ia menilai program tersebut sebagai terobosan yang sangat dibutuhkan karena memberikan dampak langsung terhadap aspek ekonomi dan lingkungan desa.
Senada dengan itu, Koordinator Briket Desa Compong menyatakan komitmennya untuk melanjutkan praktik pembuatan briket secara kolektif bersama warga.
Melalui program ini, mahasiswa KKN-T Unhas Gelombang 115 berharap Desa Compong mampu mengolah limbah pertaniannya menjadi produk energi hijau yang kompetitif dan berkelanjutan.
Kegiatan ditutup dengan sesi demonstrasi pembakaran briket untuk memperlihatkan daya tahan api, dilanjutkan dengan dokumentasi bersama jajaran pemerintah kecamatan, desa, dan seluruh tim pelaksana.
Sebagai tindak lanjut, Anugerah Ramadhan juga menyusun buku pedoman Pemanfaatan Bonggol Jagung sebagai Briket Berkualitas.
Buku tersebut memuat panduan teknis mulai dari proses karbonisasi, teknik penghancuran dan penyaringan material, komposisi perekat, hingga metode pencetakan dan pengeringan briket.
Pedoman ini diharapkan menjadi rujukan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Compong dalam mengolah limbah pertanian menjadi sumber energi alternatif bernilai ekonomi setelah program KKN berakhir.
Penulis: Amelda Sari, mahasiswa KKN-T Unhas Gelombang 115 di Desa Compong
