Desa Nikkel, Si’e Wisata dan Fitur yang Bikin Betah

  • Whatsapp
Di Desa Nikkel kita bisa bersua keindahan sumber daya alam, tradisi dan perempuan-perempuan tangguh dan ramah (dok: Pelakita.ID)

Jika kesempatan itu datang lagi, barangkali saya akan memboyong meja kecil, kursi camping dan kompor mini untuk menjerang air, menyeduh kopi hitam tanpa gula, di selasar si’e, sembari memandangi bahu Verbeek yang menggoda untuk dijamah. 

PELAKITA.ID – Sebagai tenaga pendukung Program PPM PT Vale di bawah payung organisasi The COMMIT Foundation, hampir setahun terakhir saya rutin berkunjung ke Desa Nikkel, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur.

Awalnya kunjungan ini bersifat profesional, terkait program pendampingan dan penguatan desa.

Perlahan, Desa Nikkel menjelma menjadi fitur ruang personal: tempat kerinduan tumbuh, sumber daya alam, manusia dan norma-norma sosial kemasyarakatan yang masih terjaga.

Ada setidaknya empat alasan yang membuat Desa Nikkel selalu ingin saya datangi kembali, dari kacamata seorang penulis, melingkupi dimensi norma, sumbe daya dan keorganisasian sosial itu.

Pertama, soal jarak dan rute. Dari pemondokan kami menuju jantung Desa Nikkel tidak terlalu jauh. Ia menjadi rute jogging yang menyehatkan jiwa dan raga.

Di sini terhampar persawahan, kebun, sungai, pohon-pohon besar dan masih bertahan. Ada rambutan, mangga hingga durian.

Melintasi perkampungan karyawan PT Vale di Pontada yang bersih dan tertata, menyeberangi kali kecil, lalu sedikit berbelok hingga mata dimanjakan oleh hamparan lapangan golf dan persawahan adalah nikmat keindahan yang tidak mudah ditemukan di kabupaten lain, apalagi kota seperti Makassar.

Juga misalnya kisah kami mencari mangga jatuh bareng kolega seperti Mardi, Enda, Darsam hingga La Gani.

Setiap langkah seolah menegaskan bahwa keindahan bisa hadir tanpa harus dibuat-buat.

Kedua, di Desa Nikkel sedang berlangsung proses pembangunan Lumbung Wisata Desa, sebuah program penggantian sie—lumbung padi tradisional milik warga—menjadi lumbung baru sebanyak 22 unit.

PT Vale hadir sebagai pendukung utama, baik melalui pendanaan maupun asistensi teknis. Program ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan ikhtiar menjaga warisan agraris agar tetap hidup dan relevan.

Ketiga, lumbung-lumbung itu sendiri adalah objek yang memesona.

Ditata dengan posisi yang tepat, dipercantik dengan aneka tanaman dan sentuhan warga, ia pantas disebut instagrammable.

Bagi seorang blogger, tentu ini surga visual. Namun lebih dari sekadar konten indah, lumbung-lumbung itu memancarkan cerita: tentang pangan, tradisi, dan martabat petani.

Suasana pertanggal 29 Januari 2026 (dok: Pelakita.ID)
Warga berterima kasih ke PT Vale karena telah menjadikan aset si’e mereka dalam wujud baru dan enak dipandang mata, Mereka kini menyimpan masa depan mereka di si’e tersebut. (dok: Pelakita.ID)

Keempat, dimensi Desa Nikkel adalah dimensi agraris yang masih terjaga harmoninya.

Seorang kawan dari pihak eksternal PT Vale pernah berujar, “Sepertinya hanya PT Vale yang masih mempertahankan lahan sawah agar tetap eksis di tengah deru pertambangan.”

Di Nikkel, pernyataan itu terasa nyata. Sawah tetap terbentang, belut masih diburu, Danau Matano memantulkan cahaya dari pinggiran desa, dan pegunungan Verbeek berdiri megah—fenomenal sekaligus historis.

Hal yang juga tak dilupakan adalah penerimaan warga, terutama ibu-ibu desa. Beberapa kali kami dijamu makan siang, menyeruput teh atau kopi plus pisang goreng.

Di balik semua lanskap itu, ternyata masih tersimpan keramahtamahan.

Saya kerap berjumpa dengan ibu-ibu yang menunggu sie mereka dibangun. Ada perempuan kepala rumah tangga tunggal, ada pula yang bertani bersama suaminya.

Dari obrolan sederhana di bawah terik matahari atau di pinggir sawah, mereka mengaku senang.

Bukan semata karena lumbung baru, tetapi karena merasa diperhatikan—oleh PT Vale dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur—dalam menjaga aset mereka dengan sentuhan tradisi dan kebudayaan.

Perempuan-perempuan desa di Nikkel tidak merasa malu menjadi petani, meski sebagian generasi muda memilih bekerja di sektor pertambangan. Mereka justru bangga.

Dalam puluhan kunjungan saya ke Nikkel—baik sengaja maupun sekadar melintas—saya menyaksikan sendiri perempuan yang menyiangi sawah, membersihkan gulma, menanam padi, bahkan ikut gesit saat panen menggunakan combine.

Sehat dan bahagia selalu ibu-ibu panutan (dok: Pelakita.ID)

Mereka ikut mengangkat dan memasukkan gabah, dari sawah hingga ke sie. Tidak ada romantisasi berlebihan, hanya kerja nyata yang sunyi namun menentukan.

Membaca denyut Desa Nikkel, imajinasi saya melangkah lebih jauh.

Terbayang sebuah kolaborasi lanjutan antara pengembangan produksi pertanian, pariwisata desa, hingga rekreasi para golfer yang singgah ke Lumbung Wisata untuk sekadar berswafoto—selfie atau welfie. Sebuah perjumpaan lintas dunia: agraris, wisata, dan industri.

Seperti yang disampaikan Camat Nuha, Arief Fadillah Amir, peluang itu sangat mungkin terwujud. Desa Nikkel berpotensi menjadi model kolaborasi wisata lumbung dan tani sawah yang dinikmati pelancong hingga golfer.

Disambut Om Mandagi (dok: Pelakita.ID)

Kepala Desa Nikkel, Muth’im, pun tak kalah optimistis. “Kami senang sekali dengan adanya Lumbung Wisata ini. Kami sudah memiliki Kelompok Sadar Wisata, apalagi ada BUMDes. Ke depan, semua ini bisa kita tata bersama,” ujarnya.

Pada akhirnya, kerinduan saya pada Desa Nikkel bermuara pada satu hal: partisipasi perempuan desa dalam membangun daerah mereka.

Mereka adalah penjaga ritme kehidupan agraris, perawat tradisi, sekaligus penyangga ketahanan pangan.

Dalam kesederhanaan dan keteguhan mereka, saya menemukan alasan mengapa partisipasi ibu-ibu atau wanita secara keseluruhan selalu dirindukan—bukan hanya oleh penulis, tetapi oleh masa depan itu sendiri.

___
Sorowako, 31 Januari 2026