Implikasi kebijakan ini, kata Farid, sangat nyata karena secara langsung mendorong aktivitas riset dan penelitian di lingkungan Unhas. Karena itu, pada periode kedua, ia berharap dorongan terhadap riset dan publikasi internasional tidak hanya dipertahankan, tetapi ditingkatkan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
PELAKITA.ID – Terpilihnya kembali Prof. JJ sebagai Rektor Universitas Hasanuddin untuk periode kedua membawa harapan baru bagi penguatan posisi Unhas di tingkat nasional dan internasional.
Harapan tersebut disampaikan oleh alumni Unhas dari Departemen Komunikasi Fisip, Farid Ma’ruf Ibrahim, yang saat ini bermukim di Melbourne, Australia.
Menurut Farid, terdapat dua isu utama yang patut menjadi perhatian kepemimpinan Prof. JJ dalam empat tahun ke depan.
Pertama, konsistensi dan pendalaman agenda internasionalisasi Universitas Hasanuddin. Kedua, pendekatan yang lebih kontekstual dan dewasa terhadap dinamika kelembagaan kemahasiswaan di tingkat universitas.

Internasionalisasi yang Semakin Terbuka
Farid menilai, pada periode pertama kepemimpinan Prof. JJ, eksposur internasional Unhas meningkat secara signifikan. Jejak kerja sama dan kehadiran Unhas semakin terasa di berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Australia.
Menurutnya, eksposur semacam ini sangat penting bagi universitas di Indonesia.
“Internasionalisasi akan membuka banyak pintu—mulai dari peluang akademisi, jejaring insan kampus, hingga peluang pertukaran pengalaman antaruniversitas,” ujar Farid.
Ia mencatat bahwa Prof. JJ bersama tim pimpinan universitas, termasuk Prof. Adi Maulana dan jajaran wakil rektor, cukup aktif menjalin nota kesepahaman (MoU) dan kerja sama akademik dengan berbagai universitas di Australia, Jepang, dan Amerika Serikat.
Pada periode kedua ini, Farid berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, melainkan ditindaklanjuti secara lebih konkret.
Ia mendorong agar kesempatan internasional benar-benar dirasakan oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, melalui program pertukaran, kolaborasi riset, serta pengalaman akademik lintas negara.
“Kalau memungkinkan, jangkauan negara mitra perlu diperluas lagi pada periode kedua Prof. JJ,” tambahnya.
Publikasi Internasional dan Dorongan Riset
Farid juga menyoroti capaian Unhas dalam mendorong publikasi internasional. Menurutnya, pada periode pertama, Unhas cukup gencar memacu publikasi di jurnal dan penerbitan yang terstandar internasional.
Implikasi kebijakan ini, kata Farid, sangat nyata karena secara langsung mendorong aktivitas riset dan penelitian di lingkungan Unhas. Karena itu, pada periode kedua, ia berharap dorongan terhadap riset dan publikasi internasional tidak hanya dipertahankan, tetapi ditingkatkan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Soal Lembaga Kemahasiswaan: Jangan Memaksakan Masa Lalu
Isu kedua yang disoroti Farid adalah absennya lembaga kemahasiswaan di tingkat universitas dalam beberapa tahun terakhir. Isu ini, menurutnya, kerap dinilai secara normatif tanpa melihat konteks kebutuhan mahasiswa hari ini.
Farid menekankan bahwa persoalan tersebut seharusnya dilihat dari keinginan dan kebutuhan mahasiswa itu sendiri, bukan dari dorongan pihak luar atau romantisme masa lalu.
“Jika memang ada inisiatif kuat dari mahasiswa, tentu saya berharap pimpinan Unhas, termasuk Prof. JJ dan tim, tidak menghalangi. Namun jika tidak ada, jangan pula dipaksakan,” tegasnya.
Ia secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pandangan yang menganggap kampus menjadi ‘kurang’ hanya karena tidak memiliki lembaga kemahasiswaan tertentu.
Bagi Farid, perspektif tersebut berisiko memaksakan pola lama kepada generasi mahasiswa yang memiliki karakter, tipologi, dan cara berorganisasi yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.
“Jangan sampai ide ini justru datang dari senior atau kelembagaan lama, seolah-olah masa lalu harus diulang. Generasi mahasiswa hari ini hidup dalam konteks yang sangat berbeda,” ujar suami mendiang tokoh perempuan alumni Unhas Lily Yualinti Farid ini.
Menatap Kepemimpinan Periode Kedua
Dari Melbourne, Farid Ma’ruf Ibrahim menyampaikan harapan agar periode kedua kepemimpinan Prof. JJ menjadi fase pendalaman dan pematangan: memperkuat internasionalisasi yang telah berjalan, memperluas kesempatan global bagi sivitas akademika, serta menjaga kampus tetap adaptif terhadap perubahan generasi mahasiswa.
Baginya, kepemimpinan universitas bukan soal mengulang tradisi, melainkan membaca zaman dan menyiapkan masa depan.
Salam dari Melbourne.
___
Editor Denun
