Rustan Rewa: Prof. JJ Terbuka pada Kritik, Alumni Jangan Biarkan Rektor Bekerja Sendiri

  • Whatsapp
Prof JJ dan Rustan Rewa, bertemunya dua anak tentara (dok: Pelakita.ID)

Prof. JJ tidak alergi kritik dan memahami bahwa masukan—selama disampaikan dengan cara yang baik—adalah bagian dari budaya intelektual. Ia bahkan mengaitkan hal ini dengan kearifan budaya Bugis-Makassar, yang mengajarkan etika memberi nasihat kepada pemimpin secara santun dan bermartabat.

H. Rustan Rewa, Asisten 3 Pemda Tolitoli

PELAKITA.ID – Terpilihnya kembali Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, M.Sc. sebagai Rektor Universitas Hasanuddin untuk periode kedua disambut dengan antusias oleh berbagai kalangan, termasuk alumni.

Salah satu suara yang mengemuka datang dari Rustan Rewa, tokoh alumni Unhas di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, sekaligus praktisi pemerintahan, yang menyampaikan ucapan selamat sekaligus testimoni reflektif atas kepemimpinan Prof. JJ selama ini.

“Atas nama pribadi dan sebagai alumni, tentu yang pertama kita sampaikan adalah selamat. Ini bukan proses biasa, ini hasil dari kerja, rekam jejak, dan kepercayaan,” ujar Rustan Rewa, Asisten III Pemda Tolitoli.

Menuru alumni Pertanian Unhas inia, hasil pemilihan tersebut mencerminkan bahwa kepemimpinan Prof. JJ diterima luas, tidak hanya di lingkungan internal kampus, tetapi juga oleh alumni dan para pemangku kepentingan.

Rustan menilai, selama memimpin Unhas, Prof. JJ telah menunjukkan peran nyata dalam menghubungkan kampus dengan pembangunan daerah.

Sejumlah inisiatif dan aktivitas Unhas di berbagai wilayah—mulai dari Sulawesi Selatan hingga daerah lain—menjadi bukti bahwa universitas tidak berjalan sendiri, tetapi hadir di tengah masyarakat.

“Kalau kita lihat, hampir di setiap kabupaten ada jejak aktivitas Unhas. Itu penting,” katanya.

Namun demikian, Rustan Rewa menekankan bahwa kepemimpinan yang sehat tidak dibangun dari pujian semata.

“Kalau pemimpin hanya dipuji, justru itu berbahaya. Kritik itu perlu. Tidak ada manusia paripurna, kita ini bukan malaikat,” ujarnya lugas. Ia menilai Prof. JJ adalah sosok yang mau mendengar dan membuka ruang masukan, sebuah kualitas penting bagi pemimpin perguruan tinggi besar seperti Unhas.

Pengalaman silaturahmi langsung dengan Prof. JJ memperkuat kesan tersebut.

Menurut Rustan, Prof. JJ tidak alergi kritik dan memahami bahwa masukan—selama disampaikan dengan cara yang baik—adalah bagian dari budaya intelektual. Ia bahkan mengaitkan hal ini dengan kearifan budaya Bugis-Makassar, yang mengajarkan etika memberi nasihat kepada pemimpin secara santun dan bermartabat.

Dalam konteks hubungan dengan alumni dan mahasiswa, Rustan Rewa mengingatkan pentingnya sikap proaktif. Ia menilai bahwa konektivitas alumni lintas wilayah dan dinamika organisasi mahasiswa seperti BEM tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pimpinan kampus.

“Alumni yang di luar kampus justru harus lebih aktif mendekat ke almamater, bukan menunggu difasilitasi terus,” ujarnya.

Soal mahasiswa, Rustan menilai bahwa zaman telah berubah. Dinamika organisasi kemahasiswaan hari ini tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan kondisi 30 tahun lalu.

Yang terpenting, menurutnya, adalah menciptakan ruang dan iklim yang memungkinkan inisiatif tumbuh dari dalam, tanpa paksaan, namun juga tanpa pembatasan yang berlebihan.

Melihat antusiasme besar alumni di berbagai grup dan jaringan—mulai dari IKA departemen, fakultas, wilayah, hingga pusat—Rustan Rewa melihat adanya momentum besar yang harus segera ditangkap.

“Jangan biarkan Prof. JJ bekerja sendiri. Semua alumni, baik di dalam maupun di luar, mari tertuju membantu beliau,” tegasnya.

Ia optimistis, karena ini bukan “rektor baru sepenuhnya”, melainkan “rektor lama dengan mandat baru”. Artinya, sinkronisasi program dan kolaborasi akan lebih mudah dilakukan. Apalagi Unhas kini berstatus PTNBH, yang membuka ruang lebih luas untuk inovasi kelembagaan, meski detail implementasinya tetap menjadi ranah kepemimpinan rektor.

Menutup pernyataannya, Rustan Rewa menyampaikan harapan sederhana namun bermakna. “Sekecil apa pun peran kita sebagai alumni, minimal kita doakan. Itu bukti kasih. Dan insyaallah, kepemimpinan Prof. JJ di periode kedua ini membawa Unhas semakin kuat, inklusif, dan berdampak.”

Ucapan selamat dan testimoni ini menjadi cerminan harapan alumni: Unhas yang dipimpin dengan keterbukaan, didukung kolaborasi, dan terus relevan bagi masyarakat, daerah, dan Indonesia.

Redaksi